Benih Harapan dalam Sebuah Polibag

Judulnya sok serius banget, ya. Tak apa lah. Setidaknya aku nggak pakai judul click bait yang kontennya sering nggak relevan. Suka kzl aja gitu kalau lagi chilling sambil baca LINE Today yang memuat artikel-artikel dengan judul yang mengundang curiosity, tapi kontennya nggak relevan. Kalau sering baca dan benar-benar dibaca sampai habis, pasti pernah lah kamu merasakan kalau judulnya terlalu berlebihan. Ya mau gimana, hampir semua media online sekarang memakai judul click bait. Kenapa, coba? Karena kebanyakan orang (khusunya di Indonesia) itu malas membaca. Supaya pundi-pundi dollar itu tetap mengalir, maka dibuatlah judul-judul bombastis, fantastis, dan lebayis itu untuk memancing rasa ingin tahu.

Eh.. Ini kenapa jadi bahas ini, ya? Waa.. Maafkan, suka keceplosan.

Jadi gini……

Jeng jeeengg! Kalau orang-orang biasanya pakai tagar #latepost di Instagram.

Aku? … Jadi Duta Sheila On 7? Paan sih, nggak lucu.

Yang di foto itu kegiatan Minggu Cerdas pada 22 Januari lalu. Ada yang spesial di minggu kemarin. Pada hari itu kami menanam benih tanaman. Yeaay!

Nih, ya. Kalau aku boleh curhat terlebih dahulu, kadang tuh malas rasanya untuk buka pintu rumah, lalu ke luar menuju Depok. Yaa.. Rumahku ke Depok cuma 3 KM sih, padahal. Aku galau. Di rumah ada motor nganggur, tapi aku nggak berani untuk mengendarainya ke jalan Margonda. Nanti kalau aku mengendarai motor hitam ramping itu, dia jadi nggak nganggur lagi. Terus tinggal aku doang dong yang nganggur? Ha ha.

Tapi aku senaaaang sekali kalau sudah bertemu dengan adik-adik itu. Langitku yang tadinya abu-abu, tiba-tiba jadi biru. Tiba-tiba jadi semangat aja. Meskipun besoknya nggak semangat lagi, lalu lusa semangat, besok setelah lusa jadi nggak semangat, dan begitu aja terus berulang selama seminggu. Hahaha.

Ekspetasi memang selalu lebih tinggi daripada realita. Ekspektasi pada waktu itu adalah anak-anak belajar menanam benih sayur-sayuran perkelompok, dijelaskan sedikit tentang bagian-bagian tanaman serta proses fotosintesis, lalu tanaman disimpan di depan masjid. Realitanya adalah anak-anak terlalu bersemangat untuk memilih benih apa yang ingin mereka tanam (Ada cabe, bayam, pepaya, tomat, dan..umm.. Aku lupa), kebanyakan anak pura-pura nggak bisa melubangi tanah lantas hampir semua meminta tolong ke kakak pengajar untuk membantunya, dan benih yang sudah ditanam akhirnya mereka bawa pulang. 

Ah, memang. Harapan itu selalu perih.

Tapi nggak papa. Setidaknya mereka tahu bagaimana cara menanam. Mungkin lain kali kami akan nonton film bareng pakai LCD proyektor. Atau berenang. Atau bikin slime. Atau pura-pura jadi peneliti, lalu isolasi bakteri dari tanah. Yakaleee..

Aku paham, mereka pasti bosan diajak belajar melulu. Aku juga paham bagaimana rasanya mendengar “Kakak..kakak..” dari segala penjuru mata angin. Yang aku nggak paham adalah perasaanmu dahulu. Eeuuhh

Jadi begini, Adik-adik. Anggap aja aku sedang berbicara dengan adik-adik itu. Kami sebenarnya takut pada harapan yang orang tua kalian tanam kepada kami. Kami juga takut nggak diizinkan untuk pakai masjid lagi karena karpetnya terkena noda plastisin yang kami berikan kepada kalian. Kalian adalah benih, sementara kami hanyalah pupuk. Untuk dapat tumbuh menjadi akar, batang, daun, hingga menjadi tanaman sejati, kalian bukan hanya membutuhkan pupuk. Ada air, cahaya matahari, udara, suhu, dan kelembaban. Saat kecil, kalian tumbuh dalam polibag. Ketika sudah sempurna semua bagiannya, kalian akan pindah ke pot yang lebih besar. Kita hidup dengan harapan, dan kalian adalah harapan dalam sebuah polibag.

* Kami : Renita beserta jajarannya termasuk aku

** Tulisan ini sengaja dibuat nggak sistematis karena aku bosan terlalu sistematis 😂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s