0

NgabubuREAD: Menebar Semangat Membaca di Taman Kota

Mengisi waktu menjelang berbuka puasa, Komunitas Gerakan Suka Baca mengadakan kegiatan NgabubuREAD pada Minggu lalu (27/5/2018). Diambil dari istilah ngabuburit yang dalam bahasa Sunda berarti menunggu waktu sore, NgabubuREAD merupakan kegiatan menunggu waktu berbuka puasa yang diisi dengan membaca buku. Kegiatan ini dilakukan di Taman Lembah Gurame yang terletak di Jalan Raya Gurame, Kelurahan Depok Jaya, Kota Depok, Jawa Barat.

Mengetahui bahwa Indonesia masih berada pada urutan ke-60 dari 61 negara dalam minat membaca, Renita Yulistiana, penggagas Gerakan Suka Baca, mengatakan bahwa minat membaca seharusnya sudah ditanamkan sejak anak-anak. Oleh karena itu, sasaran utama kegiatan ini adalah anak-anak bimbingan belajar Gerakan Suka Baca dan anak-anak pengunjung Taman Lembah Gurame Depok.

IMG-20180527-WA0067-01

Kakak Relawan Membacakan Buku Cerita (3)

Sekitar 33 anak usia sekolah dasar dibagi menjadi empat kelompok untuk dibacakan buku cerita oleh masing-masing tiga kakak relawan. Agar kondusif selama membaca buku, baik anak-anak maupun kakak relawan diminta untuk tidak menggunakan gawai. Meski pada awalnya terlihat enggan, anak-anak sangat antusias mendengar kakak-kakak relawan membacakan buku cerita. Beberapa dari mereka bahkan sebelumnya sudah berinisiatif untuk mengambil buku dan membacanya sendiri.

Tak hanya membaca buku, NgabubuREAD ini kemudian dilanjutkan dengan acara berbuka puasa bersama di musala Taman Lembah Gurame Depok. Ustadz Ruslan Abdul Ghani, secara khusus diundang oleh tim panitia untuk mengisi kultum sebelum maghrib tiba.

“Harapan kami selain bisa berkontribusi dalam gerakan literasi, kami juga ingin bisa terus menebar kebaikan dan kebahagiaan pada anak-anak. Semoga ke depannya bisa mengadakan kegiatan serupa di luar kota Depok,” tutur Renita saat menutup rangkaian acara dengan membagikan bingkisan untuk anak-anak.

Iklan
0

Jadi Nih Besok Lebaran

Sebelum memulai tulisan, saya ingin mengucap syukur terlebih dahulu sebab Ya Asyiqol Musthofa, di kepala saya, telah memenangkan pertarungan melawan “memang lagi syantik tapi bukan sok syantik”. Syantik syantik gini hanya untuk dirimu~

Astaghfirullah. Racun sekali memang.

Bhaiikk. Lupakan.

Beberapa jam yang lalu, menteri agama, Bapak Lukman Saifuddin, mengumumkan hasil sidang isbat yang katanya digelar secara tertutup. Hari Raya Idulfitri jatuh pada tanggal 15 Juni 2018. Alhamdulillah, hilal sudah tidak malu-malu menampakkan dirinya. Kalau kata tetangga, “Jadi neeeh lebaran.” Ya jadi dong. Bagaimana nasib opor, rendang, dan teman-temannya kalau lebaran nggak jadi besok? Karena besok adalah hari Jum’at, para bapak, mas, abang, mamang, dan aa besok akan melaksanakan salat Ied dan juga salat Jum’at. MasyaAllah.

Seperti yang kita ketahui bersama, Idulfitri diartikan sebagai kembali ke fitri atau kembali suci. Iya, kalau diampuni itu juga. Ehehe. Apakah kita akan kembali putih suci bersinar? Ndak tau. Wallahu a’lam.

Meniru gaya warganet pengagum Meme Comic Indonesia, “Apa cuma gue di sini yang merasa ramadhan itu cepet banget? :v” Nggak. Nggak elu doang, Tong! Jangankan bulan ramadhan. Sebulan pun rasanya cepat sekali. Tiba-tiba uang gajian sudah habis aja~ Uhuk.

Di awal tahun, saya pernah memiliki keinginan untuk menjadi pengangguran saja selama bulan ramadhan. Alasannya karena ingin fokus beribadah memohon ampunan kepada Allah. Silakan kalau mau muntah, nggak papa. Nanti saya kasih kresek. Teman-teman saya juga sudah muak dengan idealisme saya.

