0

Digusur

Nek Minah sudah setengah jam duduk di teras rumah. Ditatapnya langit mendung di atas sana. Hujan barangkali akan turun sebentar lagi. Membanjiri sawah-sawah di sebelah rumah, mengairi parit yang juga tak jauh dari sana. Usia senja tak semestinya membuat Nek Minah banyak berpikir, tapi kenyataan bahwa sebentar lagi sawah-sawah beserta rumahnya akan segera digusur, membuat otaknya justru semakin sibuk.

Tanah itu memang milik Nek Minah, namun mereka rampas paksa untuk dijadikan bangunan yang hanya menguntungkan bagi orang-orang kota. Nek Minah tidak sendiri. Ada puluhan kepala lain yang diperkosa hak-haknya oleh penguasa daerah. Mereka kalah. Usaha mereka untuk memperjuangkannya berakhir sudah. Sejak berita keputusan itu tiba di telinga Nek Minah dua jam lalu, wajahnya memucat dan tatapannya begitu kosong. Barangkali ia terkejut. Barangkali ia sedih.

Ditatapnya langit mendung di atas sana. Hujan belum juga turun dari langit, tapi hujan di hati Nek Minah sudah turun sangat deras sedari tadi. Lelah menatap langit, ia kemudian berbaring di teras yang sejak 30 menit lalu ia duduki. Hembus napasnya kini lebih teratur. Pelan. Pelan. Pelan. Sampai akhirnya tak ada lagi napas yang ia hembuskan.

Iklan
0

Tua-Tua

Ponsel di saku berdering ketika aku sedang menyapu halaman rumah kakek. Daun-daun kering pohon nangka berserakan bersama beberapa sisa bungkus makanan ringan yang dibuang tidak pada rumahnya. Tidak sedang ingin berbicara, kumatikan telepon dari seseorang di seberang sana. Ada dua alasan mengapa aku sedang tidak ingin berbicara. Pertama, aku memikirkan sikap kakek. Kedua, sikap kakek memaksaku untuk terus memikirkannya. Aku heran, mengapa semakin tua, manusia justru semakin terlihat seperti anak kecil? Kakek semakin bawel dan egois.

Kemarin aku bertengkar kecil dengannya perihal siapa yang akan memberi makan Luki, anjing kami. Luki harus diberi makan pukul 09.00 pagi setiap hari menurut kakek. Kau tentu tahu, aku sedang belajar di sekolah pada jam tersebut, tetapi ia menyuruhku pulang hanya untuk memberi seekor anjing kampung beberapa sosis untuk sarapan. Gila! Kakek masih sehat, umurnya belum genap 70, tapi mengapa harus aku yang melakukannya?

Di lain hari, ia bertingkah layaknya anak muda. Tante Ridah, tetangga kami yang baru saja menyandang gelar janda ditinggal mati, diajaknya bercinta di kebun pisang. Kalau saja warga tak mengingat bahwa kakek adalah mantan kepala desa, mungkin kini namanya hanya berupa batu nisan. Kesal aku. Umur tua itu memang pasti, tapi dewasa adalah pilihan. Tua itu dekat dengan mati, mbok ya dekatkan diri dengan Yang Maha Pemberi. Bukannya malah menjadi-jadi… Dasar tua-tua keladi!

Obrolan
0

Resolusi Tahun Baru

“Bu, besok tahun baru, ya?”
“Mungkin, kita tidak punya kalender.”
“Iya, Bu. Mereka membeli terompet dan bersiap menunggu pergantian tahun nanti malam.”
“Kamu mau apa, Nak? Ibu dengar setiap pergantian tahun, orang-orang membuat resolusi.”
“Aku tahu, Bu. Resolusi adalah target dan harapan, bukan? Bagiku, resolusi tak harus di awal tahun. Apalagi hanya sekadar keinginan tanpa perwujudan. Resolusi sebetulnya hanyalah repetisi. Tahun ini gagal, diulang kembali tahun depan. Begitu saja seterusnya.”
“Memang kalau gagal kenapa?”
“Tak apa, Bu. Hanya komitmennya tidak penuh. Buat apa? Ibu sendiri punya resolusi?”
“Hmm. Ibu ingin kaya.”

