0

Jadi Nih Besok Lebaran

Sebelum memulai tulisan, saya ingin mengucap syukur terlebih dahulu sebab Ya Asyiqol Musthofa, di kepala saya, telah memenangkan pertarungan melawan “memang lagi syantik tapi bukan sok syantik”. Syantik syantik gini hanya untuk dirimu~

Astaghfirullah. Racun sekali memang.

Bhaiikk. Lupakan.

Beberapa jam yang lalu, menteri agama, Bapak Lukman Saifuddin, mengumumkan hasil sidang isbat yang katanya digelar secara tertutup. Hari Raya Idulfitri jatuh pada tanggal 15 Juni 2018. Alhamdulillah, hilal sudah tidak malu-malu menampakkan dirinya. Kalau kata tetangga, “Jadi neeeh lebaran.” Ya jadi dong. Bagaimana nasib opor, rendang, dan teman-temannya kalau lebaran nggak jadi besok? Karena besok adalah hari Jum’at, para bapak, mas, abang, mamang, dan aa besok akan melaksanakan salat Ied dan juga salat Jum’at. MasyaAllah.

Seperti yang kita ketahui bersama, Idulfitri diartikan sebagai kembali ke fitri atau kembali suci. Iya, kalau diampuni itu juga. Ehehe. Apakah kita akan kembali putih suci bersinar? Ndak tau. Wallahu a’lam.

Meniru gaya warganet pengagum Meme Comic Indonesia, “Apa cuma gue di sini yang merasa ramadhan itu cepet banget? :v” Nggak. Nggak elu doang, Tong! Jangankan bulan ramadhan. Sebulan pun rasanya cepat sekali. Tiba-tiba uang gajian sudah habis aja~ Uhuk.

Di awal tahun, saya pernah memiliki keinginan untuk menjadi pengangguran saja selama bulan ramadhan. Alasannya karena ingin fokus beribadah memohon ampunan kepada Allah. Silakan kalau mau muntah, nggak papa. Nanti saya kasih kresek. Teman-teman saya juga sudah muak dengan idealisme saya.

Saya pikir menjalani ramadhan sambil sibuk kerja itu ‘nggak fokus banget’. Namun, setelah rajin mengonsumsi susu Indomilk rasa melon, saya akhirnya sadar bahwa pikiran macam ntu cupu sekali. Ya Gusti. Cupu pokoknya, cupu! Padahal menjalani ramadhan di saat sedang sibuk-sibuknya, kalau diresapi dengan saksama, itu indaaaaah sekali. Ada rasa bahagia ketika di dalam gerbong Commuter Line, para penumpang saling menawarkan makanan ketika waktu berbuka tiba. Baiknya PT. KCI, mereka memperbolehkan kita makan dan minum di dalam kereta selama bulan puasa.

Banyaknya komunitas yang membagikan takjil di jalan juga menjadikan ramadhan ini lebih indah. Beberapa waktu lalu, saat menuju DMall Depok bersama abang Gojek yang nampak ceria sekali sewaktu menerobos palang kereta, saya melihat segerombolan orang berpakaian putih dan membawa bendera. Sambil memicingkan mata, ya karena mata saya sudah agak-agak galat, saya tahu bahwa mereka dari kelompok FPI. “Wah, mau demo nih.” Tapi ternyata bukan, sayang. Mereka membagi-bagikan takjil untuk pengendara-pengendara di jalan. Hehe. FPI ternyata nggak selalu negatif. Kurung lah rasa suudzonmu itu, sayang!

Saya sadar sekali bahwa ibadah saya masih belang betong. Saya juga nggak tau apakah dosa-dosa saya yang sebanyak butiran pasir di sepanjang pantai pulau jawa ini diampuni atau nggak. Namun, apa yang saya resapi selama sebulan ini adalah bagaimana supaya menjadikan setiap hari terasa seperti bulan ramadhan. Sebab tahapan tersulit setelah memulai adalah mempertahankan. Berbuat baik setiap saat, menghindari ghibah, mengutamakan Al-Quran, menjadikan waktu selalu bermanfaat, sedia menolong orang lain, dan PR-PR lain yang pelaksanaannya adalah seumur hidup. Mari saling mengingatkan. Hhh.

