Monolo(gue) #10: Ini Teman, Bukan Rekan! (part 1)

Lah memang apa bedanya rekan dengan teman? Mbuh. Menurut KBBI, rekan adalah teman sekerja, sementara teman adalah teman. Teman adalah kawan. Teman bisa jadi adalah sahabat. Teman, ya teman. Bukan yang banyak rumputnya itu loh. Bukan. Menurut gue keduanya memiliki pengertian yang hampir sama, namun maknanya berbeda. Buat gue, rekan hanya membicarakan masalah kerja dan cenderung kaku. Jadi, karena orang-orang yang biasa gue temui lebih dari 9 jam dalam sehari selama berbulan-bulan ini sama sekali tidak masuk ke dalam golongan kaku layaknya kanebo kering, bisa dikatakan..mereka adalah teman. Maaf ya, kalau gue lancang. Ya gimana, mereka terlalu ‘pe-A’ untuk dianggap rekan biasa. Ahahaha.

Pada seri tulisan tidak berfaedah edisi 10 kali ini, gue mau menceritakan sedikit tentang mereka. Terkesan seperti kebiasaan anak sekolah sih, tapi percayalah. Pada dasarnya gue adalah orang yang pelupa, dan menulis adalah satu-satunya cara untuk membekukan ingatan. Huehehehe.

Kerjaan kami setiap hari adalah mengecek data bapak-bapak, mas-mas, atau segelintir makhluk dari venus yang berkeinginan untuk memiliki penghasilan lebih dengan menjadi supir. Kalau bahasa kerennya mah, driver. Gitu. Pada awalnya, kami hanya terdiri dari enam orang. Kalau menurut abjad, bisa diurutkan; Angelo, Annisa, Damaryati (a.k.a Mega), Fitri, Mikael, dan Tino. Okay. Gue mau ulas satu-satu, ya. Kecuali Annisa. Karena apa? Annisa adalah saya. Annisa adalah gue. #naonsih

1. Angelo

Di antara kami, Angelo adalah yang paling tua. Pengalaman hidupnya sedikit lebih banyak, meskipun kelakuannya ya nggak beda jauh dengan yang lain. Angelo pernah beberapa kali mencoba menjadi pendiam selama di kantor, tapi ia selalu gagal. Angelo tetaplah Angelo. Banyak cerita, banyak tertawa, banyak bercanda, dan futsal adalah hidupnya. Gue suka sok tahu kalau sebenarnya ia menyimpan banyak luka. Bhahaha. Angelo suka cerita. Banyak yang ia ceritakan, termasuk kalau dulunya ia gendut. Terakhir, dia suka diet nasi. Tapi sering kami marahi karena hampir setiap hari dia makan mie. Ah, kalau mau mengulas ini anak mah bakalan jadi panjang. Intinya adalah banyak cerita, futsal, dan suka nyanyi.

2. Damaryati

“But you can call me Mega”, katanya pada perkenalan waktu itu. Mega ini satu-satunya yang gue tau namanya di awal masa menjadi reviewer. Awalnya gue mengira kalau dia orang Batak, tapi ternyata bukan. Bhahaha. Mega dari kecil sampai besar tinggal di Papua, meski orang tuanya bukan asli Papua. Kata orang, Mega ini serem. Mbuh serem apanya. Padahal aslinya dia mudah sekali tertawa, bernyanyi, dan berjoget.

3. Fitri

Fitri pada waktu itu adalah orang terakhir yang bergabung dengan tim reviewer. Di hari pertama dia datang, tepatnya seminggu setelah gue, Angelo, Mega, Tino, dan Mikael menempati ruangan terpencil itu, Fitri sudah menjadi target modus bapak-bapak di ruangan. Hal yang pertama gue tangkap adalah, “ini bocah kok polos amat,”. Bhahaha. Gue sempat nggak percaya kalau dia sedikit lebih tua dari gue. Wajah dan tingkah laku membuatnya dua tahun lebih muda. Ahaha. Fitri sering banget diganggu Angelo. Diusili, dijahili, dibuat seolah-olah Fitri lemot. Oleh karena itu, gue berinisiatif untuk membentuk Sahabat Fitri yang anggotanya terdiri dari Gue dan Shabrina.

4. Mikael

Ini abang-abang Batak. Suaranya kadang-kadang melengking. Hobi menjahili orang dan mengganggu gue bekerja. Sering diminta untuk membawa sesajen kepada kami berupa risol mayones. Mike ini mbuh deh. Ya namanya karakter orang kan beda-beda. #naonsih

5. Tino

Di pertemuan pertama, Tino terlihat bingung. Celingukan kesana-kemari, lihat sana-lihat sini. Dulu dia jarang berbicara kecuali ada Angelo. Makanya dulu sempat menduga bahwa energinya berada di Angelo. Bocah kelahiran tahun  1998 ini punya dua jargon yang terkenal seperti “Paan zi” dan “Panik aaamat”. Secara terang-terangan, ia mengakui mengidolakan Thomas si leader telemarketing dan Rebecca si bocah susah diam. Ketika Thomas dan Rebecca tak lagi berada di kantor yang sama, Tino memutuskan untuk mengidolakan Dava si anak PEDS. Sayangnya, Dava jual mahal hingga akhirnya Tino memutuskan untuk mengidolakan Young Lex saja. Yoo Wassap Yooo!

Selain lima orang di atas, masih ada 5 orang lagi yang kemudian bergabung menjadi tim reviewer pula. Ulasan tentang mereka ada di part 2 nanti yaw. Hahahaha. Ini tulisan nggak ada faedahnya ya? Lah memang. Memang tujuannya untuk membekukan memori saja.

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s