Meli

Meliana, perempuan yang selalu nampak ceria dan ramah itu kukenal pada masa kuliah di kampus biru. Aku mengenalnya saat masih aktif di UKMI. Kemarin malam aku mendapat kabar bahwa ia telah kembali pulang pada Allah. Kupikir berita itu hanyalah berita hoax. Tapi banyaknya berita, ucapan, dan doa yang disampaikan orang-orang mau tak mau memaksaku untuk memercayainya. Inna lillahi wa inailahi raji’un.

Lamaaaa sekali tidak bertemu dengan Meli. Terakhir pertemuan itu aku ingat. Meli memintaku menemaninya untuk makan di kantin kampus, tapi aku menolaknya karena sudah makan lebih dulu. Aku juga ingat sewaktu aku memberitahunya tetang lapak baca buku di alun-alun. Orang yang pertama kali aku ingat ketika ada anggota Pecandu Buku yang mengadakan lapak membaca buku di alun-alun Purwokerto adalah Meli. Karena aku tahu, begitu dekatnya Meli dengan buku dan menulis. Semangatnya luar biasa. Ia bahkan banyak berkontribusi dalam dakwah kampus. Kesan yang tertinggal dalam benak orang-orang yang mengenalnya menjadi bukti bahwa ia adalah orang baik.

Lalu air mata ini semakin tak bisa kutahan ketika membaca tulisan terakhirnya di blog. Tulisan akan abadi. Seperti yang selalu ia katakan, semoga tulisannya menjadi amal saleh di yaumul hisab nanti.

Terima kasih, Januari. Kau menghadirkan dua kematian di bulan ini. Kalau hati ini masih hidup, diri ini pasti akan menjadikannya sebagai pengingat diri.

Selamat jalan, Meli.

Dan selamat jalan untuk Ilham, sepupuku yang juga pergi lebih dulu.

Allah loves you all.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s