Akhir kata saya mengucapkan,

Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Hari Raya Idulfitri. Selamat berkumpul dengan keluarga dan semangat berburu nastar!!!

Iklan
0

Blabbering: Menulis yang Tidak Penting

Hi, guys! Balik lagi nih ke channel aquuhh.. Kali ini aku akan ngebahas skin care yang cocok buat #sobatmiskin..

Eh bentar..

Bentaaaaar!

Kamu kan bukan beauty vlogger.

Oke. Bhaaaiiiq..

Ya bulan Mei ini aku sepi jadwal manggung. Jadi lah banyak waktu luang yang mengakibatkan pikiran ini mengembara ke mana-mana. Sudah aku siasati dengan menghapus aplikasi Instagram, tapi da tetap aja aku buka medsos lain. Pagi-pagi, ngecek linimasa, isinya berita bom, teroris, dan populasi manusia yang hobi memprovokasi di tengah bencana. Pusing aku, beb. Dunia sebentar aja kok susah banget damainya. Ketemu teman, eh topiknya ndak jauh-jauh dari karir-jodoh-karir-jodoh. Gitu aja terus sampai nanti salah satu di antara kami ada yang menikah dengan duda Malaysia beranak satu. Hhhhh. Aku dan enam teman lain dalam grup jerapah hingga kini masih menerka-nerka siapa yang lebih dulu jadi hot mommy. Aku sudah bertekad. jika aku yang terakhir, aku akan pulang kampung ke Ciamis. Menjadi gadis kota yang membiasakan diri mendengar bunyi tonggeret sakalian ngabantu Mang Ujang marab hayam, bantu Emak Amis goreng saroja, ngala tutut ke sawah, dan ngiring Bapak Amis ngobak empang.

Bahas apa sih kamu, Caaawww?

Bhaaaiiiq. Karena memang judulnya adalah blabbering, maka isi nya pun sudah pasti nirfaedah. Aku yang sedari masih berupa fetus sudah pasif dan setelah melewati masa remaja pernah mengutuk diri mengapa harus introversi yang dominan, memang merasa lebih mudah untuk tjurhat melalu tulisan. Penting atau tidak penting, menulis bagiku adalah salah satu cara untuk membekukan ingatan. Ya aku pelupa banget memang. Kebiasanku menulis curhatan ada manfaatnya ternyata, gaes. Aku jadi tau gaya tulisan sewaktu SMA, jadi ingat dulu ngerjain apa aja di rohis dan masjid nurul iman, ingat pernah sering buat cerpen tapi arsipnya hilang bersama laptop, ingat dulu pernah merasa being ignored, ingat pernah merasa haru waktu pelantikan ukmi, ingat pernah mendebat dalam diam perihal why everyone is lebay in applying theology, lalu ingat juga ternyata teman-teman KKN-ku lawak abis. Ya masa kalau malas rapat terus mau menenggelamkan diri dalam bak mandi atau membusakan mulut dengan shampoo. Liar banget idenya Muti mah. 😂

Daaaan masih banyak hal lagi yang kuingat akibat membaca ulang tulisan-tulisan yang sesungguhnya nirfaedah sekali. Sebagian tulisan itu pernah aku unggah di Tumblr, tapi lama kelamaan kumerasa itu tidak baik, lalu akhirnya hapus akun. Tapi ya tulisan itu tetap aku arsip. Da aku mah jago kalau soal mengarsip. Membual lah yang aku tidak jago ayam. Hhhhh.

