Monolo(gue) #2: Kabarmu Apa Kabar?

Sebenarnya sedang dalam keadaan tidak mood untuk memakai kata ‘gue’, tapi karena telah berjanji untuk menggunakannya di setiap judul Monolo(gue), jadi.. baiklah.

Saat ini di handphone gue masih tersisa WhatsApp dan LINE sebagai salah satu cara untuk komunikasi jarak jauh setelah BBM gue lepas terbengkalai. Masing-masing di dalamnya terdapat grup. Di WhatsApp gue ada grup SMA, grup teman se-genk, grup organisasi di SMA, grup organisasi di kampus, dan grup kajian. Sedangkan di LINE ada grup SMA, grup teman kuliah, dan grup komunitas. Mari kita bicarakan keberadaan grup-grup tersebut. Dari banyaknya grup yang ada, gue merasa hanya ada 1 yang benar-benar terasa hidup. Grup yang gue maksud tersebut adalah grup komunitas ** di LINE. Meskipun gue baru bergabung disana beberapa hari dan hanya menjadi silent reader, gue cukup mengamati setiap aktivitasnya.

Menurut gue, grup yang hidup adalah grup yang benar-benar terdapat interaksi di dalamnya (syukur-syukur masih bisa melakukan diskusi), bukan hanya sekadar sharing info lowongan kerja, beasiswa, atau info ‘penting’ lainnya. Ini gue posisikan sebagai kelompok manusia yang tahap hidupnya sudah lewat dari masalah kuliah. Gue sangat resah, sejujurnya. Bukankah adanya grup (pada awalnya) memang untuk mendekatkan yang jauh? Atau memang hanya untuk memenuhi kebutuhan informasi yang kita inginkan? Seringkali kita khilaf, lupa menyadari bahwa kebutuhan kita bukan hanya seputar itu. Menanyakan kabar masing-masing juga penting. Tapi kita selalu merasa sibuk. Sudah lah bertemu jarang, tahu kabar masing-masing pun tidak. Pertanyaan “apa kabar?” mungkin sering dianggap hanya sebagai basa-basi oleh sebagian orang, sehingga yang ada hanya hubungan satu arah. Seperti monolog.

Cukuplaaah.

Bila wajah terasa sulit untuk bertemu, bila jari terasa kaku untuk mengetik rindu, biarlah doa mu yang bekerja. Biarlah ia mengudara, mengadu pada penciptamu. Asal tetap ada di hatimu.

//// dan kekhawatiran ini semakin menjadi tatkala tiba-tiba terdengar kabar bahwa salah satu dari anggota di salah satu grup yang disebutkan tadi sudah menemui-Nya lebih dahulu daripada kita. Maafkan kami yang tak pantas disebut teman, Lisa. Sampai saat ini aku (dan yang lain) masih mengingat jelas senyummu, suaramu, bahkan cerita-ceritamu. Sampai kapan pun akan ingat, sampai Allah menghendaki aku untuk lupa karena pikun atau sampai aku masuk ke liang lahat nanti. Semoga kamu ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah, di surga-Nya ////

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s