0

Monolo(gue) #13: Guys, Kumpul Yuk!

“Guys, kumpul yuk!”

“Yuk. Kapan?”

“Kapan yaaa..”

Pernah merasa semacam de javu gitu nggak dengan percakapan di atas? Pasti pernah. Ajakan kumpul ini menurut gue pantas masuk ke dalam 10 kebohongan yang hampir seluruh manusia pernah melakukannya. Ajakan kumpul yang cuma jadi wacana, lantas berdebu dan ditinggalkan begitu saja dalam kolom chat yang usang. Semacam basa basi yang beneran basi. Awalnya bilang ‘yuk’, lama-lama menghilang tanpa kabar bagai dikejar utang cicilan mesin cuci. Atau bisa juga kejadiannya begini.. Ada yang semangat untuk ketemu, tapi yang lain nggak. Akhirnya ajakan yuk tersebut cuma keanginan aja, terus terbang kemana-mana. Kasian yang merindu sendirian kan kalau gitu. Ajakan seriusnya malah jadi basi. Udah jomblo, masih ditolak juga sama teman sepermainan. Hahaha.

Kalau dulu, mungkin gue termasuk orang yang sering mengiyakan kalau diajak kumpul sama suatu kelompok tertentu. Bukan karena gue pengin dilihat rajin, kebangetan rajin, atau nggak punya kerjaan. Apalagi kalau berdalih untuk bertemu dengan seseorang. Nggak, nggak gitu gue mah. Gue juga sibuk. Sama kayak yang lain. Gue mesti rapiin kamar, nyuci baju, nyetrika, ngerjain tugas atau laporan praktikum yang mematikan jiwa raga, ngurusin kerjaan orang, nyari duit tambahan, melamun di pinggir jalan, dan sekelumit kerjaan lainnya yang orang-orang mungkin bakalan santai menjalaninya tapi gue nggak. Percayalah, wahai rakyatku. Gue juga sibuk. Gue sibuk, tapi punya prioritas. Gue tau apa-apa yang lebih penting dari apa. Gue tau mana yang harus dikerjakan lebih dahulu ketimbang mana yang lain. Jadi, kalau gue berusaha untuk mengiyakan ajakan menyambung tali jemuran..eh silaturahim, artinya prioritas gue ada di situ. Nah kalau orang lain punya tujuh ratus sembilan puluh tiga alasan untuk bilang, “gue nggak bisa”, yaudah.. Artinya memang pertemuan itu bukan menjadi prioritasnya dia. Gampang, kan? Udah, nggak usah mutung.

Orang mungkin bisa bebas-bebas aja berargumen. Tapi pernah nggak, mikirin manusia yang sifatnya itu memang pengin selalu membahagiakan orang lain? Memang sih, itu sifat yang agak terkutuk. Kayak..menyiksa batin siapa pun. Tapi coba lah sekali-kali membahagiakan dia juga. Kalau sama-sama saling membahagiakan kan indah rasanya. Jangan ribut melulu kayak pendukung Ahok sama FPI. Ndak damai itu mah. Damai itu jalanan ke rumahkuh. *apa sih*

Kesimpulannya adalah.. Daripada beralasan sibuk ini itu, lebih baik jujur. Misal, “Sorry, gue udah malas ke sana bareng kalian.” atau “Sorry, kalian cuma debu yang nempel di jendela rumahku. Tuh sekarang jendela rumahku udah bersih. Sama kayak kalian di hidup aku.”

Ingat, Guys. Sibuk adalah alasan klasik. Cobalah untuk lebih kreatif. Trims.

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.

Iklan
0

Monolo(gue) #12: Ayam Goreng dan Rasa Syukur

“Bu, hari ini makannya pakai apa?”

Adalah pertanyaan yang hampir setiap hari gue tanyakan pada ibu. Kenapa nggak kamu yang masak, Nis? Malas. Nggak ada yang bakal percaya masakan gue. Ahaha.

