0

Media Sosial yang Menjadikan Saya Tidak Normal…

Saya baru saja mencopot aplikasi Instagram di ponsel pintar yang kepintarannya melebihi kucing-kucing saya di rumah, setelah beberapa menit sebelumnya mengunggah sebuat foto. Bukan apa-apa sih, tidak ada masalah pula dengan foto itu. Saya cuma bosan. Bosan yang sesaat, bisa jadi. Beberapa teman mungkin sudah paham dengan kebiasaan saya yang sering dianggap sebagai perbuatan anak labil ini. Lepas aplikasi Instagram, pasang aplikasi Path. Bosan dengan Path, lepas lagi. Lepas-pasang-lepas-pasang. Begitu aja terus.

Saya cuma lelah. Begitu. Kalau menurut salah satu teman saya, seorang ambivert dan penganut netralisme (?), tidak perlu pakai media sosial kalau cuma bikin granda-grundu. Terlebih, mungkin saya orang kedua dalam grup WhatsApp dengan judul Part of Jiref itu yang sering berisik, nyinyir ini-itu, kritik tidak jelas, serta sering mengangkat pembicaraan-pembicaraan tidak penting. Entah sejak kapan prinsip saya berubah. Dari seseorang yang senang mengambil aman dan tidak mau pusing, menjadi seseorang yang…yaudah, kalau pro, pro aja. Kalau kontra, ya kontra aja. Kalau kamu berdiri di tengah jalan melulu kan bisa-bisa ditabrak bus, mobil pribadi, mobil abang Grab, bus Transjakarta, kopaja, motor abang Gojek, motor polisi yang mengawal pejabat di tengah kemacetan, atau bajaj yang ada sempaknya di belakang kursi penumpang. Apalagi kalau berdiri di tengah rel kereta, masih mau diam? Salah satu harus dipilih, kan? Lari ke kanan atau ke kiri. Ya kecuali kalau kamu memang berniat untuk bunuh diri. Hahaha. Ngawur, ya.

Instagram membuat saya merasa menjadi anak muda yang tidak normal. Tolong, izinkanlah saya menyebut diri saya muda. Setidaknya saya masih lajang dan belum berkeluarga. Dan belum bisa berpikiran dewasa.

Anak muda normal yang saya maksud disini adalah anak muda yang sering ke mall setiap akhir pekan, beli baju-baju bagus, beli peralatan rias yang mahal, nongkrong di cafe, nonton di bioskop, dan seperangkat kegiatan-kegiatan menyenangkan lainnya. Yang kalau kata orang, “Puas-puasin selagi masih muda.”

Saya? Pergi ke mall paling kalau ada perlu aja. Mengingat jalanan Jakarta sungguh melelahkan jiwa raga, menggetarkan hati bagi siapa saja yang melewatinya. Subhanallah…

Beli baju-baju mahal nan fashionable dan branded? Selain karena tidak memiliki pemahaman yang baik mengenai fashion, saya juga pasti akan membutuhkan modal besar agar nampak baik secara kulit. Maklum lah. Saya bukan eksekutif muda.

Beli peralatan rias mahal? Menonton tutorial aja langsung loncat ke menit terakhir. Sungguh, bukan tak ada keinginan. Sebagai perempuan biasa, pasti ada keinginan. Tapi ya mbuh. Ya begitu. Sulit untuk dipahami, bahkan oleh diri sendiri.

Nongkrong di cafe? Ah, bukan saya tidak ingin. Makanan di cafe itu sedikit, mana kenyang. Nih ya, kentang goreng di Cuci Mulut harganya lima belas ribu, isinya sedikit. Padahal dengan uang lima belas ribu, saya bisa makan kenyang dengan sadas D’Besto atau bakso pak kumis. Oh terima kasih, Allah. Kau telah menghadirkan teman-teman yang sering mengajak makan di D’Besto atau bakso di Beji. Pertemanan yang sangat sederhana, namun memiliki pandangan yang rumit di masing-masing kepala. Sungguh ballance rupanya.

Nonton film di bioskop? Saya lebih suka buku ketimbang film. Buku, menurut saya bisa bebas kita terjemahkan, dengan imajinasi-imajinasi yang kita bangun sendiri. Berbeda dengan film yang sudah disuguhkan secara instan. Ah ya, kapan saya terakhir kali ke bioskop? Pantas kudet. Hahaha.