Semasa menjadi pengangguran lulusan pres greduet salah satu kampus Jenderal yang almamaternya berwarna kuning butek, mulai lah blog ini aku aktifkan kembali. Blog ini sebenarnya bekas KKN dulu . ((bekas)). Haha. Lalu, saat itu mulai timbul keinginan untuk menulis yang ada manfaatnya sedikit lah. Belajar menulis artikel, belajar menulis fiksi, dan belajar menulis pendapat melalui seri Monolo(gue). Komentar dari orang-orang, baik atau buruk, pasti aku ingat sampai sekarang. Serius akutuuu.

“Caw, monologue nya lucu.”

“Aku baca tulisanmu di blog. Seru aja.”

“Not important and not interesting at all.”

“Tulisan mu sekarang mendingan.”

“Ditunggu tulisan tentang Purwokerto nya lagi.”

“Mbak Icaw curhatnya di blog ya? Mbak Icaw anak mojok ya?” – Yang bilang ini namanya Ucup. Kemungkinan suatu hari ia akan baca ini. Hahaha.

Mungkin juga suatu hari nanti kalau membaca ulang tulisan ini aku akan ingat bahwa bad mood lah yang membuatku nulis ngalor ngidul. 🌈🌌🌌

0

Yang Mudah Berbalik adalah Hati, Bukan Telapak Tangan!

Sabtu siang, di sebuah restoran Korea, saya berbincang dengan salah satu kawan yang sudah begitu lama tidak saya temui. Sebut saja namanya Malih. Meski ia perempuan, nama Malih nampaknya bagus menjadi nama samaran untuknya. Pertemuan kami siang itu bukanlah untuk membicarakan siapa saja yang menjadi kandidat presiden Indonesia nanti. Bukan pula membicarakan Lucinta Luna yang belakangan ini sering muncul di akun gosip Lambe Turah. Bukan. Malih bahkan tidak tahu siapa artis yang sedang menyelenggarakan jumpa penggemar di Watson. Kami membicarakan hal-hal tidak penting, termasuk tentang kekagumanku pada seorang makhluk dari negeri tidak berawan namun berwawasan juga dianggapnya tidak penting. Hooooooolycrap!

Bhaiiiik.

Sambil menunggu makanan yang sebetulnya mirip dengan cilok itu datang ke meja kami, saya mengajukan pertanyaan pada Malih. Sebuah pertanyaan yang prolognya sudah saya sampaikan melalui WhatsApp.

“Jadi menurutmu aku ikut itu atau nggak?”

“Terserah”, jawabnya

Jawaban Malih solutif sekali, ya. Hampir saja saya jejali mulutnya dengan cilok Korea. Kebetulan makanan itu sudah mendarat di meja bundar kami saat saya bertanya mengenai hal tersebut.

“Kalau dijawab terserah, ngapain gue nanya, Maleeeehhh??”

“Ya kalau kamu nggak niat mending nggak usah. Itu kan untuk jangka panjang juga.”

Akhirnya jawabannya mulai masuk akal. Sesungguhnya terserah adalah jawaban perempuan ketika malas ditanya, tapi ya tetap saja tidak terima jika tidak sesuai dengan keinginan yang sebenarnya.

Lalu, apa yang sesungguhnya saya tanyakan?

Bhaiiik. Saya ceritakan. Sekitar tahun 2013-2014, sewaktu masih menjadi mahasiswa di lingkungan yang begitu religius, saya mengagumi sesosok ustadz yang lebih sering berdakwah melalui media sosial. Bukan mengagumi, sih, tapi merasa bahwa semua yang dikatakan beliau adalah benar. Pada waktu itu, Instagram belum banyak dipakai orang seperti sekarang, maka beliau lebih banyak berdakwah melalui Twitter. Yaaaa…ketahuan deh beliau siapa~

Ketika itu saya amat rajin membagikan ulang isi Tweet-nya (Masih pakai akun @chawxyz yang sekarang sudah dihapus. Hihihiihi), bersemangat ketika beliau mampir dan mengisi kajian di dekat kampus, dan membaca buku-buku beliau. Saya kagum dengan bagaimana beliau hijrah, juga mengiyakan dengan ekspresi “Yha juga” pada setiap cara pandang yang ia gemakan. Maklum, lingkungan saya dulu adalah lingkungan yang lurus-lurus saja.