Rumah gue hanya berisi 4 kepala. Hampir semua memiliki aktivitas pergi-pagi-pulang-malam. Jadilah ibu jarang masak. Sebenarnya setiap hari masak sih, tapi selalu berujung sia-sia karena kami termasuk keluarga yang nggak doyan makan. Semua makanan tersisa, pun makanan sebangsa cemilan. Kalau makanan sebangsa cemilan sih masih bisa dibagi-bagi ke saudara, tapi kalau main course..alah main course..agak aneh aja kalau cuma bagi-bagi tanpa nasi. Jadilah kalau ada orang atau saudara bertamu ke rumah, kayaknya mesti wajib makan. Ekekeke..

Ketika bingung mau masak lauk apa, ibu biasanya masak ayam goreng. Di antara 4 kepala, yang nggak makan ayam goreng cuma satu kepala, yaitu bapak gue. Bapak gue cuma mau makan ayam kampung. Katanya ayam potong nggak sehat karena suntik sana sini. Bapak juga suka bawel kalau gue makan ciki dengan rasa MSG yang kuat. Ciki itu tulisannya gimana sih? Ahaha. Ya itulah macam Taro, Cheetos, dan teman-temannya.

Nggak jarang, ibu masak ayam goreng beberapa hari berturut-turut. Ya karena sering sisa, jadi masih banyak yang belum digoreng. Belum lagi kalau ibu lagi nggak masak. Pasti beli lauk yang ada ayamnya. Entah itu digoreng, dibakar, diapain aja lah pokoknya ada si Gallus gallus itu. Mau diolah seperti apa pun, gue cuma pilih bagian femur. Haha. Femur. Wow. I almost forgot that term.

Gue yang mudah bosan, semena-mena sering bilang,

“Bosen, ah, makan ayam terus.”

Entah sudah berapa kali gue berkata demikian. Sampai kali ke berapa gue berbicara seperti itu, tiba-tiba otak gue kesetrum apaan tau, lalu ngoceh sendiri,

“Lu tuh harusnya bersyukur masih bisa merasakan bosan. Setiap hari masih bisa makan ayam goreng. Lu pikir semua orang bisa makan ayam goreng setiap hari? Lu pikir semua orang mampu beli ayam untuk digoreng? Makan lah yang ada, jangan malah mengeluh kalau dikasih rezeki.”

Dari ujung kiri, ibu hanya menatapku aneh karena anak perempuannya bisa mengeluh dan bijak dalam sekali waktu. Ngomong sendiri lagi. Wkwkwk. Ajaib bener. Kamu pernah merasakan nggak? Pasti pernah lah. Kita mah gitu. Seringnya lupa. Lupa kalau mungkin sebenarnya hidup yang kita jalani adalah hidup yang orang lain impikan. Kita juga sering lupa bahwa sesungguhnya nikmat dan rezeki yang berlimpah juga merupakan ujian; apakah rezeki yang sudah diberi itu digunakan untuk kebaikan atau kemaksiatan.

Kata Allah dalam surat Ibrahim ayat 7,

Sadeess.. Kayak orang bener ya gue. Ahaha. Ini namanya Note To Myself.

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.

0

Monolo(gue) #11: Penting Nggak Sih?

Halooo.. This is my first post in 2017! Wuuw. Gue bingung mau bahas apa. Kendala akhir2 ini sering mengurungkan niat untuk menulis sesuatu. Di blog ini pun sudah dua kali nge-draft tapi akhirnya batal dipublikasikan. Nggak tau ya, jadi nggak percaya diri gitu. Haha. Bahkan sering nulis caption atau komentar yang pada akhirnya hanya diketik lalu dihapus. 

Hmm.. Mungkin gue sudah mulai memahami apa gunanya media sosial. 

