Monolo(gue) #5: Kompor Nikah

Ini posting ke-empat di hari ini. Wiw! Tumben. As usual, Monolo(gue) ini nggak ada faedahnya sama sekali. Namanya juga monolog, ngomong sendiri. Kali ini gue mau ngomongin tentang nikah nih. Ciyee..ciyeee ((ngaciyekeun sorangan))

Seminggu yang lalu, gue mendapat kabar baik dari sahabat tersolehah yang pernah gue punya. She will get married this week! Kageeeet banget. Terlebih, gue denger berita itu dari orang lain, bukan dari dia langsung. Saat itu juga, gue langsung mengklarifikasi ke yang bersangkutan. Ternyata benar… Dia akan menikah dengan seseorang yang gue pernah kenal. Seseorang itu gue kenal di tahun 2012, ketika gue menjadi pendamping penerimaan mahasiswa baru di universitas. Gue tau mereka memang berada dalam satu organisasi, satu divisi, dan bersama-sama mengurus salah satu rumah makan di dekat kampus. Siapa sangka, kalau akhirnya mereka memutuskan untuk bersama.

Gue jadi inget dulu, ketika gue dan sahabat solehah itu sedang dekat-dekatnya. Dia bercerita banyak. Tentang keluarganya, tentang masa lalunya, dan tentang keinginannya untuk menikah muda. Di dua tahun terakhir kuliah, gue jadi jarang bertukar cerita dengannya. Mungkin karena gue sering bandel. Terutama karena cara pandang gue yang kadang ngawur dan nyeleneh. Mungkin juga karena gue kaku dan cuek, nggak bisa disayang-sayang. Atau.. Alasan yang paling logis adalah karena kesibukan kami yang berbeda. Terlepas dari itu, kami masih memiliki hubungan yang baik. Meski entah kapan terakhir kali gue bertemu dengan dia…. Ah, waktu.. Mengapa engkau begitu?

Teman-teman main gue udah mulai banyak yang menikah. Sebelum memasuki ramadhan, salah satu teman baik gue juga memberi kabar bahwa ia akan dikhitbah sehabis lebaran nanti. Sebenarnya gue bukan baper karena terus-gue-kapan-dilamar-orang?, tapi gue merasa bahwa gue tertinggal jauh. Hahaha. Di saat orang-orang sudah memikirkan pernikahan, gue masih memandangnya dengan skeptis, menganggap menikah justru malah menambah masalah. Gue merasa waktu gue untuk melakukan ini-itu, mencapai target, dan hal-hal lain yang harusnya dikerjakan sendiri semakin sempit. Umur sudah semakin tua, tapi ya gue masih gini-gini juga. Wk. Gue belum lancar speaking English, belum baca banyak buku, belum banyak hafalan qur’an, belum benar dalam beribadah, belum belajar jadi ibu yang baik, belum ini-itu banyak sekali~ Silakan sanggah anggapan gue dengan hal-hal yang dapat diterima dengan logika. Wk. Wk.

Anyway, gue sebel banget sama akun-akun Islami yang sering ngomporin tentang nikah. Baik itu di Facebook atau Instagram. Kesannya kayak Islam cuma mengatur tentang jodoh aje.. Tapi yaaa.. Kalau ngeliat orang pacaran sama yang udah halal tuh tetap aja terkesima. Hahaha. #naonsih #nggakkonsisten

Memang.. Topik obrolan jodoh di umur 20-an ini rawan terjadi. Apalagi perempuan. Sampai saat ini pun kalau lagi ngumpul sama teman jerapah, ya ada aja itu topik nyempil-nyempil. Entah mendebatkan kenapa harus menikah di umur sekian, kenapa harus laki-laki yang mendatangi, dan sebagainya. Rumit lah pokoknya. Hahaha.

Untuk semua yang akan menikah, Barakallahu laka wa barakaalaika wa jama’a bainakuma fii khair

Gue nyusul nanti. Nggak tau kapan. ~~~

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.

Iklan

One thought on “Monolo(gue) #5: Kompor Nikah

  1. Ping-balik: Monolo(gue) #7: Ketenaran Misteri Jodoh Mengalahkan Misteri Gunung Merapi | Anak Kedua Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s