Menurut kamu saya sedang iri? Nampaknya bukan. Kalau kamu bilang saya ini nggak gaul, mungkin iya. Hahaha. Begini, bukan iri sebenarnya. Tapi lebih kepada perasaan….“Banyak orang yang begitu, kok gue beda sendiri? Gue normal atau nggak sih?”

Makanya, ketika di Instagram saya melihat banyak orang yang mendedikasikan feeds nya untuk foto-foto koleksi buku miliknya, saya takjub. Ya, takjub. Takjub di luar rasa penasaran saya apakah semua buku itu ia baca, apakah semua buku itu rela bila dipinjam.

Beda lagi dengan media sosial yang dominan berwarna merah itu. Sebut saja ia Path. Linimasa Path kebanyakan hanya berisi informasi sedang di mana, makan di mana, makan pakai apa, dan jejeran informasi lainnya yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Mungkin penting bagi penculik. Hahaha. 

Iya, saya bercanda.

Lalu, Tumblr? Tumblr itu jenis microblogging atau bisa disebut juga media sosial tidak, ya? Dominan warna biru tua menjadikan saya cenderung untuk menuliskan hal-hal berbau galau. Hubungannya apa? Tidak tau, setidaknya itu yang saya rasa. Jika kamu merasa suatu tempat lebih sering menggalaukanmu ketimbang menyemangatimu, maka tinggalkanlah. Begitu sabda pak RT di salah satu kelurahan di Wellington.

Dan Facebook.. Menjadi sosial media yang mudah untuk menyebarkan tautan, termasuk di dalamnya adalah berita bohong dan ujaran kebencian. Kata Mas Ali, “Menyuguhkan tamu dengan kopi itu baik, tapi jangan dengan menyiramkannya ke muka.” Kalau kamu ingin mengingatkan sesama, pakailah dengan cara yang baik, bukan malah mengajak orang lain menyalakan api di SPBU. Padamkan api dengan air, bukan dengan api lagi. Mau bikin meledak sampai mana? Sampai semua terbakar dan tak tersisa?

Baiklah. Saya hanya kaum anak muda ‘marginal’, tak terlihat, dan terabaikan. Yang lebih sering jajan buku ketimbang jajan kopi Starbucks. Untung Starbucks cuma kopi. Coba kalau produknya adalah minuman coklat atau minuman rasa leci, kelak akan saya beli meski harganya sebanding dengan buku-bukunya Pram. Useeh.. Mahal yak.

Tapi yasudah, setiap orang berhak mengisi linimasanya dengan kreatifitasnya masing-masing. Tidak berperilaku hedon, bukan berarti tidak normal. Tidak banyak aktif di kegiatan sosial, bukan berarti tidak kece. Apa yang ada di media sosial memang yang baik-baik dan bagus-bagus aja. Jarang sekali ada orang yang dengan sengaja memamerkan aibnya di media sosial. Media sosial adalah lahan pencitraan. Bukan begitu? Coba bayangkan kalau dibalik. Media sosial adalah lahan pamer aib. Misal,

“Gue nggak puasa dong. Males amat puasa-puasa nahan laper.” — sambil unggah foto Burger King plus rokok A Mild di bulan Ramadhan.

Atau

“Gue lagi asik-asik sama pacar di tempat gelap, eh digerebek warga sekampung. Pada sirik amat ya.” — sambil unggah foto selfie bareng pacar yang mukanya udah tidak bermuka.

Astagfirullah. Kok jadi seram….

Ya.

Tidak apa kalau kamu anggap saya sirik dengan yang nampak di media sosial karena jomblo, jadi tidak ada yang bisa diajak jalan-jalan. Saya beritahu, pacaran itu tidak tercatat dalam pemerintah. Jadi ya sama aja, ilegal. Illegal loving kali (?).

Tidak apa pula kalau kamu anggap saya sedang nyinyir. Saya memang suka nyinyir. Terlebih setelah mandi dan keramas. Tidak nyinyir sebulan akan mengakibatkan kita menjadi gimbal.  

Betul begitu, eh?

