0

Contoh Sampah di Media Sosial

“Banyak yang nggak paham bahwa sulit bagi saya untuk memulai percakapan dengan seseorang yang lama nggak saya temui, hingga sering dianggap sombong. Ada segelintir orang yang memang nggak memiliki kemampuan untuk basa-basi. Termasuk saya. Yo nek akunya diem yo ojo didiemi balik. Ditambah ada ketakutan kalau mereka tau masalah saya, kemudian dinyinyirin, lah tambah lah saya dianggap gagang sapu ijuk. Nggak paham yo masalahe sapa sing kena e sapa. Psikisku ki memang sudah terganggu sejak bertahun-tahun lalu. Ndak ada yang sadar aja. Ya. Gara-gara siapa lagi.”

Paragraf di atas adalah CONTOH curhat yang bisa kita anggap sebagai sampah. Kira-kira, apa yang bisa aku tulis dari contoh di atas? Sebentar, aku cari ide untuk tulisan bagus sembari nyanyi ponytail. I got a ponytail. I got a ponytail. I got a pppppppp ponytail~~~!

0

Mungkin Hal-hal Ini yang Bikin Dia Nggak Balas Chat

Beruntungnya kita hidup di masa ketika teknologi sudah sangat canggih. Di zaman super modern ini, kuota internet lebih penting daripada pulsa. Mau berkabar, tak perlu lagi menggunakan burung merpati. Tinggal pilih aja, mau berkabar lewat WhatsApp, LINE, BBM, dan sebagainya. Tapi ya gitu. Sudah diberi kemudahan, masih saja ada orang yang sulit untuk membalas chat. Kalau lambat balas sih masih mending. Kalau nggak dibalas sama sekali? Pasti kita sering bertanya kenapa alasannya. Hmm..Yuk kita lihat alasan dari sisi tersangka.

Merasa udah balas chat, tapi ternyata belum. Sayangnya, teknologi belum secanggih itu…

2

Lupa balas chat karena keasyikan main game…

3

Udah ngetik panjang, tapi lupa pencet ‘send’…

4

Kelamaan ngetik karena nyari emot setahun…

5

Nggak boleh megang handphone kalau lagi kerja…

1

Nah.. Kan… Everything happens for a reason. šŸ˜€

0

Penipuan yang Mengatasnamakan PT. Kiat Ananda

Sebagai pengangguran yang tahu diri, mencari pekerjaan yang layak adalah sebuah kewajiban (bagi sebagian orang). Hampir segala cara saya tempuh, termasuk dengan melihat iklan lowongan di LINE Jobs. Waktu itu saya lihat informasi salah satu lowongan pekerjaan di sana.

Oknum yang mengaku sebagai PT. Kiat Ananda tersebut ternyata memasang iklan lowongan lebih dari satu. Yang satunya lagi mereka membuka lowongan untuk posisiĀ admin. Coba perhatikan dengan jelas informasi yang mereka berikan, terutama pada bagian cara melamar. Aneh, kan? Mana ada mau melamar kerja, tapi harus telepon dulu? Alamat emailnya juga pakai gmail, bukan pakai domain website perusahaan. Di situ juga tertera alamat kantor di Jakarta Selatan. Padahal setelah saya telusuri, kantornya hanya ada satu dan bukan terletak di Jakarta Selatan. Sudah tahu bahwa ada yang aneh dengan lowongan tersebut, saya tetap kirim email lamaran. Saya ingin tahu bagaimana cara mereka melakukan penipuan. Malam harinya saya mendapatkan sms.

What. The. Hell. Ini sih sama saja kayak sms papa minta pulsa. Kesel. Saya balas aja sms nya.

Lah kocak. Ada ya, kangtipu baperan gitu?