Tahun 2015, semakin hari saya merasa bahwa ideologi yang beliau gencarkan nampak halu. Terlebih saya tidak melihat adanya pergerakan nyata dari ormas yang kini sudah dibubarkan tersebut (Tapi bahaya juga sih kalau ada pergerakan nyata dari mereka. Pffftt). Maka dari itu, saya menganggap bahwa apa yang mereka yakini mustahil untuk diwujudkan dan ‘maksa banget’. Maafkan saya, Tadz.

Lalu, apa hubungannya dengan pertanyaan di awal? Pertanyaan tersebut sesungguhnya adalah pertanyaan untuk mengikuti diskusi intensif dari komunitas yang beliau support saat ini. Salah saya yang kurang mencari tahu sebelumnya karena ini hati terlalu kering semenjak tinggal di Jakarta lagi. Huhu. Saya butuh penyejuk yang lebih sejuk dari Adem Sari. Sebenarnya saya hanya takut ketika di tengah-tengah diskusi, lalu terselip materi tentang itu, saya malah malas dengarnya, lalu walk out.

Lucu juga kalau dipikir-pikir. Betapa hati mudah sekali berbolak-balik. Yang tadinya selalu dicari-cari, sekarang malah dihindari. Dari banyaknya informasi dan pemahaman yang masuk ke kepala, pada akhirnya hanya beberapa yang tetap tinggal. Sisanya ya berubah seiring waktu, tergantung dari apa yang dibaca dan dipelajari. Seringkali saya bertanya pada debu-debu di baling-baling kipas angin, “Mengapa harus terbagi menjadi banyak golongan?” Eh, debunya diam saja. Mungkin para debu juga pusing melihat manusia yang katanya saudara tapi saling sindir-menyindir.

Hati manusia itu lemah. Mudah berbolak-balik. Maka, semestinya peribahasa ‘Seperti membalikkan telapak tangan’ itu diganti dengan ‘Seperti hati yang berbalik’.

Yang tadinya suka menjadi benci.

Yang tadinya benci menjadi suka.

Yang tadinya rukun menjadi kacau.

Yang tadinya mendukung menjadi menikam.

Yang tadinya memilih Anies-Sandi tetapi sewaktu mereka melakukan sedikit kesalahan, eh ikut menghujat dengan lantang.

Ini hati atau apa. Atau memang iman saya saja yang lemah. Mbuh.

0

Media Sosial yang Menjadikan Saya Tidak Normal…

Saya baru saja mencopot aplikasi Instagram di ponsel pintar yang kepintarannya melebihi kucing-kucing saya di rumah, setelah beberapa menit sebelumnya mengunggah sebuat foto. Bukan apa-apa sih, tidak ada masalah pula dengan foto itu. Saya cuma bosan. Bosan yang sesaat, bisa jadi. Beberapa teman mungkin sudah paham dengan kebiasaan saya yang sering dianggap sebagai perbuatan anak labil ini. Lepas aplikasi Instagram, pasang aplikasi Path. Bosan dengan Path, lepas lagi. Lepas-pasang-lepas-pasang. Begitu aja terus.