Dunia nggak perlu tahu apa yang gue lakukan sekarang. Orang-orang nggak perlu tau gue kerja di mana, makan siang di mana, weekend pergi ke mana, and so on. Orang-orang nggak perlu tau gue baru beli ini beli itu, gue dapat kado apa, gue mau apa, and so on. Kenapa? Karena nggak penting. Nggak penting juga mereka tau wujud gue kalau selfie kayak apa. Ahaha. Ini sensitif banget. Beberapa tahun lalu gue pernah berusaha mendebatkan perihal “Kenapa akhwat (pada waktu itu gue artikan dalam arti sempit) nggak boleh pasang foto profil menampakkan wajah, tapi ikhwan (yang juga gue artikan sempit) boleh-boleh aja pasang muka sok ganteng.” Dan semua orang memberikan jawaban yang….oke..fine. Logis, tapi tetap nggak memuaskan buat gue. Hingga pada akhirnya gue diam dan mengerti dengan sendirinya. Gue serem aja waktu googling nama sendiri langsung muncul foto-foto yang pernah gue upload di media sosial. Lah segitu mudahnya menemukan gue di internet. Gue nggak cakep sih (Ya.. Siapa juga yang mau ngisengin muka gue. Wkwk), tapi risih aja kalau muka gue tersebar begitu aja di search engine. Nggak relaaaaaa. Akhirnya gue hapus tuh semua foto yang menampakkan wajah dengan jelas. Sekarang juga jadi selektif kalau mau upload foto. Cuma di BBM aja masih berani pajang selfie, itu juga setelah gue hapus semua kontak laki-laki di dalamnya. Maapin yak. Pertemanan kita nggak akan putus hanya karena delete contact BBM. Ahahaha.

Iya gitu. Gue jadi berpikir berkali-kali ketika akan membagikan sesuatu di media sosial. Entah itu foto atau tulisan. Penting nggak sih yang gue share? Ya pikir aja berapa banyak manfaatnya. Ahaha. Nggak ada yang peduli juga. Kecuali gue Raisa dengan sejuta penggemar. Untungnya gue Annisa, bukan Raisa. Coba Raisa, lebih gendut sedikit aja langsung diperhatikan orang banyak.

Jadi.. Di 2017 ini lebih bijak lagi yah dalam menggunakan internet, khususnya media sosial. Iya iya.. Nggak ada mau memahami juga kan walaupun gue koar-koar kalau karakter gue memang ISTJ (dan masih nanya kenapa gue begini dan begitu)? Ya iyalah, Nis. Elu pikir hidup ini hanya perkara dipahami tanpa memahami.

Dih.

Paanzi.

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.

2

Monolo(gue) #10: Ini Teman, Bukan Rekan! (part 2)

Seperti yang gue beritahu sebelumnya, masih ada lima orang lagi yang kemudian bergabung dalam tim. Ceritanya panjang. Sepanjang jalan kenangan. Yang pasti, mereka bergabung setelah Angelo memutuskan untuk resign setelah galau tak berkesudahan. Dan nggak lama kemudian, Mike ikut resign. Kalau diurutkan berdasarkan abjad, mereka adalah Mardi, Muhammad Yusuf, Rani, Shabrina dan Sinta.

1. Mardi

Mardi ini anak baru. Anak baru? Iya, pokoknya anak baru. Nggak perlu dijelaskan, aku ingat kok kenapa disebut anak baru. Mardi ini berteman dengan Rani, meskipun beda fakultas. Meski gue dan Rani juga satu almamater, tapi gue nggak kenal Mardi sebelumnya. Rani mengenal orang Bogor ini karena sama-sama aktif di LPM. Stereotip gue mengenai anak-anak LPM langsung melintas lambat ketika melihat Mardi. Bhahaha. Maapin yak. Tumbuh dan kembang gue selama kuliah banyak dipengaruhi oleh yang onoh. Iye, yang onoh dah. Tapi sekarang aku open minded kok. Open minded dari segi maneeehhh. Yusuf dan Tino, entah kenapa senang sekali ngeledekin (bahasa bakunya ngeledekin teh apa yak?) Mardi, terutama dalam hal “ciye-ciye” in sama Sinta. Tapi da dianya mah malah senang diledekin sama Sinta. Ahaha.

