Monolo(gue) #7 Ketenaran Misteri Jodoh yang Mengalahkan Misteri Gunung Merapi

12

Main tarik-tarikan

Menyikapi topik pembicaraan di antara teman jerapah yang akhir-akhir ini mulai menyerempet ke perkara pernikahan, Renita dan gue merasa gatal untuk menuliskannya di blog masing-masing. Sebelumnya gue pernah menulis gaje pula pada Monolo(gue) #5, namun nampaknya judul dan konten nggak relevan. Ahaha.

Kalau Renita membahas tentang sebab mengapa pertanyaan ‘kapan nikah?’ belum bisa terjawab, gue mau membahas media-media yang membuat ketenaran misteri jodoh mengalahkan misteri gunung merapi. Dari balik media, khususnya media sosial, seseorang dengan mudahnya menjadi ‘kompor’ yang tugas hariannya adalah memanasi pembaca atau pengikut untuk terus mengikuti sesuatu yang memang sengaja dikomporkan. Nampaknya, menikah adalah sesuatu yang sedang gencar dikomporkan (naon sih dikomporkan? Ya gitu deh) di media sosial. Sebenarnya sih nggak masalah. Jika telah mampu, menikah bukanlah sesuatu yang buruk. Bukan pula sebuah dosa jika memang niatnya baik. Dalam agama Islam, menikah adalah menyempurnakan setengah agama. Ini ada hadist-nya loh. Gue kutip satu dah, biar ingat…

dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

Ketika seorang hamba menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka bertaqwalah kepada Allah pada setengah sisanya.

Sebenarnya beberapa ulama memiliki pendapat yang berbeda mengenai keabsahan hadist ini. Berhubung gue bukan ahli tafsir, apalagi mengerti soal hadist, penjelasan mengenai hadist tersebut dan penjelasan arti dari menikah adalah menyempurnakan setengah agama bisa dibaca di Konsultasi Syariah.

Mungkin ini salah satu penyebab mengapa banyak akun-akun dakwah (sorry, gue langsung to the point ke akun-akun dakwah) yang ngomongin nikah melulu di setiap postingannya. Mungkin juga melihat realita yang ada bahwa 98,7 % anak muda pasti pernah memiliki pacar. Data dari mana tuh? Nggak dari mana-mana sih, gue ngarang aja. Hahaha. Tapi yakin deh, hampir semua orang pasti pernah pacaran. Meskipun cuma sekali dan nggak serius. Kata pak ustadz, ini buahayaaaa banget! Bahayanya dimana? Ah, anak yang baru pakai seragam putih-biru juga tahu bahayanya dimana. Jadi, lebih baik mengajak melakukan kebaikan, kan, daripada mengajak sesuatu yang banyak mudharatnya (atau sebagian orang bilang itu haram)?

Tapi kalau terlalu banyak dan sering dicekokin tentang nikah, enegh nggak sih rasanya? I mean, untuk akun-akun dakwah di Instagram lebih tepatnya. Dakwah tuh apa sih? Kok bilangnya akun-akun dakwah? Laah.. Dakwah kan artinya ajakan. Menyeru, mengajak, dan memanggil orang untuk beriman kepada Allah. Berarti gue nggak salah istilah dong ya? Ihihihihi.

Gini loooh, gue sih paham urgensinya. Tapi yaaa.. Jangan membuat kesan bahwa orang Islam hobi galau. Orang Islam gampang baper. Orang Islam cuma ngurusin masalah cinta. Engg.. Bukankah masih ada hal lain yang lebih bersifat fundamental dan genting? Contoh? Cooobaaaa..masih ingat Asmaul Husna nggak? Rukun Iman, masih ingat? Cara bayar zakat, tahu? Baca Qur’an, bisa? Hafalan Qur’an sudah sampai manaaa..hayooo…?

Yaelah, belajar di pesantren aja kalau gitu mah. Dih! Sekarang kan katanya zamannya dakwah visual. Lebih mudah disampaikan dan dicerna. Apalagi sudah banyak media sosial sebagai perantara. Ngomong doang, ah. Tanpa action. Hahaha. Swear deh. Kalau ada partner yang mau buat konten, gue mau kok bantu buat desain. Ihihihihihihihihihi. Eh iya. Di luar topik, gue mau merekomendasikan Yufid TV untuk mengakses kajian atau ceramah via online. Hehe.

Hmm. Gue sendiri sih nggak malu mengakui kalau kadang-kadang gue juga suka memberi tanda cinta pada postingan berbau-bau tema tersebut di Instagram. Yaa..bagus sih pada dasarnya. Cuma kalau sudah dijadikan ladang bisnis tuh agak maksa gimana yah. Oportunis sekali nampaknya. Akun A memiliki banyak follower karena sering membahas galau-kepingin-nikah, akun B ikutan pula. Ujung-ujungnya paid promote atau endorse. Yaelah, namanya juga cari duit. Bisa dari mana aja. Iya sih, but please 😦

Berbeda dengan Instagram yang ujung-ujungnya paid promote atau endorse, tulisan orang-orang mengenai jodoh yang bertebaran di Tumblr merupakan murni hasil curhat colongan ditambah ilmu yang relevan. Gue pan anak Tumblr yang migrasi ke WordPress karena bosan dengan tulisan mengenai jodoh dan teologi. Maafkan ya. Annisa suka bandel kalau terus-terusan dijejali. Dulu gue rasanya pengin memblokir dua kata kunci di Tumblr; jodoh dan nikah. Enegh. Mending sih kalau ada ilmu dan hikmah yang bisa diambil. Kalau isinya cuma sekadar galau yang pura-puranya nasehat tentang menikah mah..ya apeu!

Nggak salah kok. Sekali lagi, nggak ada yang salah jika media sosial menjadikan topik mengenai misteri jodoh lebih ngehits daripada misteri gunung merapi yang juga sempat ngehits beberapa tahun silam. Namun nampaknya kita perlu lebih elegan dalam menyikapi kegalauan ini. Yang elegan itu yang gimana sih? Yang elegan, ya? Hmm.. Gimana kalau kita pedekate sama Allah dulu aja? Menurut gue, itu elegan sekali.

Udah, ah. Kesel gue mah. Bisa ngetik 700-an kata, tapi nggak bisa banyak mengeluarkan suara. Wassalam. BYE.

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s