Setelah saya googling alamat yang mereka kasih, boom! Hasilnya banyaaaaak banget orang yang dapat sms itu. Hebatnya lagi, mereka bisa menjelma menjadi perusahaan apa pun. Sebelum saya melihat iklan mereka di LINE Jobs, saya juga melihat mereka memasang iklan lowongan di Linked In dengan mengaku sebagai perusahaan X (saya lupa nama perusahaannya). Dari situ saya menemukan satu blog yang menceritakanĀ bagaimana si kangtipu itu memeras uang dengan alasan untuk biaya registrasi atau pembayaran seragam kerja. Coba deh, kamu googling. Saya lupa alamat blog nya (update: kayaknya di blog ini). Mereka menipu dengan mencatut nama perusahaan yang berbeda-beda, tapi menggunakan alamat yang selalu sama. Ya pantas aja kalau saya cuma googling dengan kata kunci alamat, tapi saya langsung tahu kalau mereka ini kangtipu.

Alamat Kantor: PT.KIAT ANANDA GROUP..jl.Raya Fatmawati/Perkantoran Samping RS SETIA MITRA Kav 2 no.219 Lantai 2 , Jaksel..Patokan: kantor saya depan TIMUNG II ..up.IBU SAFIRA (Penempatan Kerja di Cabang Terdekat Domisili)Ā 

Yang membuat saya heran adalah mereka sudah lama beroperasi melakukan penipuan, tapi kok didiamkan saja? Berita burung bilang sih mereka punya ‘pagar penjaga’. Yaa.. Nggak tahu lah ya, mereka bekerja sama dengan siapa.

Duhileeehh… Pak, Bu… Tobat ngapa sih! Kita pan kagak tau itu duit berkah apa kagak. Kalau makan pakai duit kagak berkah pan ngeri sakit itu, Pak..Bu.. Dosa mah sudah pasti. Sakit fisik, sakit jiwa, pan bahaya!

N.B. 1 Kalau butuh hiburan atau sekadar kepo, coba baca ‘testimoni’ tentang penipuan basi itu di link-link berikut:

N.B. 2 Sebelum apply lamaran pekerjaan, coba cekĀ kembali:

  • Email HR perusahaan (perusahaan biasanya pakai alamat email yang profesional, misal; titi.kamal@gramedia.com)
  • Kalau pun pakai gmail, cobalah kepo sedikit. Minimal cari profil Google+ nya.
  • Cari informasi mengenai perusahaan sedetail mungkin.
  • Pastikan kembali alamat kantornya.
  • Teliti di segala aspek

N.B. 3 Dear LINE Jobs, cobalah lebih selektif lagi. LINE ini sebenarnya kredibel, tapi dinodai oleh si kangtipu itu.

HATI-HATI, GUYS!! NGGAK USAH CARI KERJA, CARI JODOH AJA JADI BOS AJA SENDIRI. HAHA. NGGAK DEH, BERCANDA. *peace*

0

Tidak Ada Masakan Gagal

Hasil kerajinan di dapurku

Ada satu hal yang banyak orang tak tahu. Aku selalu menggebu-gebu dalam hal mencoba resep masakan. Kalau orang lain mungkin akan mupeng melihat foto makanan, aku justru malah pengin tahu cara membuatnya. Kalau sekiranya dapat dibuat dengan peralatan seadanya, aku akan semakin semangat. Aku memang bisa disebut sebagai perempuan yang belum bisa memasak, tapi setidaknya aku punya ketertarikan terhadapnya. Aku dulu sering masak kok, sewaktu menjadi anak rantau. Karena seringnya masak untuk diri sendiri, jadi rasa dan selera ya suka-suka. Kalau belum bisa menyamakan rasa dan selera masakan kita untuk orang banyak, tetap…namanya belum bisa masak!

Cheesecake ini adalah hasil uji coba penasaranku. Bisa dibilang, aku gagal dalam membuat chessecake ini. Tapi karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, maka mari kita hilangkan dulu kata ‘gagal’ dalam hal masak memasak. Cheesecake ini tidak gagal, namun hanya tertunda saja enaknya.

Kok bisa gagal?

