Monolo(gue) #9: Yang Menyebalkan dalam Gerbong KRL

rel-kereta

Manusia-manusia pekerja pada umumnya memiliki setidaknya satu rutinitas yang sama. Terkhusus bagi manusia-manusia sub urban, mau tidak mau commuter line atau Kereta Rel Listrik (KRL) menjadi transportasi pilihan. Selain karena ‘tak ada pilihan lain’, tarif kereta untuk sekali perjalanan tergolong murah. Yes. Naik kereta menuju kantor merupakan salah satu kesamaan rutinitas yang dimiliki oleh manusia-manusia sub urban.

Sebentar.. Paragraf pembukanya kenapa jadi resmi macam artikel ya? Ini kan Monolo(gue). Hehe..

Gue sendiri yang aslinya adalah warga Jakarta, pun harus ikut berjuang bersama manusia-manusia sub urban menuju kantor. Sebenarnya gue bukan pekerja kantoran seperti mereka. Gue lebih memilih menyebut diri sebagai pembantu. Pembantu perusahaan orang, lebih tepatnya. Setiap pagi gue harus berjuang di medan perang. Ya, anggap aja gerbong kereta adalah medan perang. Yang mampu bertahan, dia lah yang menang untuk dirinya sendiri. Anak kereta (sebutan untuk orang-orang yang terbiasa menggunakan kereta), pasti sudah paham bagaimana peliknya dunia per-KRL-an di wilayah Jabodetabek ini. Lebih pelik lagi di jam-jam berangkat kerja. Penuh dan sesak. Bagi kamu yang memiliki penyakit asma, tubuh kurang sehat, atau sedang galau (lah), tidak disarankan untuk naik kereta pagi saat hari kerja. Lebih baik cari transportasi yang lebih memberikanmu ruang lebih untuk sekadar menghiup O2.

Sebagai pemburu kereta tujuan Jatinegara, penderitaan gue dimulai dari stasiun Lenteng Agung menuju titik aman, yaitu stasiun Sudirman. Setelah Sudirman, masih ada lima stasiun lagi untuk menuju stasiun Rajawali. Kebayang, kan, jauhnya kayak apa? Hahaha. Kenapa gue bilang stasiun Sudirman adalah titik aman? Karena biasanya setelah melewati stasiun itu, gue sudah bisa duduk. Ibarat kerupuk di toples, yang tadinya penuh bisa jadi seperempat toples. Literally, penumpang dalam gerbong kereta memang seperti kerupuk dalam toples. Yang mana, kerupuknya besar-besar, tapi toplesnya sebesar toples mecin. Kadang gue mikir, ini para manusia beranak mulu atau gimana deh?

Berjuang di gerbong KRL memang butuh keahlian khusus. Kalau kamu newbie, lebih baik googling panduan naik KRL dulu deh. Yang gue maksud sebenarnya bukan hal-hal teknis, tapi tentang attitude yang berhubungan dengan kenyamanan penumpang lain. Lah kok attitude? Jadi begindaaang.. Manusia dengan handphone itu kini sama seperti manusia dengan pakaian dalamnya. Nggak bisa lepas. Bayangkan aja, di saat isi gerbong kereta penuh sesak, bahkan ketika kaki gue nggak bisa dipindahkan barang satu sentimeter dari tempat berpijak pun, masih ada aja orang-orang yang ‘sempet-sempetnya aja main handphone’. Padahal kalau gue intip, mereka main HP pun nggak penting-penting amat. Ini biasanya terjadi di gerbong wanita. Di gerbong biasa yang kebanyakan penumpangnya adalah mas-mas dan bapak-bapak, gue jarang melihat mereka sibuk main HP untuk hal-hal nggak penting. Paling sekadar membalas pesan WhatsApp atau mendengarkan musik. Di gerbong wanita yang memang isinya adalah mbak-mbak dan ibu-ibu, gue sering melihat mbak-mbak terlalu sibuk dengan handphone-nya. Ada yang nonton drama Korea,  update status Faceook, ngecek barang-barang lutchu di online shop, scrolling timeline Path atau Instagram, main game Farm Heroes Saga, Candy Crush Jelly Saga, atau Pet Heroes Saga. Rata-rata game yang dimainkan ya itu-itu aja. Pernah gue lihat ada dua mbak-mbak berdampingan memainkan game yang sama, padahal mereka nggak saling mengenal. Pernah juga gue lihat ada satu mbak-mbak yang lebih memilih memainkan racing car game daripada game-game unyu warna-warni itu.

Gue nggak iri. Gw nggak iri karena mereka punya keahlian khusus untuk memegang handphone dengan kedua tangan di tengah crowded-nya isi gerbong kereta. Gue hanya kesal. Kok ya sebegitu pentingnya seonggok handphone itu? Jadi begindaaaang.. Kalau kamu memegang hanphone (dengan kedua tangan, terutama), kamu jadi tidak berpegang pada apa pun. Ya memang sih, bukan pegangan hidup. Setidaknya berpeganglah pada ring pegangan itu. Atau pada..umm..apa ya, namanya? Ya, yang buat menaruh barang di atas itu lah. Atau kalau tidak ada, berpijaklah dengan seksama! Hahaha. Apaan deh? Sungguh. Karena kenapa? Kalau kamu main hanphone, ya cuma fokus pada handphone dan akan cenderung abai pada lingkungan sekitar. Akibatnya apa? Ketika kereta mengerem mendadak, kamu pasti lebih mudah jatuh karena terlalu fokus pada handphone. Satu orang ‘doyong’, semuanya ikut ‘doyong’. If you have no idea about ‘doyong’, bayangkan saja permainan domino. Kurang lebih seperti itu gambarannya.

Akibat kedua dari terlalu fokus pada handphone di tengah crowded-nya isi gerbong kereta adalah menghalangi jalan. Lah kok bisa? Ya iya. Kan jadi nggak peka kalau ada orang yang mau permisi lewat karena sudah hampir tiba di stasiun tujuan. Nggak peka juga kalau kamu perlu bergeser karena orang-orang di sebelah kiri kamu merasa kesempitan, sementara sebelah kananmu masih ada space untuk berpijak.

Ah, gue main HP tapi tetap fokus tuh!

Ya terserah sih kalau mau melakukan pembelaan. Terlepas dari penting atau tidaknya, boleh-boleh aja kalau kamu mau main HP. Kalau hilang juga tanggung jawab pribadi, kan? Cuma ya itu, pedulikan juga penumpang lain. Kalau sekiranya nggak penting-penting amat, lebih baik simpan itu handphone di tas, di tempat yang aman. Bosan? Gue sering lihat tuh ibu-ibu pakai hand counter buat dzikir-an di dalam kereta. Atau kalau gue mah lebih baik memandang ke luar jendela, menghitung kerikil-kerikil yang terlewati, atau memandangi dinding pembatas stasiun sebelum memasuki Tanah Abang yang bertuliskan, “Untuk apa kami memilih jika akhirnya disingkirkan?”

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s