“Sepertinya Ibu sudah menginginkan itu sejak delapan tahun yang lalu.”
“Yang benar?”
“Benar, Bu. Setelah rumah kita digusur dan uang hasil gusuran dibawa kabur Bapak untuk menikah dengan penyanyi dangdut keliling, kita tidak pernah hidup enak dan Ibu selalu ingin menjadi orang kaya.”
“Oh, Ibu tahu harus apa di tahun baru nanti!”
“Apa?”
“Mengikuti cara penyanyi dangdut itu mendapatkan lelaki.”

0

Kiamat

“Loh, di Gurun Sahara ada salju?”
“Mau kiamat tuh.”
“Kata siapa? Efek global warming kali.”
“Kata siapa ya? Coba nanti aku tanya guruku dulu.”

Di tenda nasi goreng sebelah terminal ini, Cara membuka obrolan dengan pertanyaan yang nampak serius baginya. Setelah bungkam beberapa jam, setelah berdebat tentang Katolik dan Protestan itu tidak sama dengan NU dan Muhammadiyah, akhirnya ia bersuara juga.

“Kau percaya kiamat, Ca?”
“Hmm. Percaya.”
“Berarti benar, kan? Sapardi itu bohong.”
“Tentang?”
“Bukan waktu yang fana, melainkan dunia. Bukan kita yang abadi, melainkan akhirat. Itu kalau kau percaya ada kehidupan setelah mati.”
“Aku percaya.”
“Percaya apa?”
“Percaya bahwa kita-aku dan kamu, tidak akan abadi bahkan sebelum kiamat itu datang, sayang.”

0

Lelaki Payah

“Jadi, kapan kamu ngelamar kerja lagi? Aku hitung, ya. Kamu sudah 23 kali gagal dalam wawancara. Kebanyakan karena kamu nggak pandai mengungkapkan kalau kamu itu bisa. Kamu itu sebenarnya keren, hanya kurang ditempa saja. Jadi laki-laki kok payah sih, kamu.”

Ini kali ke-721 ia menasehatiku perihal pekerjaan. Lebih tepatnya, ia sedang memarahi lelaki payah di hadapannya, yang tidak lain adalah aku. Ia seringkali tiba-tiba hadir di depanku. Bibir mungilnya senang menceritakan apa pun yang ia lihat dan rasakan tanpa aku persilakan terlebih dahulu. Ia adalah perempuan cerewet dan pandai bergaul. Sementara aku adalah laki-laki yang lebih memihak kepada tinta pena ketimbang suara. Aku pun bingung. Bisa-bisanya kami berteman.

“Tika, aku memang nggak pernah serius untuk cari kerja. Aku nggak suka kerja kantoran. Aku akan dipaksa untuk menuruti perintah bos. Untuk menuruti perintah Tuhan saja seringkali aku masih lalai. Masa aku juga harus tunduk pada bos.”

“Dasar aneh! Memangnya siapa yang beri kamu uang kalau bukan bos? Tuhanmu? Mana? Mana tangan Tuhan yang kamu sebut-sebut itu?

Ah, Tika. Ini yang aku benci darinya. Sedari dulu ia tidak pernah percaya dengan konsep ketuhanan. Lagi-lagi aku bingung. Bisa-bisanya kami berteman.

“Kalau kamu mau mendukungku dengan caramu, aku terima. Tapi jangan kamu remehkan Tuhan, jangan kau ajak aku untuk menuhankan manusia.”

Terlanjur kesal, kutinggalkan ia di teras kost bersama kopi yang belum sempat kuminum. Aku berjalan lima meter dari bangku panjang tempat kami berdua duduk, tapi suaranya yang mirip kaset rusak itu tak lagi kudengar. Ia mungkin terdiam sendiri. Entah sedang menahan kesal atau sedang berusaha memahami apa yang kumaksud.

Aku lalu berjalan menyusuri komplek. Ada pedagang soto yang pengunjungnya sangat ramai. Ada pegadang cilok dengan wajah kelelahan. Ada pedagang es cincau yang tampak dagangannya belum juga laku terjual sedari tadi. Ada empat anak SD sedang bermain sepeda dengan canda tawa khas anak-anak. Ada induk kucing dengan empat ekor anaknya di pinggir selokan. Dari semua keramaian ini, mengapa aku tetap merasa kosong dan sepi?

