Kuning

Dari sudut ruangan kantor, undangan biru muda dengan tulisan keemasan itu masih terlihat di atas meja. Undangan pernikahan itu masih rapi terbungkus plastik meski telah rebah di sana sejak dua hari lalu. Aku tak tertarik untuk membacanya. Sama sekali tidak. Tanpa diberi undangan pun, aku sudah hafal kapan janur kuning akan berdiri memajang. Katanya, janur kuning adalah budaya yang tidak dapat dihilangkan. Begitu ia katakan saat masih bersamaku, sebelum ia minggat dan menghancurkan hidupku.

Aku suka warna kuning, tapi tidak dengan janur kuning. Apalagi itu bukan aku yang berada di pelaminan. Esok aku akan datang lebih awal sebelum para tamu datang. Akan kukenakan kebaya kuning terbaikku untuk menemui dia dan calon istrinya yang rambutnya lebih mirip dengan bulu jagung.

Dengan wajah gembira, akhirnya aku datang. Melihat sekeliling, aku tambah girang. Suara isakan tangis dari orang-orang itu membahagiakanku. Seperti yang sudah aku katakan; aku suka warna kuning, tapi tidak dengan janur kuning. Jadi semalam aku berusaha agar hari ini mereka mengganti janur kuning dengan kuning yang lain. Seperti bendera kuning, misalnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s