Saya pikir menjalani ramadhan sambil sibuk kerja itu ‘nggak fokus banget’. Namun, setelah rajin mengonsumsi susu Indomilk rasa melon, saya akhirnya sadar bahwa pikiran macam ntu cupu sekali. Ya Gusti. Cupu pokoknya, cupu! Padahal menjalani ramadhan di saat sedang sibuk-sibuknya, kalau diresapi dengan saksama, itu indaaaaah sekali. Ada rasa bahagia ketika di dalam gerbong Commuter Line, para penumpang saling menawarkan makanan ketika waktu berbuka tiba. Baiknya PT. KCI, mereka memperbolehkan kita makan dan minum di dalam kereta selama bulan puasa.

Banyaknya komunitas yang membagikan takjil di jalan juga menjadikan ramadhan ini lebih indah. Beberapa waktu lalu, saat menuju DMall Depok bersama abang Gojek yang nampak ceria sekali sewaktu menerobos palang kereta, saya melihat segerombolan orang berpakaian putih dan membawa bendera. Sambil memicingkan mata, ya karena mata saya sudah agak-agak galat, saya tahu bahwa mereka dari kelompok FPI. “Wah, mau demo nih.” Tapi ternyata bukan, sayang. Mereka membagi-bagikan takjil untuk pengendara-pengendara di jalan. Hehe. FPI ternyata nggak selalu negatif. Kurung lah rasa suudzonmu itu, sayang!

Saya sadar sekali bahwa ibadah saya masih belang betong. Saya juga nggak tau apakah dosa-dosa saya yang sebanyak butiran pasir di sepanjang pantai pulau jawa ini diampuni atau nggak. Namun, apa yang saya resapi selama sebulan ini adalah bagaimana supaya menjadikan setiap hari terasa seperti bulan ramadhan. Sebab tahapan tersulit setelah memulai adalah mempertahankan. Berbuat baik setiap saat, menghindari ghibah, mengutamakan Al-Quran, menjadikan waktu selalu bermanfaat, sedia menolong orang lain, dan PR-PR lain yang pelaksanaannya adalah seumur hidup. Mari saling mengingatkan. Hhh.

Akhir kata saya mengucapkan,

Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Hari Raya Idulfitri. Selamat berkumpul dengan keluarga dan semangat berburu nastar!!!

0

Kutipan Buku #5: Kalau Kita Takut pada Ujian dan Cobaan…

Kalau kita takut pada ujian dan cobaan, menghindar dari persoalan, kita mestinya tak perlu hidup. Musibah atau ujian apa pun mestinya bisa mengantar seseorang menjadi semakin dekat dengan penciptanya. Lewat musibah, mereka seharusnya menyadari, diri mereka fakir. Tidak punya apa-apa. Tidak punya daya kekuatan apa pun di hadapan Allah.

– Rusdi Mathari dalam buku Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya

Kutipan Buku adalah seri tulisan untuk mengantisipasi penyakit serangan lupa bahwa ada banyak cahaya dalam tiap lembar buku yang pernah saya (atau kita) baca.

0

Kutipan Buku #4: Berdakwah itu..

Berdakwah itu mengajak, bukan mengejek. Berdakwah itu merangkul, bukan memukul. Berdakwah itu ramah, bukan marah. Berdakwah itu menjadi kawan, bukan mencari lawan. Berdakwah itu mengajak senang, bukan mengajak perang.

– Chandra Malik dalam buku Republik Ken Arok

Kutipan Buku adalah seri tulisan untuk mengantisipasi penyakit serangan lupa bahwa ada banyak cahaya dalam tiap lembar buku yang pernah saya (atau kita) baca.

0

Kutipan Buku #3: Bodo Amat!

Kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulikan lebih banyak hal; tapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar dan mendesak dan penting.

– Mark Manson dalam buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Kutipan Buku adalah seri tulisan untuk mengantisipasi penyakit serangan lupa bahwa ada banyak cahaya dalam tiap lembar buku yang pernah saya (atau kita) baca.

0

Kutipan Buku #2: Ikhlas Adalah

“Kalau hari ini, kamu kencing dan berak berapa kali, Mat?”

“Sehari ini saya belum berak, Cak. Kencing mungkin tiga atau empat kali.”

“Kemarin?”

“Berak sekali. Kencing? Ya, kira-kira sama lah, Cak, dengan hari ini, tiga atau empat kali?”

“Sebulan  yang lalu? Setahun yang lalu? Sejak mulai kamu lahir kamu ingat, berapa kali kamu berak dan kencing?”

“Seperti itulah ikhlas.”

“Maksudnya?”

“Amal perbuatanmu yang tidak pernah diingat-ingat.”

– Rusdi Mathari dalam buku Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya

Kutipan Buku adalah seri tulisan untuk mengantisipasi penyakit serangan lupa bahwa ada banyak cahaya dalam tiap lembar buku yang pernah saya (atau kita) baca.