Senja mulai datang mengetuk pintu langit Jakarta. Aku kembali menuju kost dengan pikiran yang tak juga membaik. Tak kulihat perempuan cerewet berambut pirang itu di teras kost sana. Di bangku panjang itu hanya tersisa dua gelas kopi. Yang satu masih utuh. Yang satunya lagi setengah kosong. Keduanya sama-sama telah dingin. Keduanya sama-sama dilingkari pasukan semut.

Aku kembali termenung di lantai kamar sempit yang kubayar setiap bulan ini. Aku iseng mengecek ponsel. Ada pesan, rupanya. Dari Tika.

“Terima kasih. Aku berhenti mengganggu hidupmu. Semoga hari-harimu selalu menyenangkan. Love, Tika.”

Ah, Tika. Akhirnya ia menyerah setelah satu tahun kami bertukar cerita, meski yang sebenarnya terjadi adalah ia pencerita dan aku pendengar yang baik. Tidak apa. Ia selalu istimewa. Aku ingat kali pertama berkenalan dengannya. Tentu bukan aku yang memulai. Aku tak sengaja menatapnya dalam keramaian di sebuah acara sosial. Ia menangkapku. Kedua bola mataku yang terlanjur malu berlari ke arah yang lain. Bukannya memahami aku yang salah tingkah, ia malah tersenyum, mendekat, dan mengajakku berkenalan. Katanya, aku ini lucu. Harusnya aku yang menganggapnya lucu. Berani-beraninya ia mendekati lelaki yang tak sengaja menatapnya.

Aku ingin jujur. Aku menyukai matanya yang kecoklatan dan bersinar saat ia bercerita di hadapanku. Baru sebulan ini aku berani menatap kedua matanya. Baru sebulan ini pula aku menyadari bahwa ia satu-satunya orang, atau kalau boleh kusebut malaikat, yang selalu mendukungku di kala semua keluarga dan teman menjauh. Aku menyukai apa pun dari dirinya, meskipun kami berbeda. Aku monotheis, ia atheis. Aku pemalu, ia lebih banyak membuatku tersipu malu. Aku dan ia bagai langit dan laut. Asin dan manis. Hitam dan putih. Iya dan tidak.

Setelah berpikir panjang, mengetik, lalu dihapus, aku tinggalkan semua perasaan negatif pada diriku. Aku membalas pesan darinya.

“Tika, aku nggak mau melamar kerja lagi. Aku mau melamar kamu…”

0

Di Peron

Tak lagi kutemukan ia di sana. Di peron stasiun menuju utara, menunggu kereta mengantar ke tempatnya bekerja. Aku tidak tahu siapa dirinya. Aku hanya tahu pada pukul berapa ia akan sampai di stasiun tempatnya menunggu. Beberapa kali kulihat ia datang lebih awal. Tak jarang pula kutemukan ia berlari menyamai laju sang ular besi. Tas merk Bodypack berwarna hitam, jaket biru dongker, jam tangan hitam, dan ponsel putih adalah ciri-ciri yang aku hafalkan. Wajahnya yang tergolong pasaran membuatku harus menghafalkan barang-barang yang ia kenakan setiap harinya. Sebagai laki-laki, ia tidak terlalu tinggi. Hanya sekitar 5.5 cm lebih tinggi dariku. Aku suka memperhatikannya setiap pagi. Entah kenapa. Bertemu dengannya adalah candu, meski aku tidak tahu apa gunanya. Aku hanya menemukan keasyikan saat berhasil melihatnya dari sekian banyak orang yang menunggu di peron. Ya, semacam permainan. Ada hari di mana aku bertemu dengannya, ada pula ia tidak terlihat sehari dua hari. Kalau aku menemukannya, aku menang. Kalau ia tak ada, aku kalah. Bagiku ini mengasyikan. Seperti menebak ada dan tidak berdasarkan jumlah suara ‘tokek’. Bukan, aku tidak jatuh hati apalagi cinta. Mana bisa.

Kini permainan itu telah berakhir. Aku kalah. Tak lagi nampak lelaki itu di depan mataku. Aku mendengar petugas cleaning service bercerita pada petugas keamanan bahwa tiga minggu yang lalu, tak jauh dari stasiun ada seorang lelaki yang merelakan tubuhnya ditabrak kereta. Lelaki itu mengenakan jaket biru dongker, jam tangan hitam, dan tas merk Bodypack berwarna hitam. Lima meter dari tubuh lelaki yang telah menjadi mayat itu ditemukan sebuah ponsel putih yang terus menerus berdering.

