Monolo(gue) #10: Ini Teman, Bukan Rekan! (part 2)

Seperti yang gue beritahu sebelumnya, masih ada lima orang lagi yang kemudian bergabung dalam tim. Ceritanya panjang. Sepanjang jalan kenangan. Yang pasti, mereka bergabung setelah Angelo memutuskan untuk resign setelah galau tak berkesudahan. Dan nggak lama kemudian, Mike ikut resign. Kalau diurutkan berdasarkan abjad, mereka adalah Mardi, Muhammad Yusuf, Rani, Shabrina dan Sinta.

1. Mardi

Mardi ini anak baru. Anak baru? Iya, pokoknya anak baru. Nggak perlu dijelaskan, aku ingat kok kenapa disebut anak baru. Mardi ini berteman dengan Rani, meskipun beda fakultas. Meski gue dan Rani juga satu almamater, tapi gue nggak kenal Mardi sebelumnya. Rani mengenal orang Bogor ini karena sama-sama aktif di LPM. Stereotip gue mengenai anak-anak LPM langsung melintas lambat ketika melihat Mardi. Bhahaha. Maapin yak. Tumbuh dan kembang gue selama kuliah banyak dipengaruhi oleh yang onoh. Iye, yang onoh dah. Tapi sekarang aku open minded kok. Open minded dari segi maneeehhh. Yusuf dan Tino, entah kenapa senang sekali ngeledekin (bahasa bakunya ngeledekin teh apa yak?) Mardi, terutama dalam hal “ciye-ciye” in sama Sinta. Tapi da dianya mah malah senang diledekin sama Sinta. Ahaha.

2. Muhammad Yusuf

Biasa dipanggil Usup atau Ucup. Pertama kali lihat dia..hiii mukanya bocah abis. Ternyata benar. Masih bocah. Sama kayak Tino. Masih bocah karena dia dan Tino tiga atau empat tahun lebih muda dari gue. Aku kok udah tua yaaa. Meski hobinya ngatain orang (bahasa bakunya ngatain teh apa yak?) tanpa disaring terlebih dahulu, pada dasarnya dia adalah teman yang baik. Setidaknya untuk Tino. Kalau nggak ada Usup, siapa yang mau mengingatkan Tino untuk shalat? Ya kami lah yang tua-tua di kantor. Bhaha. Usup ini gemesin kalau lagi ngambek. Asa pengin nyubit pakai tang. Mau dimaklum karena dia masih bocah juga gimana, kan dia cowok. Makanya, kami suka geregetan. Mengaku puitis, caption foto-foto di akun Instagram-nya memang agak-agak. Agak-agak maksa. Tapi gue menghargai setiap orang yang berusaha untuk belajar menulis. Apalagi membaca. Karena aku pun sama demikian.

3. Rani

Ah, Rani mah nggak perlu diulas. Gue inget. Bhahaha. Kowe kenapa sih dimana-mana di-bully terus? Ku kan jadi prihatin…..

4. Shabrina

Di awal-awal, gue nggak terbiasa mendengar Shabrina yang nggak bisa berhenti berbicara. Pusing dah. Ahahaha. Maapin yak. Lama-kelamaan, gue jadi terbiasa, bahkan heran kalau dia jarang mengeluarkan suara. Ia sering mengaku bahwa dirinya jahat. Ya mbuh jahat yang seperti apa. Tapi gue mengidolakan ketegasan dan kegalakannya. Dia nggak mudah terpengaruh oleh orang lain dan berani membuat keputusan sendiri. Nggak lemah dah kayak gue. Hoahahaha. Ajarin gue galak, Shaaaaaab..

4. Sinta

Ah, Sinta mah nggak perlu diulas. Gue inget. Bhahaha. Sinta orangnya jujur dan apa adanya. Rajin menabung dan rajin membantu kedua orang tua. Ahahaha.

img_20161021_180908_1

 

Ini sebenarnya udah nggak fokus karena sedari tadi bolak-balik lihat postingan tentang Aksi 212. Speechless lah kuuuu T_T

Masih ada yang kurang. Nanti gue tambah lagi ya.. Mau baper duluu *run* *run*

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.

Iklan

2 thoughts on “Monolo(gue) #10: Ini Teman, Bukan Rekan! (part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s