Penipu yang Tidak Budiman

Dua hari yang lalu, saya dikabarkan mendapat hadiah uang tunai 10 juta. Lumayan, untuk modal usaha. Tentu saja itu hoax semata. Minggu pagi, muncul pop up di layar handphone. Isinya pemberitahuan bahwa saya akan ditelepon M-Tronik. Gimana bisa? Saya aja jarang isi pulsa. Nol koma satu detik kemudian, dering Over The Horizon terdengar dari speaker handphone. Angkat aja deh, batin saya. Sudah tahu betul siapa yang menelepon. Demi membuat orang di seberang sana kesal, akhirnya saya angkat telepon yang berasal dari nomor Telkomsel, operator yang juga saya gunakan.

“Halooouuuu” Saya mengucapkan ‘halo’ dengan tambahan ‘u’ di belakangnya. Kemudian ia menjelaskan panjang lebar, menanyakan siapa nama saya. Saya jawab asal. Lalu dia menjelaskan saya adalah pengguna Telkomsel nomor tiga dari sepuluh yang terbaik. Dia juga menjelaskan bahwa nomor saya diacak melalui komputer. Sepanjang ia berbicara, saya hanya menjawab “He eh” dengan nada setengah meledek. Sampai pada akhirnya dia menanyakan nomor rekening.

“Nggak punya” Jawab saya seperti anak SD yang ditodong jajan oleh temannya.

Di situ, ia mulai menunjukkan ketidakbudimannya sebagai penipu. Saya dibilang miskin karena tidak punya nomor rekening. Dengan nada memelas, saya mengakui kalau saya miskin. Saya mah nggak sombong sih kalau miskin. Saya bangga kalau saya miskin harta, setidaknya saya berusaha untuk tidak miskin ilmu. Mungkin dia lupa kalau dia juga miskin. Kan tidak boleh, ya, sesama miskin saling mendahului?

Sebelum sambungan telepon diputus, si penipu mengeluarkan kalimat amburegul emeseyu. Sumpah serapah yang lagi-lagi tidak menunjukkan kalau ia penipu yang budiman. Saya disumpahi agar cepat mati. Bukannya kesal, saya malah ngakak dibuatnya. Mau menipu kok kesal sendiri? Hahaha.

Sumpahin balik, jangan nih? SUMPAHIN! Saya sumpahin semoga cepat jadi orang kaya, dimudahkan dan dilimpahkan rezeki yang halal dari Allah SWT. Dia pasti tidak pernah membayangkan ketika menyumpah dengan kalimat amburegul emeseyu, bagaimana kalau malaikat di sebelahnya menjawab, “Semoga kamu juga.” Nah loh!

Kalau didengar dengan saksama, logat bicaranya bukan seperti masyarakat pulau Jawa. Kelihatan ia berasal dari pulau seberang. Hal itu membuat saya menjadi menerka-nerka mengapa ia memilih menjadi penipu daripada menjadi hansip yang jalannya lebih halal dan barokah. Malas kah? Terlilit hutang ke rentenir kah? Wah.. Jangan salah! Di tahun 2016 di mana @psychodiva2016 sudah menikah dengan @ev0124, rentenir masih ada, mengibas-ngibas uang hasil riba. Atau, alasan skak mat nya adalah ia tidak pernah mau berusaha untuk mengenal Yang Menciptakan Seluruh Alam. Padahal, kalau mau percaya diri, penipu itu bisa bekerja di bidang marketing. Lebih khususnya, telemarketing. Bukankah menjadi penipu juga harus persuasif? Bedanya, bekerja di bidang marketing adalah jalan halal, sedangkan bekerja menjadi penipu adalah jalan cepat menuju neraka. Tentu, menipu orang lain bukanlah satu-satunya syarat untuk mendiami neraka. Apalagi kalau menipunya masih memakai cara lama dan basi. Masih mending penipu kelas teri, lah ini namanya penipu kelas julung-julung.

Dear penipu,

Daripada kamu mendoakan (lebih tepatnya menyumpahi) saya cepat mati, lebih baik kamu mendoakan saya agar dilimpahkan rezeki yang halal dan segera dipertemukan dengan si itu. Iya, si itu deh. Kalau begitu kan malaikat akan tenang menjawab, “Semoga kamu juga.” 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s