Saya cuma lelah. Begitu. Kalau menurut salah satu teman saya, seorang ambivert dan penganut netralisme (?), tidak perlu pakai media sosial kalau cuma bikin granda-grundu. Terlebih, mungkin saya orang kedua dalam grup WhatsApp dengan judul Part of Jiref itu yang sering berisik, nyinyir ini-itu, kritik tidak jelas, serta sering mengangkat pembicaraan-pembicaraan tidak penting. Entah sejak kapan prinsip saya berubah. Dari seseorang yang senang mengambil aman dan tidak mau pusing, menjadi seseorang yang…yaudah, kalau pro, pro aja. Kalau kontra, ya kontra aja. Kalau kamu berdiri di tengah jalan melulu kan bisa-bisa ditabrak bus, mobil pribadi, mobil abang Grab, bus Transjakarta, kopaja, motor abang Gojek, motor polisi yang mengawal pejabat di tengah kemacetan, atau bajaj yang ada sempaknya di belakang kursi penumpang. Apalagi kalau berdiri di tengah rel kereta, masih mau diam? Salah satu harus dipilih, kan? Lari ke kanan atau ke kiri. Ya kecuali kalau kamu memang berniat untuk bunuh diri. Hahaha. Ngawur, ya.

Instagram membuat saya merasa menjadi anak muda yang tidak normal. Tolong, izinkanlah saya menyebut diri saya muda. Setidaknya saya masih lajang dan belum berkeluarga. Dan belum bisa berpikiran dewasa.

Anak muda normal yang saya maksud disini adalah anak muda yang sering ke mall setiap akhir pekan, beli baju-baju bagus, beli peralatan rias yang mahal, nongkrong di cafe, nonton di bioskop, dan seperangkat kegiatan-kegiatan menyenangkan lainnya. Yang kalau kata orang, “Puas-puasin selagi masih muda.”

Saya? Pergi ke mall paling kalau ada perlu aja. Mengingat jalanan Jakarta sungguh melelahkan jiwa raga, menggetarkan hati bagi siapa saja yang melewatinya. Subhanallah…

Beli baju-baju mahal nan fashionable dan branded? Selain karena tidak memiliki pemahaman yang baik mengenai fashion, saya juga pasti akan membutuhkan modal besar agar nampak baik secara kulit. Maklum lah. Saya bukan eksekutif muda.

Beli peralatan rias mahal? Menonton tutorial aja langsung loncat ke menit terakhir. Sungguh, bukan tak ada keinginan. Sebagai perempuan biasa, pasti ada keinginan. Tapi ya mbuh. Ya begitu. Sulit untuk dipahami, bahkan oleh diri sendiri.

Nongkrong di cafe? Ah, bukan saya tidak ingin. Makanan di cafe itu sedikit, mana kenyang. Nih ya, kentang goreng di Cuci Mulut harganya lima belas ribu, isinya sedikit. Padahal dengan uang lima belas ribu, saya bisa makan kenyang dengan sadas D’Besto atau bakso pak kumis. Oh terima kasih, Allah. Kau telah menghadirkan teman-teman yang sering mengajak makan di D’Besto atau bakso di Beji. Pertemanan yang sangat sederhana, namun memiliki pandangan yang rumit di masing-masing kepala. Sungguh ballance rupanya.

Nonton film di bioskop? Saya lebih suka buku ketimbang film. Buku, menurut saya bisa bebas kita terjemahkan, dengan imajinasi-imajinasi yang kita bangun sendiri. Berbeda dengan film yang sudah disuguhkan secara instan. Ah ya, kapan saya terakhir kali ke bioskop? Pantas kudet. Hahaha.

Menurut kamu saya sedang iri? Nampaknya bukan. Kalau kamu bilang saya ini nggak gaul, mungkin iya. Hahaha. Begini, bukan iri sebenarnya. Tapi lebih kepada perasaan….“Banyak orang yang begitu, kok gue beda sendiri? Gue normal atau nggak sih?”

Makanya, ketika di Instagram saya melihat banyak orang yang mendedikasikan feeds nya untuk foto-foto koleksi buku miliknya, saya takjub. Ya, takjub. Takjub di luar rasa penasaran saya apakah semua buku itu ia baca, apakah semua buku itu rela bila dipinjam.