2. Muhammad Yusuf

Biasa dipanggil Usup atau Ucup. Pertama kali lihat dia..hiii mukanya bocah abis. Ternyata benar. Masih bocah. Sama kayak Tino. Masih bocah karena dia dan Tino tiga atau empat tahun lebih muda dari gue. Aku kok udah tua yaaa. Meski hobinya ngatain orang (bahasa bakunya ngatain teh apa yak?) tanpa disaring terlebih dahulu, pada dasarnya dia adalah teman yang baik. Setidaknya untuk Tino. Kalau nggak ada Usup, siapa yang mau mengingatkan Tino untuk shalat? Ya kami lah yang tua-tua di kantor. Bhaha. Usup ini gemesin kalau lagi ngambek. Asa pengin nyubit pakai tang. Mau dimaklum karena dia masih bocah juga gimana, kan dia cowok. Makanya, kami suka geregetan. Mengaku puitis, caption foto-foto di akun Instagram-nya memang agak-agak. Agak-agak maksa. Tapi gue menghargai setiap orang yang berusaha untuk belajar menulis. Apalagi membaca. Karena aku pun sama demikian.

3. Rani

Ah, Rani mah nggak perlu diulas. Gue inget. Bhahaha. Kowe kenapa sih dimana-mana di-bully terus? Ku kan jadi prihatin…..

4. Shabrina

Di awal-awal, gue nggak terbiasa mendengar Shabrina yang nggak bisa berhenti berbicara. Pusing dah. Ahahaha. Maapin yak. Lama-kelamaan, gue jadi terbiasa, bahkan heran kalau dia jarang mengeluarkan suara. Ia sering mengaku bahwa dirinya jahat. Ya mbuh jahat yang seperti apa. Tapi gue mengidolakan ketegasan dan kegalakannya. Dia nggak mudah terpengaruh oleh orang lain dan berani membuat keputusan sendiri. Nggak lemah dah kayak gue. Hoahahaha. Ajarin gue galak, Shaaaaaab..

4. Sinta

Ah, Sinta mah nggak perlu diulas. Gue inget. Bhahaha. Sinta orangnya jujur dan apa adanya. Rajin menabung dan rajin membantu kedua orang tua. Ahahaha.

img_20161021_180908_1

 

Ini sebenarnya udah nggak fokus karena sedari tadi bolak-balik lihat postingan tentang Aksi 212. Speechless lah kuuuu T_T

Masih ada yang kurang. Nanti gue tambah lagi ya.. Mau baper duluu *run* *run*

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.

0

Monolo(gue) #10: Ini Teman, Bukan Rekan! (part 1)

Lah memang apa bedanya rekan dengan teman? Mbuh. Menurut KBBI, rekan adalah teman sekerja, sementara teman adalah teman. Teman adalah kawan. Teman bisa jadi adalah sahabat. Teman, ya teman. Bukan yang banyak rumputnya itu loh. Bukan. Menurut gue keduanya memiliki pengertian yang hampir sama, namun maknanya berbeda. Buat gue, rekan hanya membicarakan masalah kerja dan cenderung kaku. Jadi, karena orang-orang yang biasa gue temui lebih dari 9 jam dalam sehari selama berbulan-bulan ini sama sekali tidak masuk ke dalam golongan kaku layaknya kanebo kering, bisa dikatakan..mereka adalah teman. Maaf ya, kalau gue lancang. Ya gimana, mereka terlalu ‘pe-A’ untuk dianggap rekan biasa. Ahahaha.