Iklan
0

Mungkin Hal-hal Ini yang Bikin Dia Nggak Balas Chat

Beruntungnya kita hidup di masa ketika teknologi sudah sangat canggih. Di zaman super modern ini, kuota internet lebih penting daripada pulsa. Mau berkabar, tak perlu lagi menggunakan burung merpati. Tinggal pilih aja, mau berkabar lewat WhatsApp, LINE, BBM, dan sebagainya. Tapi ya gitu. Sudah diberi kemudahan, masih saja ada orang yang sulit untuk membalas chat. Kalau lambat balas sih masih mending. Kalau nggak dibalas sama sekali? Pasti kita sering bertanya kenapa alasannya. Hmm..Yuk kita lihat alasan dari sisi tersangka.

Merasa udah balas chat, tapi ternyata belum. Sayangnya, teknologi belum secanggih itu…

2

Lupa balas chat karena keasyikan main game…

3

Udah ngetik panjang, tapi lupa pencet ‘send’…

4

Kelamaan ngetik karena nyari emot setahun…

5

Nggak boleh megang handphone kalau lagi kerja…

1

Nah.. Kan… Everything happens for a reason. ūüėÄ

0

Penipuan yang Mengatasnamakan PT. Kiat Ananda

Sebagai pengangguran yang tahu diri, mencari pekerjaan yang layak adalah sebuah kewajiban (bagi sebagian orang). Hampir segala cara saya tempuh, termasuk dengan melihat iklan lowongan di LINE Jobs. Waktu itu saya lihat informasi salah satu lowongan pekerjaan di sana.

Oknum yang mengaku sebagai PT. Kiat Ananda tersebut ternyata memasang iklan lowongan lebih dari satu. Yang satunya lagi mereka membuka lowongan untuk posisi admin. Coba perhatikan dengan jelas informasi yang mereka berikan, terutama pada bagian cara melamar. Aneh, kan? Mana ada mau melamar kerja, tapi harus telepon dulu? Alamat emailnya juga pakai gmail, bukan pakai domain website perusahaan. Di situ juga tertera alamat kantor di Jakarta Selatan. Padahal setelah saya telusuri, kantornya hanya ada satu dan bukan terletak di Jakarta Selatan. Sudah tahu bahwa ada yang aneh dengan lowongan tersebut, saya tetap kirim email lamaran. Saya ingin tahu bagaimana cara mereka melakukan penipuan. Malam harinya saya mendapatkan sms.

What. The. Hell. Ini sih sama saja kayak sms papa minta pulsa. Kesel. Saya balas aja sms nya.

Lah kocak. Ada ya, kangtipu baperan gitu?

Setelah saya googling alamat yang mereka kasih, boom! Hasilnya banyaaaaak banget orang yang dapat sms itu. Hebatnya lagi, mereka bisa menjelma menjadi perusahaan apa pun. Sebelum saya melihat iklan mereka di LINE Jobs, saya juga melihat mereka memasang iklan lowongan di Linked In dengan mengaku sebagai perusahaan X (saya lupa nama perusahaannya). Dari situ saya menemukan satu blog yang menceritakan bagaimana si kangtipu itu memeras uang dengan alasan untuk biaya registrasi atau pembayaran seragam kerja. Coba deh, kamu googling. Saya lupa alamat blog nya (update: kayaknya di blog ini). Mereka menipu dengan mencatut nama perusahaan yang berbeda-beda, tapi menggunakan alamat yang selalu sama. Ya pantas aja kalau saya cuma googling dengan kata kunci alamat, tapi saya langsung tahu kalau mereka ini kangtipu.

Alamat Kantor: PT.KIAT ANANDA GROUP..jl.Raya Fatmawati/Perkantoran Samping RS SETIA MITRA Kav 2 no.219 Lantai 2 , Jaksel..Patokan: kantor saya depan TIMUNG II ..up.IBU SAFIRA (Penempatan Kerja di Cabang Terdekat Domisili) 

Yang membuat saya heran adalah mereka sudah lama beroperasi melakukan penipuan, tapi kok didiamkan saja? Berita burung bilang sih mereka punya ‘pagar penjaga’. Yaa.. Nggak tahu lah ya, mereka bekerja sama dengan siapa.

Duhileeehh… Pak, Bu… Tobat ngapa sih! Kita pan kagak tau itu duit berkah apa kagak. Kalau makan pakai duit kagak berkah pan ngeri sakit itu, Pak..Bu.. Dosa mah sudah pasti. Sakit fisik, sakit jiwa, pan bahaya!