1. Dengan rasa percaya diri penuh, aku merebus keju cheddar geluntungan (tanpa diparut terlebih dahulu) bersama susu. Emang dasar norak, dikira keju cheddar sama seperti mozarela yang mudah meleleh. Akhirnya butuh waktu yang lama untuk melelehkan keju bersama susu. Yang bikin sedihnya adalah, susu yang aku pakai adalah susu UHT yang kemudian dipanaskan bersama keju sampai suhunya tinggi. Dalam hati aku teriak, “Proteiiiiiinnn! Rusak lah itu protein!”

2. Tepung maizena yang menggumpal. Jadi, larutan tepung maizena aku taruh kulkas. Sewaktu ingin dipakai, “lah kok beku?” wkwkwk. Yaiyalah. Dan jreng jreng…! Karena terlalu lambat mengaduk, akhirnya larutan tepung maizena itu menggumpal bersama lautan keju susu.

3. Terlalu banyak gula dan susu kental manis aku cemplungkan. Hasil akhirnya apa? Kata orang sunda mah namanya giung. Aku aja kalah manisnya sama cheese cake itu. Ahahaha. Chesse cake buatanku.. Hmm.. Numero uno~ Haee.. Laik kopi! 

Cheese cake buatanku isinya gula semua. Aku yakin sekali kalau proteinnya sudah terdenaturasi. Wkwk. Nggak baik. Selain bikin diabetes, terlalu banyak mengonsumsi gula juga bisa menganggu perkembangan otak. Terlalu banyak gula juga akan mengganggu penyerapan protein dan nutrisi yang kemudian akan menyebabkan malnutrisi.

Sudah, begitu saja.

0

Benih Harapan dalam Sebuah Polibag

Judulnya sok serius banget, ya. Tak apa lah. Setidaknya aku nggak pakai judul click bait yang kontennya sering nggak relevan. Suka kzl aja gitu kalau lagi chilling sambil baca LINE Today yang memuat artikel-artikel dengan judul yang mengundang curiosity, tapi kontennya nggak relevan. Kalau sering baca dan benar-benar dibaca sampai habis, pasti pernah lah kamu merasakan kalau judulnya terlalu berlebihan. Ya mau gimana, hampir semua media online sekarang memakai judul click bait. Kenapa, coba? Karena kebanyakan orang (khusunya di Indonesia) itu malas membaca. Supaya pundi-pundi dollar itu tetap mengalir, maka dibuatlah judul-judul bombastis, fantastis, dan lebayis itu untuk memancing rasa ingin tahu.

Eh.. Ini kenapa jadi bahas ini, ya? Waa.. Maafkan, suka keceplosan.

Jadi gini……

Jeng jeeengg! Kalau orang-orang biasanya pakai tagar #latepost di Instagram.

Aku? … Jadi Duta Sheila On 7? Paan sih, nggak lucu.

Yang di foto itu kegiatan Minggu Cerdas pada 22 Januari lalu. Ada yang spesial di minggu kemarin. Pada hari itu kami menanam benih tanaman. Yeaay!

Nih, ya. Kalau aku boleh curhat terlebih dahulu, kadang tuh malas rasanya untuk buka pintu rumah, lalu ke luar menuju Depok. Yaa.. Rumahku ke Depok cuma 3 KM sih, padahal. Aku galau. Di rumah ada motor nganggur, tapi aku nggak berani untuk mengendarainya ke jalan Margonda. Nanti kalau aku mengendarai motor hitam ramping itu, dia jadi nggak nganggur lagi. Terus tinggal aku doang dong yang nganggur? Ha ha.

Tapi aku senaaaang sekali kalau sudah bertemu dengan adik-adik itu. Langitku yang tadinya abu-abu, tiba-tiba jadi biru. Tiba-tiba jadi semangat aja. Meskipun besoknya nggak semangat lagi, lalu lusa semangat, besok setelah lusa jadi nggak semangat, dan begitu aja terus berulang selama seminggu. Hahaha.

