0

Monolo(gue) #12: Ayam Goreng dan Rasa Syukur

“Bu, hari ini makannya pakai apa?”

Adalah pertanyaan yang hampir setiap hari gue tanyakan pada ibu. Kenapa nggak kamu yang masak, Nis? Malas. Nggak ada yang bakal percaya masakan gue. Ahaha.

Rumah gue hanya berisi 4 kepala. Hampir semua memiliki aktivitas pergi-pagi-pulang-malam. Jadilah ibu jarang masak. Sebenarnya setiap hari masak sih, tapi selalu berujung sia-sia karena kami termasuk keluarga yang nggak doyan makan. Semua makanan tersisa, pun makanan sebangsa cemilan. Kalau makanan sebangsa cemilan sih masih bisa dibagi-bagi ke saudara, tapi kalau main course..alah main course..agak aneh aja kalau cuma bagi-bagi tanpa nasi. Jadilah kalau ada orang atau saudara bertamu ke rumah, kayaknya mesti wajib makan. Ekekeke..

Ketika bingung mau masak lauk apa, ibu biasanya masak ayam goreng. Di antara 4 kepala, yang nggak makan ayam goreng cuma satu kepala, yaitu bapak gue. Bapak gue cuma mau makan ayam kampung. Katanya ayam potong nggak sehat karena suntik sana sini. Bapak juga suka bawel kalau gue makan ciki dengan rasa MSG yang kuat. Ciki itu tulisannya gimana sih? Ahaha. Ya itulah macam Taro, Cheetos, dan teman-temannya.

Nggak jarang, ibu masak ayam goreng beberapa hari berturut-turut. Ya karena sering sisa, jadi masih banyak yang belum digoreng. Belum lagi kalau ibu lagi nggak masak. Pasti beli lauk yang ada ayamnya. Entah itu digoreng, dibakar, diapain aja lah pokoknya ada si Gallus gallus itu. Mau diolah seperti apa pun, gue cuma pilih bagian femur. Haha. Femur. Wow. I almost forgot that term.

Gue yang mudah bosan, semena-mena sering bilang,

“Bosen, ah, makan ayam terus.”

Entah sudah berapa kali gue berkata demikian. Sampai kali ke berapa gue berbicara seperti itu, tiba-tiba otak gue kesetrum apaan tau, lalu ngoceh sendiri,

“Lu tuh harusnya bersyukur masih bisa merasakan bosan. Setiap hari masih bisa makan ayam goreng. Lu pikir semua orang bisa makan ayam goreng setiap hari? Lu pikir semua orang mampu beli ayam untuk digoreng? Makan lah yang ada, jangan malah mengeluh kalau dikasih rezeki.”

Dari ujung kiri, ibu hanya menatapku aneh karena anak perempuannya bisa mengeluh dan bijak dalam sekali waktu. Ngomong sendiri lagi. Wkwkwk. Ajaib bener. Kamu pernah merasakan nggak? Pasti pernah lah. Kita mah gitu. Seringnya lupa. Lupa kalau mungkin sebenarnya hidup yang kita jalani adalah hidup yang orang lain impikan. Kita juga sering lupa bahwa sesungguhnya nikmat dan rezeki yang berlimpah juga merupakan ujian; apakah rezeki yang sudah diberi itu digunakan untuk kebaikan atau kemaksiatan.

Kata Allah dalam surat Ibrahim ayat 7,

Sadeess.. Kayak orang bener ya gue. Ahaha. Ini namanya Note To Myself.

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.

