Anggota Tambahan

“Minta makan sama Teteh, sana!”

Terdengar suara ibu dari ujung dapur, nampak berbicara pada seseorang. Kalau kamu mengira itu adalah adikku, kamu salah. Yang diajak ibu berbicara adalah kucing. Seperti tak cukup satu, ada dua kucing betina dewasa di rumah. Kucing lokal yang sebenarnya masih berdarah Anggora. Yang satu tabby, dan satunya lagi calico. Awal maksud bukan mereka yang ingin aku pelihara, melainkan induknya yang kini entah dimana-mungkin sudah mati. Salah satu kekurangan dari kucing adalah betina. Dan salah satu kekurangan dari kucing betina adalah nasibnya yang selalu berkembang biak, dimana ketika fase estrus, ia meliuk-liuk di batang pohon atau tiang jemuran, berguling di tanah dengan raut wajah menggoda kucing jantan yang tengah mencari waktu yang tepat untuk melakukan kopulasi. Itulah yang terjadi dengan kedua kucingku, pun mereka adalah hasil kegenitan induknya di masa estrus. Kedua kucingku kini masing-masing memiliki pasukan. Totalnya ada tujuh anak kucing. Silakan kamu bayangkan betapa ramainya rumahku dengan makhluk berbulu dan berkumis itu. Aku tidak ingat sejak kapan aku menyukainya. Yang aku ingat sewaktu SD, setiap ulang tahun aku selalu minta diberikan kucing sebagai kado. Kado yang hidup.

Pada awalnya, keluargaku, terutama ibu tidak menghendaki adanya hewan di rumah. Bukan hanya perkara memberi makan, namun juga membersihkan apa yang dibuang setelah dimakan. Sejinak apa pun hewan, ia tetap makhluk tak berakal. Tidak seperti manusia yang bisa membedakan mana toilet, mana dapur. Mana kloset, mana keset. Perlu waktu beberapa lama agar mereka cukup mengerti untuk membuang feses dan urine hanya pada tempat yang tepat. Dalam hal ini, kamar mandi adalah tempat yang tepat. Kucingku yang berbulu tabby sudah terbiasa melakukannya, meski kadang ia khilaf. Sedangkan, kucingku yang berbulu calico lebih sering di luar rumah. Jadi aku tidak tahu dimana dia meletakkan ranjaunya. Yang menjadi PR besar adalah mengajari anak-anak mereka. Aku tak mungkin memelihara mereka semua, setidaknya sampai menyentuh 90 hari sejak kelahirannya. Anak-anak kucing ini selalu menjadi sumber kegaduhan utama dalam rumah. Antara tega meninggalkannya kehujanan di luar atau rumah akan semakin chaos karenanya. Mereka lucu, tapi aku sudah tidak sanggup merawat semuanya meski umurnya belum ada 90 hari. Mungkin kalimat yang tepat adalah ibu yang sudah tidak sanggup. Aku berharap ada cat woman yang rela menampung ribuan kucing. Aku pasti akan sangat berterima kasih padanya. Apalah daya, luas rumahku tak sampai satu hektar.

Kenapa aku dianggap seperti Tetehnya kucing-kucing oleh ibu? Karena beginilah adanya. Kami sudah menganggap mereka bagian dari keluarga, bukan sekadar hewan yang bisa diunyeng-unyeng. Kami menganggap mereka sebagai anggota keluarga tambahan, mengingat hanya aku dan kakakku yang terdaftar di KK sebagai anak. Kalau kamu main ke rumah, kamu pasti heran melihat kami sekeluarga (terutama aku dan ibu) yang mengganggap kucing seperti manusia biasa, berbicara padanya, dan berharap mereka akan merespon pertanyaan kami. Aku mungkin akan malu atas keheranan kamu, tapi begitulah cara kami menyayangi salah satu ciptaan Allah tersebut.

DSC_0221 copy

Inilah Meong

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s