Monolo(gue) #8: Kontemplasi Seorang Manusia Berumur 20+

Prolog

  1. “Chaw.. Kalau lo nulis, gue nggak bisa lihat ekspresi lo!” Protes Mutia yang amat sadar bahwa gue lebih sering bercerita lewat tulisan daripada suara. “Yah. Gue mah ngomong juga tetap nggak ada ekspresinya, datar.”
  2. Monolo(gue) ini sebenarnya adalah representasi dari keresahan dan tanda tanya yang ada di otak ini. Kalau kata Aan Mansyur, otak itu ibarat kantor yang selalu sibuk. Jadi, otak gue selalu sibuk. Nah, tulisan ini adalah salah satu dari hasil kerja otak gue. Hahaha. #naonsih

Okay. Sebenarnya pada awalnya ini hanyalah sebuah ide pokok yang tersimpan dua bulan lamanya. Iya, dua bulan rehat dari ngoceh sendiri di blog. Dua bulan ini gue sedang menjalani kehidupan seperti layaknya orang-orang biasa. Bangun pagi, pergi ke halte (atau stasiun), duduk depan laptop, ngantuk, pulang malam, dan tidur. Rutinitas yang sama selama 5 dari 7 hari. Malah terkadang 7 dari 7 hari dalam seminggu. Sabtu dan Minggu gue jadi nggak produktif. Gue lebih banyak tidur. Pun otak gue semakin nggak terasah. Gue jadi sering poliandri buku tanpa menyelesaikannya sampai halaman terakhir. Entahlah. Gue nggak paham dengan ritme ini. Terlebih, laptop gue sedang kritis. Gue mengetik ini melalui WordPress App di handphone. Rasanya nggak leluasa. Biar kata tulisan gue nggak ada yang penting, gue nulis Monolo(gue) pun biasa googling dulu. Hahaha. Doakan agar si laptop maroon mampu berjuang, ya!

Akhir-akhir ini gue sering berkontemplasi, melamun di tengah keramaian ibukota, eeh tau-tau bus nya kebablasan. Haha.

Mungkin bukan gue doang yang feeling insecure di umur 20+ ini. Banyak banget yang dikhawatirkan, terutama mengenai masa depan. Di umur ini, gue sudah bisa melihat kesuksesan teman-teman sekolah gue. Ada yang kerja di perusahaan multinasional, kuliah di luar negeri, nikah dan punya anak, daaan lain-lain yang gue anggap sukses. Di umur ini, indikator kesuksesan bukan lagi dilihat dari sekolah di mana ia, ranking berapa di kelas, atau IPK 3 koma yang didapat setiap semester. Yang dulunya berprestasi, belum tentu sekarang sukses. Pun sama. Yang dulunya nakal, bisa jadi sekarang malah sukses. Ada kok. Ada banyak di sekitar gue. Gue jadi mikir… Apa sih yang menjamin kita sukses nantinya? Iye, gue paham. Setiap orang punya definisi suksesnya masing-masing. Gue juga paham bahwa kesuksesan itu nggak hanya ditentukan oleh satu faktor. Kesuksesan nggak hanya ditentukan oleh IQ. Menurut gue, faktor lain itu adalah faktor bejo, passion, dan kerja keras. Nah.. Yang setuju sila ketik AMIN di komentar ya. Hahaha. #naonsih

Faktor bejo. Nah.. Ini sih memang sudah jalannya. Allah menakdirkan dia begitu, ya begitu. Belum lagi ditambah doa dari kedua orang tuanya, terutama doa seorang ibu. Manjuuuurr dah.. Belum lagi juga kalau ada orang dalem. #eh

Passion. Yakiiiiiin banget kalau orang sukses itu memiliki passion yang kuat. In my sotoy opinion, lu nggak bakal hidup kalau lu nggak punya passion. Hidup sih, tapi paling jadi zombie. Selama seseorang tau betul passion nya apa, walaupun di masa lalu dia malas atau nakal, dia sudah selangkah lebih maju untuk sukses. Nah.. Tinggal faktor kerja keras aja yang mendukung untuk langkah selanjutnya.

………………………………………………………….

Berat memang kalau sudah memasuki umur….ya bukan lagi umur remaja yang masih bisa bercanda di angkot. Yak. Tiba-tiba teringat sekumpulan remaja yang suka berisik di angkot. Okay. Gue dulu pun begitu.

Teman yang dulu biasa aja, kini cantik dan modis. Teman yang dulu nggak rajin-rajin amat, kini sukses di pasca sarjana. Teman yang dulu tidak bersinar, kini sangat bersinar bagaikan lampu neon. Sedangkan gue? Dulu buluq, kini tambah buluq. Dulu tidak bersinar, sekarang? Hahaha. Ya gitu. Insecure itu nggak akan ada habisnya kalau kita terus membandingkan diri dengan orang lain. Jadikan aja kita yang lebih dulu sebagai patokannya, lebih baik dari diri yang dulu atau justru malah lebih buruk. Gue sendiri masih belajar. Daripada terus-terusan membandingkan diri, lebih baik gue mempelajari mindfulness agar lebih fokus dan produktif. Iya nggak? Iya aja, udah!

Stop comparing yourself with others. If they are good at something, you too are good at something else. – Stephen Richards

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s