0

Benih Harapan dalam Sebuah Polibag

Judulnya sok serius banget, ya. Tak apa lah. Setidaknya aku nggak pakai judul click bait yang kontennya sering nggak relevan. Suka kzl aja gitu kalau lagi chilling sambil baca LINE Today yang memuat artikel-artikel dengan judul yang mengundang curiosity, tapi kontennya nggak relevan. Kalau sering baca dan benar-benar dibaca sampai habis, pasti pernah lah kamu merasakan kalau judulnya terlalu berlebihan. Ya mau gimana, hampir semua media online sekarang memakai judul click bait. Kenapa, coba? Karena kebanyakan orang (khusunya di Indonesia) itu malas membaca. Supaya pundi-pundi dollar itu tetap mengalir, maka dibuatlah judul-judul bombastis, fantastis, dan lebayis itu untuk memancing rasa ingin tahu.

Eh.. Ini kenapa jadi bahas ini, ya? Waa.. Maafkan, suka keceplosan.

Jadi gini……

Jeng jeeengg! Kalau orang-orang biasanya pakai tagar #latepost di Instagram.

Aku? … Jadi Duta Sheila On 7? Paan sih, nggak lucu.

Yang di foto itu kegiatan Minggu Cerdas pada 22 Januari lalu. Ada yang spesial di minggu kemarin. Pada hari itu kami menanam benih tanaman. Yeaay!

Nih, ya. Kalau aku boleh curhat terlebih dahulu, kadang tuh malas rasanya untuk buka pintu rumah, lalu ke luar menuju Depok. Yaa.. Rumahku ke Depok cuma 3 KM sih, padahal. Aku galau. Di rumah ada motor nganggur, tapi aku nggak berani untuk mengendarainya ke jalan Margonda. Nanti kalau aku mengendarai motor hitam ramping itu, dia jadi nggak nganggur lagi. Terus tinggal aku doang dong yang nganggur? Ha ha.

Tapi aku senaaaang sekali kalau sudah bertemu dengan adik-adik itu. Langitku yang tadinya abu-abu, tiba-tiba jadi biru. Tiba-tiba jadi semangat aja. Meskipun besoknya nggak semangat lagi, lalu lusa semangat, besok setelah lusa jadi nggak semangat, dan begitu aja terus berulang selama seminggu. Hahaha.

Ekspetasi memang selalu lebih tinggi daripada realita. Ekspektasi pada waktu itu adalah anak-anak belajar menanam benih sayur-sayuran perkelompok, dijelaskan sedikit tentang bagian-bagian tanaman serta proses fotosintesis, lalu tanaman disimpan di depan masjid. Realitanya adalah anak-anak terlalu bersemangat untuk memilih benih apa yang ingin mereka tanam (Ada cabe, bayam, pepaya, tomat, dan..umm.. Aku lupa), kebanyakan anak pura-pura nggak bisa melubangi tanah lantas hampir semua meminta tolong ke kakak pengajar untuk membantunya, dan benih yang sudah ditanam akhirnya mereka bawa pulang. 

Ah, memang. Harapan itu selalu perih.

Tapi nggak papa. Setidaknya mereka tahu bagaimana cara menanam. Mungkin lain kali kami akan nonton film bareng pakai LCD proyektor. Atau berenang. Atau bikin slime. Atau pura-pura jadi peneliti, lalu isolasi bakteri dari tanah. Yakaleee..

Aku paham, mereka pasti bosan diajak belajar melulu. Aku juga paham bagaimana rasanya mendengar “Kakak..kakak..” dari segala penjuru mata angin. Yang aku nggak paham adalah perasaanmu dahulu. Eeuuhh

Jadi begini, Adik-adik. Anggap aja aku sedang berbicara dengan adik-adik itu. Kami sebenarnya takut pada harapan yang orang tua kalian tanam kepada kami. Kami juga takut nggak diizinkan untuk pakai masjid lagi karena karpetnya terkena noda plastisin yang kami berikan kepada kalian. Kalian adalah benih, sementara kami hanyalah pupuk. Untuk dapat tumbuh menjadi akar, batang, daun, hingga menjadi tanaman sejati, kalian bukan hanya membutuhkan pupuk. Ada air, cahaya matahari, udara, suhu, dan kelembaban. Saat kecil, kalian tumbuh dalam polibag. Ketika sudah sempurna semua bagiannya, kalian akan pindah ke pot yang lebih besar. Kita hidup dengan harapan, dan kalian adalah harapan dalam sebuah polibag.

