Yang Terus Berulang Suatu Saat Henti

Kepada Mbak Rara Sekar dan Mas Ananda Badudu, izinkan aku meminjam sebentar sepotong bait milik kalian berdua. Jika telah selesai, aku berjanji akan mengembalikannya ke tempat semula.

Yang terus berulang, suatu saat akan terhenti jua.

Akhirnya terhenti; berdesak-desakan dalam gerbong KRL tujuan Jatinegara, pekerjaan yang monoton setiap harinya, tawa di atas pekerjaan, kebingungan memilih menu makan siang, menumpangi bajaj berwarna biru, kedatangan bus Transjakarta yang sering lama, serta malam yang semakin malam.

Yang aku ratapi bukanlah akhir, tapi membiasakan ketiadaan rutinitas. Membiasakan ini adalah proses yang tidak pernah aku suka.

Sepi kembali melambaikan tangan di ujung jalan. Ia tersenyum, “Hi, welocome back!”. Cepat-cepat kuusir dia, “Minggir kamu!”

Nampaknya aku perlu bersyukur dengan kelajanganku selama ini. Sebab aku adalah bagian dari kelompok SUMON. Sulit Move On. Pada tempat, teman, dan suasana saja aku sulit untuk berpindah. Aku sulit untuk merasa mantap pergi meninggalkan (dengan terpaksa) yang pernah ada untuk membentuk kenangan dengan tempat, teman, dan suasana baru. Ah, apa jadinya jika itu adalah seseorang yang harus aku pindahkan?

Pada suatu pertemuan, pernah kucurahkan apa yang ada dalam hati kepada salah satu teman. Aku ingin seperti orang-orang, yang bisa kuliah magister. Juga bekerja sesuai jurusan. Sebab ilmuku selama empat tahun terasa menguap begitu saja ke udara.

“Orang-orang idealis punya pemikiran seperti itu.”, tanggapnya beberapa detik kemudian.

Tapi apalah. Bukankah aku sendiri yang mengatakan tak perlu kuliah jika hanya demi mengikuti keinginan orang-yang bahkan-tidak berpengaruh sama sekali terhadap kehidupanku? Bukankah aku sendiri yang mengatakan bahwa pekerjaan yang sesuai dengan hobi lebih menyenangkan hati?

Kamu boleh saja sebut ini galau. Pada kenyataannya memang lebih banyak aku gunakan perasaan ini. 

Tapi kemudian, kegalauan ini perlahan memudar tatkala seorang teman, sebut saja Isna, memintaku untuk menonton kajian hari kiamat. 

Aku tahu, ada yang lebih penting untuk digalaukan.

Kepada alumni Glints, aku rindu. Itu saja cukup.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s