N.B. 1 Kalau butuh hiburan atau sekadar kepo, coba baca ‘testimoni’ tentang penipuan basi itu di link-link berikut:

N.B. 2 Sebelum apply lamaran pekerjaan, coba cek kembali:

  • Email HR perusahaan (perusahaan biasanya pakai alamat email yang profesional, misal; titi.kamal@gramedia.com)
  • Kalau pun pakai gmail, cobalah kepo sedikit. Minimal cari profil Google+ nya.
  • Cari informasi mengenai perusahaan sedetail mungkin.
  • Pastikan kembali alamat kantornya.
  • Teliti di segala aspek

N.B. 3 Dear LINE Jobs, cobalah lebih selektif lagi. LINE ini sebenarnya kredibel, tapi dinodai oleh si kangtipu itu.

HATI-HATI, GUYS!! NGGAK USAH CARI KERJA, CARI JODOH AJA JADI BOS AJA SENDIRI. HAHA. NGGAK DEH, BERCANDA. *peace*

0

Tidak Ada Masakan Gagal

Hasil kerajinan di dapurku

Ada satu hal yang banyak orang tak tahu. Aku selalu menggebu-gebu dalam hal mencoba resep masakan. Kalau orang lain mungkin akan mupeng melihat foto makanan, aku justru malah pengin tahu cara membuatnya. Kalau sekiranya dapat dibuat dengan peralatan seadanya, aku akan semakin semangat. Aku memang bisa disebut sebagai perempuan yang belum bisa memasak, tapi setidaknya aku punya ketertarikan terhadapnya. Aku dulu sering masak kok, sewaktu menjadi anak rantau. Karena seringnya masak untuk diri sendiri, jadi rasa dan selera ya suka-suka. Kalau belum bisa menyamakan rasa dan selera masakan kita untuk orang banyak, tetap…namanya belum bisa masak!

Cheesecake ini adalah hasil uji coba penasaranku. Bisa dibilang, aku gagal dalam membuat chessecake ini. Tapi karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, maka mari kita hilangkan dulu kata ‘gagal’ dalam hal masak memasak. Cheesecake ini tidak gagal, namun hanya tertunda saja enaknya.

Kok bisa gagal?

1. Dengan rasa percaya diri penuh, aku merebus keju cheddar geluntungan (tanpa diparut terlebih dahulu) bersama susu. Emang dasar norak, dikira keju cheddar sama seperti mozarela yang mudah meleleh. Akhirnya butuh waktu yang lama untuk melelehkan keju bersama susu. Yang bikin sedihnya adalah, susu yang aku pakai adalah susu UHT yang kemudian dipanaskan bersama keju sampai suhunya tinggi. Dalam hati aku teriak, “Proteiiiiiinnn! Rusak lah itu protein!”

2. Tepung maizena yang menggumpal. Jadi, larutan tepung maizena aku taruh kulkas. Sewaktu ingin dipakai, “lah kok beku?” wkwkwk. Yaiyalah. Dan jreng jreng…! Karena terlalu lambat mengaduk, akhirnya larutan tepung maizena itu menggumpal bersama lautan keju susu.

3. Terlalu banyak gula dan susu kental manis aku cemplungkan. Hasil akhirnya apa? Kata orang sunda mah namanya giung. Aku aja kalah manisnya sama cheese cake itu. Ahahaha. Chesse cake buatanku.. Hmm.. Numero uno~ Haee.. Laik kopi! 

Cheese cake buatanku isinya gula semua. Aku yakin sekali kalau proteinnya sudah terdenaturasi. Wkwk. Nggak baik. Selain bikin diabetes, terlalu banyak mengonsumsi gula juga bisa menganggu perkembangan otak. Terlalu banyak gula juga akan mengganggu penyerapan protein dan nutrisi yang kemudian akan menyebabkan malnutrisi.

Sudah, begitu saja.

0

Benih Harapan dalam Sebuah Polibag

Judulnya sok serius banget, ya. Tak apa lah. Setidaknya aku nggak pakai judul click bait yang kontennya sering nggak relevan. Suka kzl aja gitu kalau lagi chilling sambil baca LINE Today yang memuat artikel-artikel dengan judul yang mengundang curiosity, tapi kontennya nggak relevan. Kalau sering baca dan benar-benar dibaca sampai habis, pasti pernah lah kamu merasakan kalau judulnya terlalu berlebihan. Ya mau gimana, hampir semua media online sekarang memakai judul click bait. Kenapa, coba? Karena kebanyakan orang (khusunya di Indonesia) itu malas membaca. Supaya pundi-pundi dollar itu tetap mengalir, maka dibuatlah judul-judul bombastis, fantastis, dan lebayis itu untuk memancing rasa ingin tahu.