* Kami : Renita beserta jajarannya termasuk aku

** Tulisan ini sengaja dibuat nggak sistematis karena aku bosan terlalu sistematis ūüėā

0

Meli

Meliana, perempuan yang selalu nampak ceria dan ramah itu kukenal pada masa kuliah di kampus biru. Aku mengenalnya saat masih aktif di UKMI. Kemarin malam aku mendapat kabar bahwa ia telah kembali pulang pada Allah. Kupikir berita itu hanyalah berita¬†hoax. Tapi banyaknya berita, ucapan, dan doa yang disampaikan orang-orang mau tak mau memaksaku untuk memercayainya. Inna lillahi wa inailahi raji’un.

Lamaaaa sekali tidak bertemu dengan Meli. Terakhir pertemuan itu aku ingat. Meli memintaku menemaninya untuk makan di kantin kampus, tapi aku menolaknya karena sudah makan lebih dulu. Aku juga ingat sewaktu aku memberitahunya tetang lapak baca buku di alun-alun. Orang yang pertama kali aku ingat ketika ada anggota Pecandu Buku yang mengadakan lapak membaca buku di alun-alun Purwokerto adalah Meli. Karena aku tahu, begitu dekatnya Meli dengan buku dan menulis. Semangatnya luar biasa. Ia bahkan banyak berkontribusi dalam dakwah kampus. Kesan yang tertinggal dalam benak orang-orang yang mengenalnya menjadi bukti bahwa ia adalah orang baik.

Lalu air mata ini semakin tak bisa kutahan ketika membaca tulisan terakhirnya di blog. Tulisan akan abadi. Seperti yang selalu ia katakan, semoga tulisannya menjadi amal saleh di yaumul hisab nanti.

Terima kasih, Januari. Kau menghadirkan dua kematian di bulan ini. Kalau hati ini masih hidup, diri ini pasti akan menjadikannya sebagai pengingat diri.

Selamat jalan, Meli.

Dan selamat jalan untuk Ilham, sepupuku yang juga pergi lebih dulu.

Allah loves you all.

0

Monolo(gue) #11: Penting Nggak Sih?

Halooo.. This is my first post in 2017! Wuuw. Gue bingung mau bahas apa. Kendala akhir2 ini sering mengurungkan niat untuk menulis sesuatu. Di blog ini pun sudah dua kali nge-draft tapi akhirnya batal dipublikasikan. Nggak tau ya, jadi nggak percaya diri gitu. Haha. Bahkan sering nulis caption atau komentar yang pada akhirnya hanya diketik lalu dihapus. 

Hmm.. Mungkin gue sudah mulai memahami apa gunanya media sosial. 

Dunia nggak perlu tahu apa yang gue lakukan sekarang. Orang-orang nggak perlu tau gue kerja di mana, makan siang di mana, weekend pergi ke mana, and so on. Orang-orang nggak perlu tau gue baru beli ini beli itu, gue dapat kado apa, gue mau apa, and so on. Kenapa? Karena nggak penting. Nggak penting juga mereka tau wujud gue kalau selfie kayak apa. Ahaha. Ini sensitif banget. Beberapa tahun lalu gue pernah berusaha mendebatkan perihal “Kenapa akhwat (pada waktu itu gue artikan dalam arti sempit) nggak boleh pasang foto profil menampakkan wajah, tapi ikhwan (yang juga gue artikan sempit) boleh-boleh aja pasang muka sok ganteng.” Dan semua orang memberikan jawaban yang….oke..fine. Logis, tapi tetap nggak memuaskan buat gue. Hingga pada akhirnya gue diam dan mengerti dengan sendirinya. Gue serem aja waktu googling nama sendiri langsung muncul foto-foto yang pernah gue upload di media sosial. Lah segitu mudahnya menemukan gue di internet. Gue nggak cakep sih (Ya.. Siapa juga yang mau ngisengin muka gue. Wkwk), tapi risih aja kalau muka gue tersebar begitu aja di search engine. Nggak relaaaaaa. Akhirnya gue hapus tuh semua foto yang menampakkan wajah dengan jelas. Sekarang juga jadi selektif kalau mau upload foto. Cuma di BBM aja masih berani pajang selfie, itu juga setelah gue hapus semua kontak laki-laki di dalamnya. Maapin yak. Pertemanan kita nggak akan putus hanya karena delete contact BBM. Ahahaha.

