Media Sosial yang Menjadikan Saya Tidak Normal…

Saya baru saja mencopot aplikasi Instagram di ponsel pintar yang kepintarannya melebihi kucing-kucing saya di rumah, setelah beberapa menit sebelumnya mengunggah sebuat foto. Bukan apa-apa sih, tidak ada masalah pula dengan foto itu. Saya cuma bosan. Bosan yang sesaat, bisa jadi. Beberapa teman mungkin sudah paham dengan kebiasaan saya yang sering dianggap sebagai perbuatan anak labil ini. Lepas aplikasi Instagram, pasang aplikasi Path. Bosan dengan Path, lepas lagi. Lepas-pasang-lepas-pasang. Begitu aja terus.

Saya cuma lelah. Begitu. Kalau menurut salah satu teman saya, seorang ambivert dan penganut netralisme (?), tidak perlu pakai media sosial kalau cuma bikin granda-grundu. Terlebih, mungkin saya orang kedua dalam grup WhatsApp dengan judul Part of Jiref itu yang sering berisik, nyinyir ini-itu, kritik tidak jelas, serta sering mengangkat pembicaraan-pembicaraan tidak penting. Entah sejak kapan prinsip saya berubah. Dari seseorang yang senang mengambil aman dan tidak mau pusing, menjadi seseorang yang…yaudah, kalau pro, pro aja. Kalau kontra, ya kontra aja. Kalau kamu berdiri di tengah jalan melulu kan bisa-bisa ditabrak bus, mobil pribadi, mobil abang Grab, bus Transjakarta, kopaja, motor abang Gojek, motor polisi yang mengawal pejabat di tengah kemacetan, atau bajaj yang ada sempaknya di belakang kursi penumpang. Apalagi kalau berdiri di tengah rel kereta, masih mau diam? Salah satu harus dipilih, kan? Lari ke kanan atau ke kiri. Ya kecuali kalau kamu memang berniat untuk bunuh diri. Hahaha. Ngawur, ya.

Instagram membuat saya merasa menjadi anak muda yang tidak normal. Tolong, izinkanlah saya menyebut diri saya muda. Setidaknya saya masih lajang dan belum berkeluarga. Dan belum bisa berpikiran dewasa.

Anak muda normal yang saya maksud disini adalah anak muda yang sering ke mall setiap akhir pekan, beli baju-baju bagus, beli peralatan rias yang mahal, nongkrong di cafe, nonton di bioskop, dan seperangkat kegiatan-kegiatan menyenangkan lainnya. Yang kalau kata orang, “Puas-puasin selagi masih muda.”

Saya? Pergi ke mall paling kalau ada perlu aja. Mengingat jalanan Jakarta sungguh melelahkan jiwa raga, menggetarkan hati bagi siapa saja yang melewatinya. Subhanallah…

Beli baju-baju mahal nan fashionable dan branded? Selain karena tidak memiliki pemahaman yang baik mengenai fashion, saya juga pasti akan membutuhkan modal besar agar nampak baik secara kulit. Maklum lah. Saya bukan eksekutif muda.

Beli peralatan rias mahal? Menonton tutorial aja langsung loncat ke menit terakhir. Sungguh, bukan tak ada keinginan. Sebagai perempuan biasa, pasti ada keinginan. Tapi ya mbuh. Ya begitu. Sulit untuk dipahami, bahkan oleh diri sendiri.

Nongkrong di cafe? Ah, bukan saya tidak ingin. Makanan di cafe itu sedikit, mana kenyang. Nih ya, kentang goreng di Cuci Mulut harganya lima belas ribu, isinya sedikit. Padahal dengan uang lima belas ribu, saya bisa makan kenyang dengan sadas D’Besto atau bakso pak kumis. Oh terima kasih, Allah. Kau telah menghadirkan teman-teman yang sering mengajak makan di D’Besto atau bakso di Beji. Pertemanan yang sangat sederhana, namun memiliki pandangan yang rumit di masing-masing kepala. Sungguh ballance rupanya.

Nonton film di bioskop? Saya lebih suka buku ketimbang film. Buku, menurut saya bisa bebas kita terjemahkan, dengan imajinasi-imajinasi yang kita bangun sendiri. Berbeda dengan film yang sudah disuguhkan secara instan. Ah ya, kapan saya terakhir kali ke bioskop? Pantas kudet. Hahaha.