Ekspetasi memang selalu lebih tinggi daripada realita. Ekspektasi pada waktu itu adalah anak-anak belajar menanam benih sayur-sayuran perkelompok, dijelaskan sedikit tentang bagian-bagian tanaman serta proses fotosintesis, lalu tanaman disimpan di depan masjid. Realitanya adalah anak-anak terlalu bersemangat untuk memilih benih apa yang ingin mereka tanam (Ada cabe, bayam, pepaya, tomat, dan..umm.. Aku lupa), kebanyakan anak pura-pura nggak bisa melubangi tanah lantas hampir semua meminta tolong ke kakak pengajar untuk membantunya, dan benih yang sudah ditanam akhirnya mereka bawa pulang.Ā 

Ah, memang. Harapan itu selalu perih.

Tapi nggak papa. Setidaknya mereka tahu bagaimana cara menanam. Mungkin lain kali kami akan nonton film bareng pakai LCD proyektor. Atau berenang. Atau bikin slime. Atau pura-pura jadi peneliti, lalu isolasi bakteri dari tanah. Yakaleee..

Aku paham, mereka pasti bosan diajak belajar melulu. Aku juga paham bagaimana rasanya mendengar “Kakak..kakak..” dari segala penjuru mata angin. Yang aku nggak paham adalah perasaanmu dahulu. Eeuuhh

Jadi begini, Adik-adik. Anggap aja aku sedang berbicara dengan adik-adik itu. Kami sebenarnya takut pada harapan yang orang tua kalian tanam kepada kami. Kami juga takut nggak diizinkan untuk pakai masjid lagi karena karpetnya terkena noda plastisin yang kami berikan kepada kalian. Kalian adalah benih, sementara kami hanyalah pupuk. Untuk dapat tumbuh menjadi akar, batang, daun, hingga menjadi tanaman sejati, kalian bukan hanya membutuhkan pupuk. Ada air, cahaya matahari, udara, suhu, dan kelembaban. Saat kecil, kalian tumbuh dalam polibag. Ketika sudah sempurna semua bagiannya, kalian akan pindah ke pot yang lebih besar. Kita hidup dengan harapan, dan kalian adalah harapan dalam sebuah polibag.

* Kami : Renita beserta jajarannya termasuk aku

** Tulisan ini sengaja dibuat nggak sistematis karena aku bosan terlalu sistematis šŸ˜‚

0

Meli

Meliana, perempuan yang selalu nampak ceria dan ramah itu kukenal pada masa kuliah di kampus biru. Aku mengenalnya saat masih aktif di UKMI. Kemarin malam aku mendapat kabar bahwa ia telah kembali pulang pada Allah. Kupikir berita itu hanyalah beritaĀ hoax. Tapi banyaknya berita, ucapan, dan doa yang disampaikan orang-orang mau tak mau memaksaku untuk memercayainya. Inna lillahi wa inailahi raji’un.

Lamaaaa sekali tidak bertemu dengan Meli. Terakhir pertemuan itu aku ingat. Meli memintaku menemaninya untuk makan di kantin kampus, tapi aku menolaknya karena sudah makan lebih dulu. Aku juga ingat sewaktu aku memberitahunya tetang lapak baca buku di alun-alun. Orang yang pertama kali aku ingat ketika ada anggota Pecandu Buku yang mengadakan lapak membaca buku di alun-alun Purwokerto adalah Meli. Karena aku tahu, begitu dekatnya Meli dengan buku dan menulis. Semangatnya luar biasa. Ia bahkan banyak berkontribusi dalam dakwah kampus. Kesan yang tertinggal dalam benak orang-orang yang mengenalnya menjadi bukti bahwa ia adalah orang baik.

Lalu air mata ini semakin tak bisa kutahan ketika membaca tulisan terakhirnya diĀ blog. Tulisan akan abadi. Seperti yang selalu ia katakan, semoga tulisannya menjadi amal saleh di yaumul hisab nanti.

Terima kasih, Januari. Kau menghadirkan dua kematian di bulan ini. Kalau hati ini masih hidup, diri ini pasti akan menjadikannya sebagai pengingat diri.

Selamat jalan, Meli.

Dan selamat jalan untuk Ilham, sepupuku yang juga pergi lebih dulu.

Allah loves you all.