0

Blabbering: Menulis yang Tidak Penting

Hi, guys! Balik lagi nih ke channel aquuhh.. Kali ini aku akan ngebahas skin care yang cocok buat #sobatmiskin..

Eh bentar..

Bentaaaaar!

Kamu kan bukan beauty vlogger.

Oke. Bhaaaiiiq..

Ya bulan Mei ini aku sepi jadwal manggung. Jadi lah banyak waktu luang yang mengakibatkan pikiran ini mengembara ke mana-mana. Sudah aku siasati dengan menghapus aplikasi Instagram, tapi da tetap aja aku buka medsos lain. Pagi-pagi, ngecek linimasa, isinya berita bom, teroris, dan populasi manusia yang hobi memprovokasi di tengah bencana. Pusing aku, beb. Dunia sebentar aja kok susah banget damainya. Ketemu teman, eh topiknya ndak jauh-jauh dari karir-jodoh-karir-jodoh. Gitu aja terus sampai nanti salah satu di antara kami ada yang menikah dengan duda Malaysia beranak satu. Hhhhh. Aku dan enam teman lain dalam grup jerapah hingga kini masih menerka-nerka siapa yang lebih dulu jadi hot mommy. Aku sudah bertekad. jika aku yang terakhir, aku akan pulang kampung ke Ciamis. Menjadi gadis kota yang membiasakan diri mendengar bunyi tonggeret sakalian ngabantu Mang Ujang marab hayam, bantu Emak Amis goreng saroja, ngala tutut ke sawah, dan ngiring Bapak Amis ngobak empang.

Bahas apa sih kamu, Caaawww?

Bhaaaiiiq. Karena memang judulnya adalah blabbering, maka isi nya pun sudah pasti nirfaedah. Aku yang sedari masih berupa fetus sudah pasif dan setelah melewati masa remaja pernah mengutuk diri mengapa harus introversi yang dominan, memang merasa lebih mudah untuk tjurhat melalu tulisan. Penting atau tidak penting, menulis bagiku adalah salah satu cara untuk membekukan ingatan. Ya aku pelupa banget memang. Kebiasanku menulis curhatan ada manfaatnya ternyata, gaes. Aku jadi tau gaya tulisan sewaktu SMA, jadi ingat dulu ngerjain apa aja di rohis dan masjid nurul iman, ingat pernah sering buat cerpen tapi arsipnya hilang bersama laptop, ingat dulu pernah merasa being ignored, ingat pernah merasa haru waktu pelantikan ukmi, ingat pernah mendebat dalam diam perihal why everyone is lebay in applying theology, lalu ingat juga ternyata teman-teman KKN-ku lawak abis. Ya masa kalau malas rapat terus mau menenggelamkan diri dalam bak mandi atau membusakan mulut dengan shampoo. Liar banget idenya Muti mah. 😂

Daaaan masih banyak hal lagi yang kuingat akibat membaca ulang tulisan-tulisan yang sesungguhnya nirfaedah sekali. Sebagian tulisan itu pernah aku unggah di Tumblr, tapi lama kelamaan kumerasa itu tidak baik, lalu akhirnya hapus akun. Tapi ya tulisan itu tetap aku arsip. Da aku mah jago kalau soal mengarsip. Membual lah yang aku tidak jago ayam. Hhhhh.

Semasa menjadi pengangguran lulusan pres greduet salah satu kampus Jenderal yang almamaternya berwarna kuning butek, mulai lah blog ini aku aktifkan kembali. Blog ini sebenarnya bekas KKN dulu . ((bekas)). Haha. Lalu, saat itu mulai timbul keinginan untuk menulis yang ada manfaatnya sedikit lah. Belajar menulis artikel, belajar menulis fiksi, dan belajar menulis pendapat melalui seri Monolo(gue). Komentar dari orang-orang, baik atau buruk, pasti aku ingat sampai sekarang. Serius akutuuu.

“Caw, monologue nya lucu.”

“Aku baca tulisanmu di blog. Seru aja.”

“Not important and not interesting at all.”

“Tulisan mu sekarang mendingan.”

“Ditunggu tulisan tentang Purwokerto nya lagi.”

“Mbak Icaw curhatnya di blog ya? Mbak Icaw anak mojok ya?” – Yang bilang ini namanya Ucup. Kemungkinan suatu hari ia akan baca ini. Hahaha.

Mungkin juga suatu hari nanti kalau membaca ulang tulisan ini aku akan ingat bahwa bad mood lah yang membuatku nulis ngalor ngidul. 🌈🌌🌌