Monolo(gue) #12: Ayam Goreng dan Rasa Syukur

“Bu, hari ini makannya pakai apa?”

Adalah pertanyaan yang hampir setiap hari gue tanyakan pada ibu. Kenapa nggak kamu yang masak, Nis? Malas. Nggak ada yang bakal percaya masakan gue. Ahaha.

Rumah gue hanya berisi 4 kepala. Hampir semua memiliki aktivitas pergi-pagi-pulang-malam. Jadilah ibu jarang masak. Sebenarnya setiap hari masak sih, tapi selalu berujung sia-sia karena kami termasuk keluarga yang nggak doyan makan. Semua makanan tersisa, pun makanan sebangsa cemilan. Kalau makanan sebangsa cemilan sih masih bisa dibagi-bagi ke saudara, tapi kalau main course..alah main course..agak aneh aja kalau cuma bagi-bagi tanpa nasi. Jadilah kalau ada orang atau saudara bertamu ke rumah, kayaknya mesti wajib makan. Ekekeke..

Ketika bingung mau masak lauk apa, ibu biasanya masak ayam goreng. Di antara 4 kepala, yang nggak makan ayam goreng cuma satu kepala, yaitu bapak gue. Bapak gue cuma mau makan ayam kampung. Katanya ayam potong nggak sehat karena suntik sana sini. Bapak juga suka bawel kalau gue makan ciki dengan rasa MSG yang kuat. Ciki itu tulisannya gimana sih? Ahaha. Ya itulah macam Taro, Cheetos, dan teman-temannya.

Nggak jarang, ibu masak ayam goreng beberapa hari berturut-turut. Ya karena sering sisa, jadi masih banyak yang belum digoreng. Belum lagi kalau ibu lagi nggak masak. Pasti beli lauk yang ada ayamnya. Entah itu digoreng, dibakar, diapain aja lah pokoknya ada si Gallus gallus itu. Mau diolah seperti apa pun, gue cuma pilih bagian femur. Haha. Femur. Wow. I almost forgot that term.

Gue yang mudah bosan, semena-mena sering bilang,

“Bosen, ah, makan ayam terus.”

Entah sudah berapa kali gue berkata demikian. Sampai kali ke berapa gue berbicara seperti itu, tiba-tiba otak gue kesetrum apaan tau, lalu ngoceh sendiri,

“Lu tuh harusnya bersyukur masih bisa merasakan bosan. Setiap hari masih bisa makan ayam goreng. Lu pikir semua orang bisa makan ayam goreng setiap hari? Lu pikir semua orang mampu beli ayam untuk digoreng? Makan lah yang ada, jangan malah mengeluh kalau dikasih rezeki.”

Dari ujung kiri, ibu hanya menatapku aneh karena anak perempuannya bisa mengeluh dan bijak dalam sekali waktu. Ngomong sendiri lagi. Wkwkwk. Ajaib bener. Kamu pernah merasakan nggak? Pasti pernah lah. Kita mah gitu. Seringnya lupa. Lupa kalau mungkin sebenarnya hidup yang kita jalani adalah hidup yang orang lain impikan. Kita juga sering lupa bahwa sesungguhnya nikmat dan rezeki yang berlimpah juga merupakan ujian; apakah rezeki yang sudah diberi itu digunakan untuk kebaikan atau kemaksiatan.

Kata Allah dalam surat Ibrahim ayat 7,

Sadeess.. Kayak orang bener ya gue. Ahaha. Ini namanya Note To Myself.

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s