Beda lagi dengan media sosial yang dominan berwarna merah itu. Sebut saja ia Path. Linimasa Path kebanyakan hanya berisi informasi sedang di mana, makan di mana, makan pakai apa, dan jejeran informasi lainnya yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Mungkin penting bagi penculik. Hahaha. 

Iya, saya bercanda.

Lalu, Tumblr? Tumblr itu jenis microblogging atau bisa disebut juga media sosial tidak, ya? Dominan warna biru tua menjadikan saya cenderung untuk menuliskan hal-hal berbau galau. Hubungannya apa? Tidak tau, setidaknya itu yang saya rasa. Jika kamu merasa suatu tempat lebih sering menggalaukanmu ketimbang menyemangatimu, maka tinggalkanlah. Begitu sabda pak RT di salah satu kelurahan di Wellington.

Dan Facebook.. Menjadi sosial media yang mudah untuk menyebarkan tautan, termasuk di dalamnya adalah berita bohong dan ujaran kebencian. Kata Mas Ali, “Menyuguhkan tamu dengan kopi itu baik, tapi jangan dengan menyiramkannya ke muka.” Kalau kamu ingin mengingatkan sesama, pakailah dengan cara yang baik, bukan malah mengajak orang lain menyalakan api di SPBU. Padamkan api dengan air, bukan dengan api lagi. Mau bikin meledak sampai mana? Sampai semua terbakar dan tak tersisa?

Baiklah. Saya hanya kaum anak muda ‘marginal’, tak terlihat, dan terabaikan. Yang lebih sering jajan buku ketimbang jajan kopi Starbucks. Untung Starbucks cuma kopi. Coba kalau produknya adalah minuman coklat atau minuman rasa leci, kelak akan saya beli meski harganya sebanding dengan buku-bukunya Pram. Useeh.. Mahal yak.

Tapi yasudah, setiap orang berhak mengisi linimasanya dengan kreatifitasnya masing-masing. Tidak berperilaku hedon, bukan berarti tidak normal. Tidak banyak aktif di kegiatan sosial, bukan berarti tidak kece. Apa yang ada di media sosial memang yang baik-baik dan bagus-bagus aja. Jarang sekali ada orang yang dengan sengaja memamerkan aibnya di media sosial. Media sosial adalah lahan pencitraan. Bukan begitu? Coba bayangkan kalau dibalik. Media sosial adalah lahan pamer aib. Misal,

“Gue nggak puasa dong. Males amat puasa-puasa nahan laper.” — sambil unggah foto Burger King plus rokok A Mild di bulan Ramadhan.

Atau

“Gue lagi asik-asik sama pacar di tempat gelap, eh digerebek warga sekampung. Pada sirik amat ya.” — sambil unggah foto selfie bareng pacar yang mukanya udah tidak bermuka.

Astagfirullah. Kok jadi seram….

Ya.

Tidak apa kalau kamu anggap saya sirik dengan yang nampak di media sosial karena jomblo, jadi tidak ada yang bisa diajak jalan-jalan. Saya beritahu, pacaran itu tidak tercatat dalam pemerintah. Jadi ya sama aja, ilegal. Illegal loving kali (?).

Tidak apa pula kalau kamu anggap saya sedang nyinyir. Saya memang suka nyinyir. Terlebih setelah mandi dan keramas. Tidak nyinyir sebulan akan mengakibatkan kita menjadi gimbal.  

Betul begitu, eh?

0

Mungkin Hal-hal Ini yang Bikin Dia Nggak Balas Chat

Beruntungnya kita hidup di masa ketika teknologi sudah sangat canggih. Di zaman super modern ini, kuota internet lebih penting daripada pulsa. Mau berkabar, tak perlu lagi menggunakan burung merpati. Tinggal pilih aja, mau berkabar lewat WhatsApp, LINE, BBM, dan sebagainya. Tapi ya gitu. Sudah diberi kemudahan, masih saja ada orang yang sulit untuk membalas chat. Kalau lambat balas sih masih mending. Kalau nggak dibalas sama sekali? Pasti kita sering bertanya kenapa alasannya. Hmm..Yuk kita lihat alasan dari sisi tersangka.