Iya gitu. Gue jadi berpikir berkali-kali ketika akan membagikan sesuatu di media sosial. Entah itu foto atau tulisan. Penting nggak sih yang gue share? Ya pikir aja berapa banyak manfaatnya. Ahaha. Nggak ada yang peduli juga. Kecuali gue Raisa dengan sejuta penggemar. Untungnya gue Annisa, bukan Raisa. Coba Raisa, lebih gendut sedikit aja langsung diperhatikan orang banyak.

Jadi.. Di 2017 ini lebih bijak lagi yah dalam menggunakan internet, khususnya media sosial. Iya iya.. Nggak ada mau memahami juga kan walaupun gue koar-koar kalau karakter gue memang ISTJ (dan masih nanya kenapa gue begini dan begitu)? Ya iyalah, Nis. Elu pikir hidup ini hanya perkara dipahami tanpa memahami.

Dih.

Paanzi.

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.

0

Mari Belajar Bahagia Bersama Adik-adik Siswa Minggu Cerdas GSB

Pertengahan tahun 2016 ini, seorang teman jerapah bernama Renita, mengungkapkan sebuah gagasan kepada teman jerapah lainnya melalui grup WhatsApp. Gagasan tersebut adalah salah satu mimpi yang sudah lama ia simpan. Pada waktu itu ia mengungkapkan ingin membuat sebuah gerakan yang berfokus pada anak-anak agar lebih senang membaca. Ia juga mengatakan ingin membantu mengajar anak-anak yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung.

“Kenapa lu nggak ikut semacam Indonesia Mengajar atau komunitas 1000 guru?”

Tanya kami saat itu. Masalah perizinan dari orang tua, katanya. Lagipula, menginisiasi sebuah gerakan sendiri mungkin lebih baik, katanya kemudian. Gagasan tersebut, tentu kami respon dengan baik. Niat baik memang sudah seharusnya disambut dengan baik pula. Maka dengan ilmu yang minim, kami berusaha membantu sebisa mungkin. Kami yang kurang peka atau apa, Renita lebih banyak bergerak sendiri meski telah dibantu oleh Mutia. Mulai dari mencari nama yang pas, publikasi berupa poster, membuat akun social media, membuat program, mencari siswa, sampai pada perizinan untuk meminjam beberapa siswa beserta tempat Sekolah Master Depok. Seperti yang sudah saya katakan, kami turut membantu semampunya, walau itu hanya seutas doa dan informasi lewat social media. Akhirnya, Gerakan Suka Baca resmi menjadi nama project yang diinisasi oleh Renita tersebut.

Sebelum menceritakan Gerakan Suka Baca lebih jauh, saya ingin bercerita sedikit tentang si pencetak ide project¬†ini. Namanya Renita. Saya mengenalnya tahun 2008 di sebuah sekolah menengah yang terletak di pinggir selatan Jakarta. Diizinkan atau tidak, saya akan menjadikan ia sebagai personal reference dalam hidup saya. Ia anak sulung yang memiliki banyak mimpi. Ditempa ribuan taufan membuatnya menjadi semakin kuat setiap harinya. Yang saya tahu, ia dulu bersekolah dengan beasiswa dan kuliah dengan biaya sendiri. Kerja pagi, kemudian kuliah di malam harinya. Seringkali tenaganya di porsir, tapi tekadnya terlalu kuat hingga akhirnya kini gelar S.Pd berada di belakang namanya. Sudah lulus dan kerja pun, ia masih ingin menyibukkan diri dengan program Gerakan Suka Baca (GSB) ini. Ia merelakan hari Minggu, satu-satunya hari untuknya istirahat, digunakan untuk mengajar adik-adik di sekitar Sekolah Master Depok. Oh ya, Renita juga masih konsisten halaqah setiap minggunya. Ia bisa seperti ini juga karena melalui proses. Kalau boleh saja saya mengutip perkataan salah satu mantan presiden Amerika,¬†Franklin D. Roosevelt, “A smooth sea never made a skilled sailor.”