0

Media Sosial yang Menjadikan Saya Tidak Normal…

Saya baru saja mencopot aplikasi Instagram di ponsel pintar yang kepintarannya melebihi kucing-kucing saya di rumah, setelah beberapa menit sebelumnya mengunggah sebuat foto. Bukan apa-apa sih, tidak ada masalah pula dengan foto itu. Saya cuma bosan. Bosan yang sesaat, bisa jadi. Beberapa teman mungkin sudah paham dengan kebiasaan saya yang sering dianggap sebagai perbuatan anak labil ini. Lepas aplikasi Instagram, pasang aplikasi Path. Bosan dengan Path, lepas lagi. Lepas-pasang-lepas-pasang. Begitu aja terus.

Saya cuma lelah. Begitu. Kalau menurut salah satu teman saya, seorang ambivert dan penganut netralisme (?), tidak perlu pakai media sosial kalau cuma bikin granda-grundu. Terlebih, mungkin saya orang kedua dalam grup WhatsApp dengan judul Part of Jiref itu yang sering berisik, nyinyir ini-itu, kritik tidak jelas, serta sering mengangkat pembicaraan-pembicaraan tidak penting. Entah sejak kapan prinsip saya berubah. Dari seseorang yang senang mengambil aman dan tidak mau pusing, menjadi seseorang yang…yaudah, kalau pro, pro aja. Kalau kontra, ya kontra aja. Kalau kamu berdiri di tengah jalan melulu kan bisa-bisa ditabrak bus, mobil pribadi, mobil abang Grab, bus Transjakarta, kopaja, motor abang Gojek, motor polisi yang mengawal pejabat di tengah kemacetan, atau bajaj yang ada sempaknya di belakang kursi penumpang. Apalagi kalau berdiri di tengah rel kereta, masih mau diam? Salah satu harus dipilih, kan? Lari ke kanan atau ke kiri. Ya kecuali kalau kamu memang berniat untuk bunuh diri. Hahaha. Ngawur, ya.

Instagram membuat saya merasa menjadi anak muda yang tidak normal. Tolong, izinkanlah saya menyebut diri saya muda. Setidaknya saya masih lajang dan belum berkeluarga. Dan belum bisa berpikiran dewasa.

Anak muda normal yang saya maksud disini adalah anak muda yang sering ke mall setiap akhir pekan, beli baju-baju bagus, beli peralatan rias yang mahal, nongkrong di cafe, nonton di bioskop, dan seperangkat kegiatan-kegiatan menyenangkan lainnya. Yang kalau kata orang, “Puas-puasin selagi masih muda.”

Saya? Pergi ke mall paling kalau ada perlu aja. Mengingat jalanan Jakarta sungguh melelahkan jiwa raga, menggetarkan hati bagi siapa saja yang melewatinya. Subhanallah…

Beli baju-baju mahal nan fashionable dan branded? Selain karena tidak memiliki pemahaman yang baik mengenai fashion, saya juga pasti akan membutuhkan modal besar agar nampak baik secara kulit. Maklum lah. Saya bukan eksekutif muda.

Beli peralatan rias mahal? Menonton tutorial aja langsung loncat ke menit terakhir. Sungguh, bukan tak ada keinginan. Sebagai perempuan biasa, pasti ada keinginan. Tapi ya mbuh. Ya begitu. Sulit untuk dipahami, bahkan oleh diri sendiri.

Nongkrong di cafe? Ah, bukan saya tidak ingin. Makanan di cafe itu sedikit, mana kenyang. Nih ya, kentang goreng di Cuci Mulut harganya lima belas ribu, isinya sedikit. Padahal dengan uang lima belas ribu, saya bisa makan kenyang dengan sadas D’Besto atau bakso pak kumis. Oh terima kasih, Allah. Kau telah menghadirkan teman-teman yang sering mengajak makan di D’Besto atau bakso di Beji. Pertemanan yang sangat sederhana, namun memiliki pandangan yang rumit di masing-masing kepala. Sungguh ballance rupanya.