Eh.. Ini kenapa jadi bahas ini, ya? Waa.. Maafkan, suka keceplosan.

Jadi gini……

Jeng jeeengg! Kalau orang-orang biasanya pakai tagar #latepost di Instagram.

Aku? … Jadi Duta Sheila On 7? Paan sih, nggak lucu.

Yang di foto itu kegiatan Minggu Cerdas pada 22 Januari lalu. Ada yang spesial di minggu kemarin. Pada hari itu kami menanam benih tanaman. Yeaay!

Nih, ya. Kalau aku boleh curhat terlebih dahulu, kadang tuh malas rasanya untuk buka pintu rumah, lalu ke luar menuju Depok. Yaa.. Rumahku ke Depok cuma 3 KM sih, padahal. Aku galau. Di rumah ada motor nganggur, tapi aku nggak berani untuk mengendarainya ke jalan Margonda. Nanti kalau aku mengendarai motor hitam ramping itu, dia jadi nggak nganggur lagi. Terus tinggal aku doang dong yang nganggur? Ha ha.

Tapi aku senaaaang sekali kalau sudah bertemu dengan adik-adik itu. Langitku yang tadinya abu-abu, tiba-tiba jadi biru. Tiba-tiba jadi semangat aja. Meskipun besoknya nggak semangat lagi, lalu lusa semangat, besok setelah lusa jadi nggak semangat, dan begitu aja terus berulang selama seminggu. Hahaha.

Ekspetasi memang selalu lebih tinggi daripada realita. Ekspektasi pada waktu itu adalah anak-anak belajar menanam benih sayur-sayuran perkelompok, dijelaskan sedikit tentang bagian-bagian tanaman serta proses fotosintesis, lalu tanaman disimpan di depan masjid. Realitanya adalah anak-anak terlalu bersemangat untuk memilih benih apa yang ingin mereka tanam (Ada cabe, bayam, pepaya, tomat, dan..umm.. Aku lupa), kebanyakan anak pura-pura nggak bisa melubangi tanah lantas hampir semua meminta tolong ke kakak pengajar untuk membantunya, dan benih yang sudah ditanam akhirnya mereka bawa pulang. 

Ah, memang. Harapan itu selalu perih.

Tapi nggak papa. Setidaknya mereka tahu bagaimana cara menanam. Mungkin lain kali kami akan nonton film bareng pakai LCD proyektor. Atau berenang. Atau bikin slime. Atau pura-pura jadi peneliti, lalu isolasi bakteri dari tanah. Yakaleee..

Aku paham, mereka pasti bosan diajak belajar melulu. Aku juga paham bagaimana rasanya mendengar “Kakak..kakak..” dari segala penjuru mata angin. Yang aku nggak paham adalah perasaanmu dahulu. Eeuuhh

Jadi begini, Adik-adik. Anggap aja aku sedang berbicara dengan adik-adik itu. Kami sebenarnya takut pada harapan yang orang tua kalian tanam kepada kami. Kami juga takut nggak diizinkan untuk pakai masjid lagi karena karpetnya terkena noda plastisin yang kami berikan kepada kalian. Kalian adalah benih, sementara kami hanyalah pupuk. Untuk dapat tumbuh menjadi akar, batang, daun, hingga menjadi tanaman sejati, kalian bukan hanya membutuhkan pupuk. Ada air, cahaya matahari, udara, suhu, dan kelembaban. Saat kecil, kalian tumbuh dalam polibag. Ketika sudah sempurna semua bagiannya, kalian akan pindah ke pot yang lebih besar. Kita hidup dengan harapan, dan kalian adalah harapan dalam sebuah polibag.

* Kami : Renita beserta jajarannya termasuk aku

** Tulisan ini sengaja dibuat nggak sistematis karena aku bosan terlalu sistematis ūüėā

0

Meli

Meliana, perempuan yang selalu nampak ceria dan ramah itu kukenal pada masa kuliah di kampus biru. Aku mengenalnya saat masih aktif di UKMI. Kemarin malam aku mendapat kabar bahwa ia telah kembali pulang pada Allah. Kupikir berita itu hanyalah berita¬†hoax. Tapi banyaknya berita, ucapan, dan doa yang disampaikan orang-orang mau tak mau memaksaku untuk memercayainya. Inna lillahi wa inailahi raji’un.