Pada seri tulisan tidak berfaedah edisi 10 kali ini, gue mau menceritakan sedikit tentang mereka. Terkesan seperti kebiasaan anak sekolah sih, tapi percayalah. Pada dasarnya gue adalah orang yang pelupa, dan menulis adalah satu-satunya cara untuk membekukan ingatan. Huehehehe.

Kerjaan kami setiap hari adalah mengecek data bapak-bapak, mas-mas, atau segelintir makhluk dari venus yang berkeinginan untuk memiliki penghasilan lebih dengan menjadi supir. Kalau bahasa kerennya mah, driver. Gitu. Pada awalnya, kami hanya terdiri dari enam orang. Kalau menurut abjad, bisa diurutkan; Angelo, Annisa, Damaryati (a.k.a Mega), Fitri, Mikael, dan Tino. Okay. Gue mau ulas satu-satu, ya. Kecuali Annisa. Karena apa? Annisa adalah saya. Annisa adalah gue. #naonsih

1. Angelo

Di antara kami, Angelo adalah yang paling tua. Pengalaman hidupnya sedikit lebih banyak, meskipun kelakuannya ya nggak beda jauh dengan yang lain. Angelo pernah beberapa kali mencoba menjadi pendiam selama di kantor, tapi ia selalu gagal. Angelo tetaplah Angelo. Banyak cerita, banyak tertawa, banyak bercanda, dan futsal adalah hidupnya. Gue suka sok tahu kalau sebenarnya ia menyimpan banyak luka. Bhahaha. Angelo suka cerita. Banyak yang ia ceritakan, termasuk kalau dulunya ia gendut. Terakhir, dia suka diet nasi. Tapi sering kami marahi karena hampir setiap hari dia makan mie. Ah, kalau mau mengulas ini anak mah bakalan jadi panjang. Intinya adalah banyak cerita, futsal, dan suka nyanyi.

2. Damaryati

“But you can call me Mega”, katanya pada perkenalan waktu itu. Mega ini satu-satunya yang gue tau namanya di awal masa menjadi reviewer. Awalnya gue mengira kalau dia orang Batak, tapi ternyata bukan. Bhahaha. Mega dari kecil sampai besar tinggal di Papua, meski orang tuanya bukan asli Papua. Kata orang, Mega ini serem. Mbuh serem apanya. Padahal aslinya dia mudah sekali tertawa, bernyanyi, dan berjoget.

3. Fitri

Fitri pada waktu itu adalah orang terakhir yang bergabung dengan tim reviewer. Di hari pertama dia datang, tepatnya seminggu setelah gue, Angelo, Mega, Tino, dan Mikael menempati ruangan terpencil itu, Fitri sudah menjadi target modus bapak-bapak di ruangan. Hal yang pertama gue tangkap adalah, “ini bocah kok polos amat,”. Bhahaha. Gue sempat nggak percaya kalau dia sedikit lebih tua dari gue. Wajah dan tingkah laku membuatnya dua tahun lebih muda. Ahaha. Fitri sering banget diganggu Angelo. Diusili, dijahili, dibuat seolah-olah Fitri lemot. Oleh karena itu, gue berinisiatif untuk membentuk Sahabat Fitri yang anggotanya terdiri dari Gue dan Shabrina.

4. Mikael

Ini abang-abang Batak. Suaranya kadang-kadang melengking. Hobi menjahili orang dan mengganggu gue bekerja. Sering diminta untuk membawa sesajen kepada kami berupa risol mayones. Mike ini mbuh deh. Ya namanya karakter orang kan beda-beda. #naonsih

5. Tino

Di pertemuan pertama, Tino terlihat bingung. Celingukan kesana-kemari, lihat sana-lihat sini. Dulu dia jarang berbicara kecuali ada Angelo. Makanya dulu sempat menduga bahwa energinya berada di Angelo. Bocah kelahiran tahun  1998 ini punya dua jargon yang terkenal seperti “Paan zi” dan “Panik aaamat”. Secara terang-terangan, ia mengakui mengidolakan Thomas si leader telemarketing dan Rebecca si bocah susah diam. Ketika Thomas dan Rebecca tak lagi berada di kantor yang sama, Tino memutuskan untuk mengidolakan Dava si anak PEDS. Sayangnya, Dava jual mahal hingga akhirnya Tino memutuskan untuk mengidolakan Young Lex saja. Yoo Wassap Yooo!