Nonton film di bioskop? Saya lebih suka buku ketimbang film. Buku, menurut saya bisa bebas kita terjemahkan, dengan imajinasi-imajinasi yang kita bangun sendiri. Berbeda dengan film yang sudah disuguhkan secara instan. Ah ya, kapan saya terakhir kali ke bioskop? Pantas kudet. Hahaha.

Menurut kamu saya sedang iri? Nampaknya bukan. Kalau kamu bilang saya ini nggak gaul, mungkin iya. Hahaha. Begini, bukan iri sebenarnya. Tapi lebih kepada perasaan….“Banyak orang yang begitu, kok gue beda sendiri? Gue normal atau nggak sih?”

Makanya, ketika di Instagram saya melihat banyak orang yang mendedikasikan feeds nya untuk foto-foto koleksi buku miliknya, saya takjub. Ya, takjub. Takjub di luar rasa penasaran saya apakah semua buku itu ia baca, apakah semua buku itu rela bila dipinjam.

Beda lagi dengan media sosial yang dominan berwarna merah itu. Sebut saja ia Path. Linimasa Path kebanyakan hanya berisi informasi sedang di mana, makan di mana, makan pakai apa, dan jejeran informasi lainnya yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Mungkin penting bagi penculik. Hahaha. 

Iya, saya bercanda.

Lalu, Tumblr? Tumblr itu jenis microblogging atau bisa disebut juga media sosial tidak, ya? Dominan warna biru tua menjadikan saya cenderung untuk menuliskan hal-hal berbau galau. Hubungannya apa? Tidak tau, setidaknya itu yang saya rasa. Jika kamu merasa suatu tempat lebih sering menggalaukanmu ketimbang menyemangatimu, maka tinggalkanlah. Begitu sabda pak RT di salah satu kelurahan di Wellington.

Dan Facebook.. Menjadi sosial media yang mudah untuk menyebarkan tautan, termasuk di dalamnya adalah berita bohong dan ujaran kebencian. Kata Mas Ali, “Menyuguhkan tamu dengan kopi itu baik, tapi jangan dengan menyiramkannya ke muka.” Kalau kamu ingin mengingatkan sesama, pakailah dengan cara yang baik, bukan malah mengajak orang lain menyalakan api di SPBU. Padamkan api dengan air, bukan dengan api lagi. Mau bikin meledak sampai mana? Sampai semua terbakar dan tak tersisa?

Baiklah. Saya hanya kaum anak muda ‘marginal’, tak terlihat, dan terabaikan. Yang lebih sering jajan buku ketimbang jajan kopi Starbucks. Untung Starbucks cuma kopi. Coba kalau produknya adalah minuman coklat atau minuman rasa leci, kelak akan saya beli meski harganya sebanding dengan buku-bukunya Pram. Useeh.. Mahal yak.

Tapi yasudah, setiap orang berhak mengisi linimasanya dengan kreatifitasnya masing-masing. Tidak berperilaku hedon, bukan berarti tidak normal. Tidak banyak aktif di kegiatan sosial, bukan berarti tidak kece. Apa yang ada di media sosial memang yang baik-baik dan bagus-bagus aja. Jarang sekali ada orang yang dengan sengaja memamerkan aibnya di media sosial. Media sosial adalah lahan pencitraan. Bukan begitu? Coba bayangkan kalau dibalik. Media sosial adalah lahan pamer aib. Misal,

“Gue nggak puasa dong. Males amat puasa-puasa nahan laper.” — sambil unggah foto Burger King plus rokok A Mild di bulan Ramadhan.

Atau

“Gue lagi asik-asik sama pacar di tempat gelap, eh digerebek warga sekampung. Pada sirik amat ya.” — sambil unggah foto selfie bareng pacar yang mukanya udah tidak bermuka.

Astagfirullah. Kok jadi seram….

Ya.

Tidak apa kalau kamu anggap saya sirik dengan yang nampak di media sosial karena jomblo, jadi tidak ada yang bisa diajak jalan-jalan. Saya beritahu, pacaran itu tidak tercatat dalam pemerintah. Jadi ya sama aja, ilegal. Illegal loving kali (?).

Tidak apa pula kalau kamu anggap saya sedang nyinyir. Saya memang suka nyinyir. Terlebih setelah mandi dan keramas. Tidak nyinyir sebulan akan mengakibatkan kita menjadi gimbal.  

Betul begitu, eh?