Lamaaaa sekali tidak bertemu dengan Meli. Terakhir pertemuan itu aku ingat. Meli memintaku menemaninya untuk makan di kantin kampus, tapi aku menolaknya karena sudah makan lebih dulu. Aku juga ingat sewaktu aku memberitahunya tetang lapak baca buku di alun-alun. Orang yang pertama kali aku ingat ketika ada anggota Pecandu Buku yang mengadakan lapak membaca buku di alun-alun Purwokerto adalah Meli. Karena aku tahu, begitu dekatnya Meli dengan buku dan menulis. Semangatnya luar biasa. Ia bahkan banyak berkontribusi dalam dakwah kampus. Kesan yang tertinggal dalam benak orang-orang yang mengenalnya menjadi bukti bahwa ia adalah orang baik.

Lalu air mata ini semakin tak bisa kutahan ketika membaca tulisan terakhirnya di blog. Tulisan akan abadi. Seperti yang selalu ia katakan, semoga tulisannya menjadi amal saleh di yaumul hisab nanti.

Terima kasih, Januari. Kau menghadirkan dua kematian di bulan ini. Kalau hati ini masih hidup, diri ini pasti akan menjadikannya sebagai pengingat diri.

Selamat jalan, Meli.

Dan selamat jalan untuk Ilham, sepupuku yang juga pergi lebih dulu.

Allah loves you all.

0

Mari Belajar Bahagia Bersama Adik-adik Siswa Minggu Cerdas GSB

Pertengahan tahun 2016 ini, seorang teman jerapah bernama Renita, mengungkapkan sebuah gagasan kepada teman jerapah lainnya melalui grup WhatsApp. Gagasan tersebut adalah salah satu mimpi yang sudah lama ia simpan. Pada waktu itu ia mengungkapkan ingin membuat sebuah gerakan yang berfokus pada anak-anak agar lebih senang membaca. Ia juga mengatakan ingin membantu mengajar anak-anak yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung.

“Kenapa lu nggak ikut semacam Indonesia Mengajar atau komunitas 1000 guru?”

Tanya kami saat itu. Masalah perizinan dari orang tua, katanya. Lagipula, menginisiasi sebuah gerakan sendiri mungkin lebih baik, katanya kemudian. Gagasan tersebut, tentu kami respon dengan baik. Niat baik memang sudah seharusnya disambut dengan baik pula. Maka dengan ilmu yang minim, kami berusaha membantu sebisa mungkin. Kami yang kurang peka atau apa, Renita lebih banyak bergerak sendiri meski telah dibantu oleh Mutia. Mulai dari mencari nama yang pas, publikasi berupa poster, membuat akun social media, membuat program, mencari siswa, sampai pada perizinan untuk meminjam beberapa siswa beserta tempat Sekolah Master Depok. Seperti yang sudah saya katakan, kami turut membantu semampunya, walau itu hanya seutas doa dan informasi lewat social media. Akhirnya, Gerakan Suka Baca resmi menjadi nama project yang diinisasi oleh Renita tersebut.

Sebelum menceritakan Gerakan Suka Baca lebih jauh, saya ingin bercerita sedikit tentang si pencetak ide project¬†ini. Namanya Renita. Saya mengenalnya tahun 2008 di sebuah sekolah menengah yang terletak di pinggir selatan Jakarta. Diizinkan atau tidak, saya akan menjadikan ia sebagai personal reference dalam hidup saya. Ia anak sulung yang memiliki banyak mimpi. Ditempa ribuan taufan membuatnya menjadi semakin kuat setiap harinya. Yang saya tahu, ia dulu bersekolah dengan beasiswa dan kuliah dengan biaya sendiri. Kerja pagi, kemudian kuliah di malam harinya. Seringkali tenaganya di porsir, tapi tekadnya terlalu kuat hingga akhirnya kini gelar S.Pd berada di belakang namanya. Sudah lulus dan kerja pun, ia masih ingin menyibukkan diri dengan program Gerakan Suka Baca (GSB) ini. Ia merelakan hari Minggu, satu-satunya hari untuknya istirahat, digunakan untuk mengajar adik-adik di sekitar Sekolah Master Depok. Oh ya, Renita juga masih konsisten halaqah setiap minggunya. Ia bisa seperti ini juga karena melalui proses. Kalau boleh saja saya mengutip perkataan salah satu mantan presiden Amerika,¬†Franklin D. Roosevelt, “A smooth sea never made a skilled sailor.”