Selain lima orang di atas, masih ada 5 orang lagi yang kemudian bergabung menjadi tim reviewer pula. Ulasan tentang mereka ada di part 2 nanti yaw. Hahahaha. Ini tulisan nggak ada faedahnya ya? Lah memang. Memang tujuannya untuk membekukan memori saja.

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.

0

Monolo(gue) #9: Yang Menyebalkan dalam Gerbong KRL

rel-kereta

Manusia-manusia pekerja pada umumnya memiliki setidaknya satu rutinitas yang sama. Terkhusus bagi manusia-manusia sub urban, mau tidak mau commuter line atau Kereta Rel Listrik (KRL) menjadi transportasi pilihan. Selain karena ‘tak ada pilihan lain’, tarif kereta untuk sekali perjalanan tergolong murah. Yes. Naik kereta menuju kantor merupakan salah satu kesamaan rutinitas yang dimiliki oleh manusia-manusia sub urban.

Sebentar.. Paragraf pembukanya kenapa jadi resmi macam artikel ya? Ini kan Monolo(gue). Hehe..

Gue sendiri yang aslinya adalah warga Jakarta, pun harus ikut berjuang bersama manusia-manusia sub urban menuju kantor. Sebenarnya gue bukan pekerja kantoran seperti mereka. Gue lebih memilih menyebut diri sebagai pembantu. Pembantu perusahaan orang, lebih tepatnya. Setiap pagi gue harus berjuang di medan perang. Ya, anggap aja gerbong kereta adalah medan perang. Yang mampu bertahan, dia lah yang menang untuk dirinya sendiri. Anak kereta (sebutan untuk orang-orang yang terbiasa menggunakan kereta), pasti sudah paham bagaimana peliknya dunia per-KRL-an di wilayah Jabodetabek ini. Lebih pelik lagi di jam-jam berangkat kerja. Penuh dan sesak. Bagi kamu yang memiliki penyakit asma, tubuh kurang sehat, atau sedang galau (lah), tidak disarankan untuk naik kereta pagi saat hari kerja. Lebih baik cari transportasi yang lebih memberikanmu ruang lebih untuk sekadar menghiup O2.

Baca lebih lanjut

0

Monolo(gue) #8: Kontemplasi Seorang Manusia Berumur 20+

Prolog

  1. “Chaw.. Kalau lo nulis, gue nggak bisa lihat ekspresi lo!” Protes Mutia yang amat sadar bahwa gue lebih sering bercerita lewat tulisan daripada suara. “Yah. Gue mah ngomong juga tetap nggak ada ekspresinya, datar.”
  2. Monolo(gue) ini sebenarnya adalah representasi dari keresahan dan tanda tanya yang ada di otak ini. Kalau kata Aan Mansyur, otak itu ibarat kantor yang selalu sibuk. Jadi, otak gue selalu sibuk. Nah, tulisan ini adalah salah satu dari hasil kerja otak gue. Hahaha. #naonsih

Okay. Sebenarnya pada awalnya ini hanyalah sebuah ide pokok yang tersimpan dua bulan lamanya. Iya, dua bulan rehat dari ngoceh sendiri di blog. Dua bulan ini gue sedang menjalani kehidupan seperti layaknya orang-orang biasa. Bangun pagi, pergi ke halte (atau stasiun), duduk depan laptop, ngantuk, pulang malam, dan tidur. Rutinitas yang sama selama 5 dari 7 hari. Malah terkadang 7 dari 7 hari dalam seminggu. Sabtu dan Minggu gue jadi nggak produktif. Gue lebih banyak tidur. Pun otak gue semakin nggak terasah. Gue jadi sering poliandri buku tanpa menyelesaikannya sampai halaman terakhir. Entahlah. Gue nggak paham dengan ritme ini. Terlebih, laptop gue sedang kritis. Gue mengetik ini melalui WordPress App di handphone. Rasanya nggak leluasa. Biar kata tulisan gue nggak ada yang penting, gue nulis Monolo(gue) pun biasa googling dulu. Hahaha. Doakan agar si laptop maroon mampu berjuang, ya!