Merasa udah balas chat, tapi ternyata belum. Sayangnya, teknologi belum secanggih itu…

2

Lupa balas chat karena keasyikan main game…

3

Udah ngetik panjang, tapi lupa pencet ‘send’…

4

Kelamaan ngetik karena nyari emot setahun…

5

Nggak boleh megang handphone kalau lagi kerja…

1

Nah.. Kan… Everything happens for a reason. 😀

0

Penipuan yang Mengatasnamakan PT. Kiat Ananda

Sebagai pengangguran yang tahu diri, mencari pekerjaan yang layak adalah sebuah kewajiban (bagi sebagian orang). Hampir segala cara saya tempuh, termasuk dengan melihat iklan lowongan di LINE Jobs. Waktu itu saya lihat informasi salah satu lowongan pekerjaan di sana.

Oknum yang mengaku sebagai PT. Kiat Ananda tersebut ternyata memasang iklan lowongan lebih dari satu. Yang satunya lagi mereka membuka lowongan untuk posisi admin. Coba perhatikan dengan jelas informasi yang mereka berikan, terutama pada bagian cara melamar. Aneh, kan? Mana ada mau melamar kerja, tapi harus telepon dulu? Alamat emailnya juga pakai gmail, bukan pakai domain website perusahaan. Di situ juga tertera alamat kantor di Jakarta Selatan. Padahal setelah saya telusuri, kantornya hanya ada satu dan bukan terletak di Jakarta Selatan. Sudah tahu bahwa ada yang aneh dengan lowongan tersebut, saya tetap kirim email lamaran. Saya ingin tahu bagaimana cara mereka melakukan penipuan. Malam harinya saya mendapatkan sms.

What. The. Hell. Ini sih sama saja kayak sms papa minta pulsa. Kesel. Saya balas aja sms nya.

Lah kocak. Ada ya, kangtipu baperan gitu?

Setelah saya googling alamat yang mereka kasih, boom! Hasilnya banyaaaaak banget orang yang dapat sms itu. Hebatnya lagi, mereka bisa menjelma menjadi perusahaan apa pun. Sebelum saya melihat iklan mereka di LINE Jobs, saya juga melihat mereka memasang iklan lowongan di Linked In dengan mengaku sebagai perusahaan X (saya lupa nama perusahaannya). Dari situ saya menemukan satu blog yang menceritakan bagaimana si kangtipu itu memeras uang dengan alasan untuk biaya registrasi atau pembayaran seragam kerja. Coba deh, kamu googling. Saya lupa alamat blog nya (update: kayaknya di blog ini). Mereka menipu dengan mencatut nama perusahaan yang berbeda-beda, tapi menggunakan alamat yang selalu sama. Ya pantas aja kalau saya cuma googling dengan kata kunci alamat, tapi saya langsung tahu kalau mereka ini kangtipu.

Alamat Kantor: PT.KIAT ANANDA GROUP..jl.Raya Fatmawati/Perkantoran Samping RS SETIA MITRA Kav 2 no.219 Lantai 2 , Jaksel..Patokan: kantor saya depan TIMUNG II ..up.IBU SAFIRA (Penempatan Kerja di Cabang Terdekat Domisili) 

Yang membuat saya heran adalah mereka sudah lama beroperasi melakukan penipuan, tapi kok didiamkan saja? Berita burung bilang sih mereka punya ‘pagar penjaga’. Yaa.. Nggak tahu lah ya, mereka bekerja sama dengan siapa.

Duhileeehh… Pak, Bu… Tobat ngapa sih! Kita pan kagak tau itu duit berkah apa kagak. Kalau makan pakai duit kagak berkah pan ngeri sakit itu, Pak..Bu.. Dosa mah sudah pasti. Sakit fisik, sakit jiwa, pan bahaya!