Kembali pada GSB. Program mingguan yang telah kami laksanakan sejak Oktober lalu adalah Minggu Cerdas. Kegiatan ini semacam les tambahan untuk anak-anak dengan umur sampai 12 tahun. Targetnya adalah agar anak-anak semakin lancar membaca, menulis, dan berhitung. Ada beberapa anak yang memang belum mengenal huruf atau sudah mengenal huruf, namun belum lancar membaca. Kami juga mencoba untuk membiasakan mereka membaca buku apa saja di awal pembelajaran. Lokasi kegiatan Minggu Cerdas ini sebenarnya tidak menentu walau masih di sekitar Sekolah Master (belakang terminal Depok), terkadang kami meminjam gedung TK atau masjid. Status beberapa murid Sekolah Master dengan GSB ini juga sebenarnya adalah “dipinjamkan”. Syukur alhamdulillah kami diizinkan.

img_20161016_113707

Peserta Kegiatan Minggu Cerdas

 

Setiap tiga bulan sekali, anak-anak diajak berwisata sambil belajar. Awal Desember kemarin, untuk pertama kalinya kami mengajak 22 anak ke Museum Fatahilah di Kota Tua menggunakan Commuter Line. Walaupun awalnya mereka protes karena diajak naik KRL, pada akhirnya mereka senang memandang Monas dari balik jendela. Membuat anak-anak senang itu pada dasarnya sederhana. Tidak seperti orang dewasa yang katanya bahagia itu sederhana, tapi banyak bohongnya.

“Bahagia itu sederhana”, tulis seseorang pada keterangan foto yang dia unggah. Tapi yang ia unggah ya barang-barang (cukup mahal) yang ia beli.

“Bahagia itu sederhana”, tulis seseorang pada keterangan foto yang dia unggah. Tapi yang ia unggah itu foto kebersamaannya dengan pacar.

Barang-barang yang kamu beli atau pacar gantengmu tidak memberikanmu kebahagiaan abadi. Pura-pura bahagia juga tidak selamanya baik lho, Kak. ūüėÄ

Belajar bahagia lah dari anak-anak. Yang mampu menertawakan hal-hal kecil, yang memandang sesuatu dari sudut pandang berbeda versi mereka, dan yang apa adanya. Meski saya tahu, anak-anak yang hampir setiap minggu saya temui ini bukanlah anak-anak biasa. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dari pedagang di sekitar terminal Depok dan terbiasa dengan kehidupan di sekitar terminal. Salah satu anak, di perjalanan menuju Kota Tua, bahkan pernah mengaku kepada saya bahwa ia pernah berjualan tissue di salah satu stasiun di Depok. Namun, pada dasarnya mereka adalah anak-anak biasa yang memiliki banyak cita-cita.

Terus belajar yaaaa, adik-adik! Tebarkan kebahagiaan dan jadi lah anak shaleh-shalehah. Biar nanti kalau sudah dewasa, bisa memberikan banyak manfaat bagi orang lain.

img-20161204-wa0017

Berkunjung ke Museum Fatahilah

Oh ya. Hingga kini, anak-anak yang berminat untuk ikut belajar semakin bertambah dan sejujurnya kami sebagai pengajar (termasuk saya sebagai pengajar bayangan) kewalahan. Kau pasti tahu, anak-anak itu susah diam. Kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang program ini, bersedia menjadi relawan pengajar, atau bersedia menjadi donatur, bisa kontak ke sini:

  • WhatsApp : 0838 7406 7973
  • Facebook ¬† : Gerakan Suka Baca
  • Instagram ¬†: @minggucerdas

Ataaaaau… Kau bisa hubungi saya melalui blog ini.

“Khairunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Bukhari Muslim)

dan bolehkan sekali lagi saya menulis kutipan satir dari salah satu sastrawan favorit saya?

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” (Menjadi Tua di Jakarta- Seno Gumira Ajidarma)