Menurut kamu saya sedang iri? Nampaknya bukan. Kalau kamu bilang saya ini nggak gaul, mungkin iya. Hahaha. Begini, bukan iri sebenarnya. Tapi lebih kepada perasaan….“Banyak orang yang begitu, kok gue beda sendiri? Gue normal atau nggak sih?”

Makanya, ketika di Instagram saya melihat banyak orang yang mendedikasikan feeds nya untuk foto-foto koleksi buku miliknya, saya takjub. Ya, takjub. Takjub di luar rasa penasaran saya apakah semua buku itu ia baca, apakah semua buku itu rela bila dipinjam.

Beda lagi dengan media sosial yang dominan berwarna merah itu. Sebut saja ia Path. Linimasa Path kebanyakan hanya berisi informasi sedang di mana, makan di mana, makan pakai apa, dan jejeran informasi lainnya yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Mungkin penting bagi penculik. Hahaha. 

Iya, saya bercanda.

Lalu, Tumblr? Tumblr itu jenis microblogging atau bisa disebut juga media sosial tidak, ya? Dominan warna biru tua menjadikan saya cenderung untuk menuliskan hal-hal berbau galau. Hubungannya apa? Tidak tau, setidaknya itu yang saya rasa. Jika kamu merasa suatu tempat lebih sering menggalaukanmu ketimbang menyemangatimu, maka tinggalkanlah. Begitu sabda pak RT di salah satu kelurahan di Wellington.

Dan Facebook.. Menjadi sosial media yang mudah untuk menyebarkan tautan, termasuk di dalamnya adalah berita bohong dan ujaran kebencian. Kata Mas Ali, “Menyuguhkan tamu dengan kopi itu baik, tapi jangan dengan menyiramkannya ke muka.” Kalau kamu ingin mengingatkan sesama, pakailah dengan cara yang baik, bukan malah mengajak orang lain menyalakan api di SPBU. Padamkan api dengan air, bukan dengan api lagi. Mau bikin meledak sampai mana? Sampai semua terbakar dan tak tersisa?

Baiklah. Saya hanya kaum anak muda ‘marginal’, tak terlihat, dan terabaikan. Yang lebih sering jajan buku ketimbang jajan kopi Starbucks. Untung Starbucks cuma kopi. Coba kalau produknya adalah minuman coklat atau minuman rasa leci, kelak akan saya beli meski harganya sebanding dengan buku-bukunya Pram. Useeh.. Mahal yak.

Tapi yasudah, setiap orang berhak mengisi linimasanya dengan kreatifitasnya masing-masing. Tidak berperilaku hedon, bukan berarti tidak normal. Tidak banyak aktif di kegiatan sosial, bukan berarti tidak kece. Apa yang ada di media sosial memang yang baik-baik dan bagus-bagus aja. Jarang sekali ada orang yang dengan sengaja memamerkan aibnya di media sosial. Media sosial adalah lahan pencitraan. Bukan begitu? Coba bayangkan kalau dibalik. Media sosial adalah lahan pamer aib. Misal,

“Gue nggak puasa dong. Males amat puasa-puasa nahan laper.” — sambil unggah foto Burger King plus rokok A Mild di bulan Ramadhan.

Atau

“Gue lagi asik-asik sama pacar di tempat gelap, eh digerebek warga sekampung. Pada sirik amat ya.” — sambil unggah foto selfie bareng pacar yang mukanya udah tidak bermuka.

Astagfirullah. Kok jadi seram….

Ya.

Tidak apa kalau kamu anggap saya sirik dengan yang nampak di media sosial karena jomblo, jadi tidak ada yang bisa diajak jalan-jalan. Saya beritahu, pacaran itu tidak tercatat dalam pemerintah. Jadi ya sama aja, ilegal. Illegal loving kali (?).

Tidak apa pula kalau kamu anggap saya sedang nyinyir. Saya memang suka nyinyir. Terlebih setelah mandi dan keramas. Tidak nyinyir sebulan akan mengakibatkan kita menjadi gimbal.  

Betul begitu, eh?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s