N.B. 1 Kalau butuh hiburan atau sekadar kepo, coba baca ‘testimoni’ tentang penipuan basi itu di link-link berikut:

N.B. 2 Sebelum apply lamaran pekerjaan, coba cek kembali:

  • Email HR perusahaan (perusahaan biasanya pakai alamat email yang profesional, misal; titi.kamal@gramedia.com)
  • Kalau pun pakai gmail, cobalah kepo sedikit. Minimal cari profil Google+ nya.
  • Cari informasi mengenai perusahaan sedetail mungkin.
  • Pastikan kembali alamat kantornya.
  • Teliti di segala aspek

N.B. 3 Dear LINE Jobs, cobalah lebih selektif lagi. LINE ini sebenarnya kredibel, tapi dinodai oleh si kangtipu itu.

HATI-HATI, GUYS!! NGGAK USAH CARI KERJA, CARI JODOH AJA JADI BOS AJA SENDIRI. HAHA. NGGAK DEH, BERCANDA. *peace*

0

Tidak Ada Masakan Gagal

Hasil kerajinan di dapurku

Ada satu hal yang banyak orang tak tahu. Aku selalu menggebu-gebu dalam hal mencoba resep masakan. Kalau orang lain mungkin akan mupeng melihat foto makanan, aku justru malah pengin tahu cara membuatnya. Kalau sekiranya dapat dibuat dengan peralatan seadanya, aku akan semakin semangat. Aku memang bisa disebut sebagai perempuan yang belum bisa memasak, tapi setidaknya aku punya ketertarikan terhadapnya. Aku dulu sering masak kok, sewaktu menjadi anak rantau. Karena seringnya masak untuk diri sendiri, jadi rasa dan selera ya suka-suka. Kalau belum bisa menyamakan rasa dan selera masakan kita untuk orang banyak, tetap…namanya belum bisa masak!

Cheesecake ini adalah hasil uji coba penasaranku. Bisa dibilang, aku gagal dalam membuat chessecake ini. Tapi karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, maka mari kita hilangkan dulu kata ‘gagal’ dalam hal masak memasak. Cheesecake ini tidak gagal, namun hanya tertunda saja enaknya.

Kok bisa gagal?

1. Dengan rasa percaya diri penuh, aku merebus keju cheddar geluntungan (tanpa diparut terlebih dahulu) bersama susu. Emang dasar norak, dikira keju cheddar sama seperti mozarela yang mudah meleleh. Akhirnya butuh waktu yang lama untuk melelehkan keju bersama susu. Yang bikin sedihnya adalah, susu yang aku pakai adalah susu UHT yang kemudian dipanaskan bersama keju sampai suhunya tinggi. Dalam hati aku teriak, “Proteiiiiiinnn! Rusak lah itu protein!”

2. Tepung maizena yang menggumpal. Jadi, larutan tepung maizena aku taruh kulkas. Sewaktu ingin dipakai, “lah kok beku?” wkwkwk. Yaiyalah. Dan jreng jreng…! Karena terlalu lambat mengaduk, akhirnya larutan tepung maizena itu menggumpal bersama lautan keju susu.

3. Terlalu banyak gula dan susu kental manis aku cemplungkan. Hasil akhirnya apa? Kata orang sunda mah namanya giung. Aku aja kalah manisnya sama cheese cake itu. Ahahaha. Chesse cake buatanku.. Hmm.. Numero uno~ Haee.. Laik kopi! 

Cheese cake buatanku isinya gula semua. Aku yakin sekali kalau proteinnya sudah terdenaturasi. Wkwk. Nggak baik. Selain bikin diabetes, terlalu banyak mengonsumsi gula juga bisa menganggu perkembangan otak. Terlalu banyak gula juga akan mengganggu penyerapan protein dan nutrisi yang kemudian akan menyebabkan malnutrisi.

Sudah, begitu saja.