Akhir-akhir ini gue sering berkontemplasi, melamun di tengah keramaian ibukota, eeh tau-tau bus nya kebablasan. Haha.

Mungkin bukan gue doang yang feeling insecure di umur 20+ ini. Banyak banget yang dikhawatirkan, terutama mengenai masa depan. Di umur ini, gue sudah bisa melihat kesuksesan teman-teman sekolah gue. Ada yang kerja di perusahaan multinasional, kuliah di luar negeri, nikah dan punya anak, daaan lain-lain yang gue anggap sukses. Di umur ini, indikator kesuksesan bukan lagi dilihat dari sekolah di mana ia, ranking berapa di kelas, atau IPK 3 koma yang didapat setiap semester. Yang dulunya berprestasi, belum tentu sekarang sukses. Pun sama. Yang dulunya nakal, bisa jadi sekarang malah sukses. Ada kok. Ada banyak di sekitar gue. Gue jadi mikir… Apa sih yang menjamin kita sukses nantinya? Iye, gue paham. Setiap orang punya definisi suksesnya masing-masing. Gue juga paham bahwa kesuksesan itu nggak hanya ditentukan oleh satu faktor. Kesuksesan nggak hanya ditentukan oleh IQ. Menurut gue, faktor lain itu adalah faktor bejo, passion, dan kerja keras. Nah.. Yang setuju sila ketik AMIN di komentar ya. Hahaha. #naonsih

Faktor bejo. Nah.. Ini sih memang sudah jalannya. Allah menakdirkan dia begitu, ya begitu. Belum lagi ditambah doa dari kedua orang tuanya, terutama doa seorang ibu. Manjuuuurr dah.. Belum lagi juga kalau ada orang dalem. #eh

Passion. Yakiiiiiin banget kalau orang sukses itu memiliki passion yang kuat. In my sotoy opinion, lu nggak bakal hidup kalau lu nggak punya passion. Hidup sih, tapi paling jadi zombie. Selama seseorang tau betul passion nya apa, walaupun di masa lalu dia malas atau nakal, dia sudah selangkah lebih maju untuk sukses. Nah.. Tinggal faktor kerja keras aja yang mendukung untuk langkah selanjutnya.

………………………………………………………….

Berat memang kalau sudah memasuki umur….ya bukan lagi umur remaja yang masih bisa bercanda di angkot. Yak. Tiba-tiba teringat sekumpulan remaja yang suka berisik di angkot. Okay. Gue dulu pun begitu.

Teman yang dulu biasa aja, kini cantik dan modis. Teman yang dulu nggak rajin-rajin amat, kini sukses di pasca sarjana. Teman yang dulu tidak bersinar, kini sangat bersinar bagaikan lampu neon. Sedangkan gue? Dulu buluq, kini tambah buluq. Dulu tidak bersinar, sekarang? Hahaha. Ya gitu. Insecure itu nggak akan ada habisnya kalau kita terus membandingkan diri dengan orang lain. Jadikan aja kita yang lebih dulu sebagai patokannya, lebih baik dari diri yang dulu atau justru malah lebih buruk. Gue sendiri masih belajar. Daripada terus-terusan membandingkan diri, lebih baik gue mempelajari mindfulness agar lebih fokus dan produktif. Iya nggak? Iya aja, udah!

Stop comparing yourself with others. If they are good at something, you too are good at something else. – Stephen Richards

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.