Monolo(gue) #3: Konsumtif dan Posesif

Akhirnya bikin Monolo(gue) lagi setelah bingung mau ngoceh tentang apa. Hehe.

Gue baru tau di Instagram itu ada rantai tak terlihat. Entah rantai apa. Jadi ketika gue mengikuti akun Komunitas Pecandu Buku, tiba-tiba akun gue pun diikuti oleh para pedagang buku online. Haha. Apa itu salah satu strategi marketing? Nggak ngerti deh. Tapi bukan itu yang ingin gue bahas. Jadi, gue termasuk dalam golongan orang yang rajin stalking. Entah orang itu gue kenal atau nggak. Selama akunnya menarik perhatian, ya gue stalk aja. Siapa suruh nggak diaktifkan mode private nya. šŸ˜› Naaahh di akun-akun toko buku online itu, gue nemu orang-orang yang juga hobi membaca buku. Atau gue sebutnya hobi beli buku aja kali yah? Mereka juga hobi mengunggah buku-buku yang mereka beli (dan akan merekaĀ baca). Itu sesuatu yang “wah” banget menurut gue. Dalam sekali transaksi, mereka bisa membeli lima buku dengan harga minimal lima puluh ribu. Gue sih paling banyak beli 3 buku dalam sekali transaksi. Eh, nggak beda jauh ya? Tapi cuma sekali kok yang kayak gitu. Da aku mah apa, cuma mantan mahasiswa yang sedang mempertahankan idealisme di tengah perihnya realita. Eh, curhat. Alasan gue nggak pernah beli buku sekaligus banyak adalah karenaĀ hemat! Hahaha. Nggak deh. Gue nggak mau konsumtif aja sih. Kalau satu buku belum selesai dibaca, gue nggak mau menambahnya lagi. Itu prinsip. #sa #ae

Menurut gue, para pembaca (lebih tepatnya pembeli) buku itu juga berperilaku konsumtif. Konsumtif menurut KBBI artinya adalah bersifat konsumsi (hanya memakai, tidak menghasilkan sendiri). Perilaku konsumtif adalah kebiasaan membeli barang-barang secara berlebihan, yang bukan suatu kebutuhan utama. Memilih untuk hanya mengonsumsi tanpa memroduksi. Membelanjakan uang untuk kebutuhan yang bukan primer. Lalu, apakah buku tidak penting? Apakah buku bukan merupakan suatu kebutuhan? Buku merupakan suatu kebutuhan dan asupan untuk otak. Pun merupakan suatu hal yang penting. Taaaaapi… Membeli banyak buku tanpa dibaca, IMHO, sudah termasuk ke dalam perilaku konsumtif.Ā Ah, maafkan jika gueĀ salah menilai. Jangan ditimpuk.

Berawal dari konsumtif, kemudian menjadi posesif. Kata ‘posesif pada buku’ ini pernah diungkapkan oleh Fiersa Besari atau siapa gitu ya, gue lupa. Haha. Maafkan. Yang hobi beli buku kebanyakan nggak rela kalau bukunya hilang atau rusak. Karena pernah mengalami kejadian buku dipinjam teman, lalu hilang atau rusak, akhirnya enggan lagi memindahtangankan buku-buku yang sudah tersusun rapi di rak. Lebih indah kalau dikoleksi. Gue pun gitu, dulu sebelum tersentil. Entah tulisan siapa dan bunyinya bagaimana. Gue lupa. Lagi-lagi lupa. Maaf, dari awal gue udah ingatkan kalau gue pelupa. Pelupa kok bangga? Ealaaaah.

Intinya begini. Buku akan menjadi lebih berguna apabila ilmu yang ada di dalamnya kita tularkan. Akan lebih berharga jika buku-buku itu tidak diam di tempat. Kebaikan-kebaikan akan mengalir. Kalau kata gue mah, In Syaa Allah ada pahalanya. Seseorang (kemungkinan juga Fiersa Besari) mengatakan, “karena buku memengaruhi pola pikir, bisa dibayangkan betapa mudahnya kita memengaruhi seseorang melalui buku.”

Mohon maaf apabila ada pihak yang merasa tersinggung. Ini murni hanya opini. Manusia dengan buku di tangan itu keren kok! šŸ˜€

Wassalam.

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s