Kembali pada GSB. Program mingguan yang telah kami laksanakan sejak Oktober lalu adalah Minggu Cerdas. Kegiatan ini semacam les tambahan untuk anak-anak dengan umur sampai 12 tahun. Targetnya adalah agar anak-anak semakin lancar membaca, menulis, dan berhitung. Ada beberapa anak yang memang belum mengenal huruf atau sudah mengenal huruf, namun belum lancar membaca. Kami juga mencoba untuk membiasakan mereka membaca buku apa saja di awal pembelajaran. Lokasi kegiatan Minggu Cerdas ini sebenarnya tidak menentu walau masih di sekitar Sekolah Master (belakang terminal Depok), terkadang kami meminjam gedung TK atau masjid. Status beberapa murid Sekolah Master dengan GSB ini juga sebenarnya adalah “dipinjamkan”. Syukur alhamdulillah kami diizinkan.

img_20161016_113707

Peserta Kegiatan Minggu Cerdas

 

Setiap tiga bulan sekali, anak-anak diajak berwisata sambil belajar. Awal Desember kemarin, untuk pertama kalinya kami mengajak 22 anak ke Museum Fatahilah di Kota Tua menggunakan Commuter Line. Walaupun awalnya mereka protes karena diajak naik KRL, pada akhirnya mereka senang memandang Monas dari balik jendela. Membuat anak-anak senang itu pada dasarnya sederhana. Tidak seperti orang dewasa yang katanya bahagia itu sederhana, tapi banyak bohongnya.

“Bahagia itu sederhana”, tulis seseorang pada keterangan foto yang dia unggah. Tapi yang ia unggah ya barang-barang (cukup mahal) yang ia beli.

“Bahagia itu sederhana”, tulis seseorang pada keterangan foto yang dia unggah. Tapi yang ia unggah itu foto kebersamaannya dengan pacar.

Barang-barang yang kamu beli atau pacar gantengmu tidak memberikanmu kebahagiaan abadi. Pura-pura bahagia juga tidak selamanya baik lho, Kak. ūüėÄ

Belajar bahagia lah dari anak-anak. Yang mampu menertawakan hal-hal kecil, yang memandang sesuatu dari sudut pandang berbeda versi mereka, dan yang apa adanya. Meski saya tahu, anak-anak yang hampir setiap minggu saya temui ini bukanlah anak-anak biasa. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dari pedagang di sekitar terminal Depok dan terbiasa dengan kehidupan di sekitar terminal. Salah satu anak, di perjalanan menuju Kota Tua, bahkan pernah mengaku kepada saya bahwa ia pernah berjualan tissue di salah satu stasiun di Depok. Namun, pada dasarnya mereka adalah anak-anak biasa yang memiliki banyak cita-cita.

Terus belajar yaaaa, adik-adik! Tebarkan kebahagiaan dan jadi lah anak shaleh-shalehah. Biar nanti kalau sudah dewasa, bisa memberikan banyak manfaat bagi orang lain.

img-20161204-wa0017

Berkunjung ke Museum Fatahilah

Oh ya. Hingga kini, anak-anak yang berminat untuk ikut belajar semakin bertambah dan sejujurnya kami sebagai pengajar (termasuk saya sebagai pengajar bayangan) kewalahan. Kau pasti tahu, anak-anak itu susah diam. Kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang program ini, bersedia menjadi relawan pengajar, atau bersedia menjadi donatur, bisa kontak ke sini:

  • WhatsApp : 0838 7406 7973
  • Facebook ¬† : Gerakan Suka Baca
  • Instagram ¬†: @minggucerdas

Ataaaaau… Kau bisa hubungi saya melalui blog ini.

“Khairunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Bukhari Muslim)

dan bolehkan sekali lagi saya menulis kutipan satir dari salah satu sastrawan favorit saya?

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” (Menjadi Tua di Jakarta- Seno Gumira Ajidarma)

0

Yang Terus Berulang Suatu Saat Henti

Kepada Mbak Rara Sekar dan Mas Ananda Badudu, izinkan aku meminjam sebentar sepotong bait milik kalian berdua. Jika telah selesai, aku berjanji akan mengembalikannya ke tempat semula.

Yang terus berulang, suatu saat akan terhenti jua.

Akhirnya terhenti; berdesak-desakan dalam gerbong KRL tujuan Jatinegara, pekerjaan yang monoton setiap harinya, tawa di atas pekerjaan, kebingungan memilih menu makan siang, menumpangi bajaj berwarna biru, kedatangan bus Transjakarta yang sering lama, serta malam yang semakin malam.

Yang aku ratapi bukanlah akhir, tapi membiasakan ketiadaan rutinitas. Membiasakan ini adalah proses yang tidak pernah aku suka.

Sepi kembali melambaikan tangan di ujung jalan. Ia tersenyum, “Hi, welocome back!”. Cepat-cepat kuusir dia, “Minggir kamu!”

Nampaknya aku perlu bersyukur dengan kelajanganku selama ini. Sebab aku adalah bagian dari kelompok SUMON. Sulit Move On. Pada tempat, teman, dan suasana saja aku sulit untuk berpindah. Aku sulit untuk merasa mantap pergi meninggalkan (dengan terpaksa) yang pernah ada untuk membentuk kenangan dengan tempat, teman, dan suasana baru. Ah, apa jadinya jika itu adalah seseorang yang harus aku pindahkan?

Pada suatu pertemuan, pernah kucurahkan apa yang ada dalam hati kepada salah satu teman. Aku ingin seperti orang-orang, yang bisa kuliah magister. Juga bekerja sesuai jurusan. Sebab ilmuku selama empat tahun terasa menguap begitu saja ke udara.

“Orang-orang idealis punya pemikiran seperti itu.”, tanggapnya beberapa detik kemudian.

Tapi apalah. Bukankah aku sendiri yang mengatakan tak perlu kuliah jika hanya demi mengikuti keinginan orang-yang bahkan-tidak berpengaruh sama sekali terhadap kehidupanku? Bukankah aku sendiri yang mengatakan bahwa pekerjaan yang sesuai dengan hobi lebih menyenangkan hati?

Kamu boleh saja sebut ini galau. Pada kenyataannya memang lebih banyak aku gunakan perasaan ini. 

Tapi kemudian, kegalauan ini perlahan memudar tatkala seorang teman, sebut saja Isna, memintaku untuk menonton kajian hari kiamat. 

Aku tahu, ada yang lebih penting untuk digalaukan.

Kepada alumni Glints, aku rindu. Itu saja cukup.

2

Monolo(gue) #10: Ini Teman, Bukan Rekan! (part 2)

Seperti yang gue beritahu sebelumnya, masih ada lima orang lagi yang kemudian bergabung dalam tim. Ceritanya panjang. Sepanjang jalan kenangan. Yang pasti, mereka bergabung setelah Angelo memutuskan untuk resign setelah galau tak berkesudahan. Dan nggak lama kemudian, Mike ikut resign. Kalau diurutkan berdasarkan abjad, mereka adalah Mardi, Muhammad Yusuf, Rani, Shabrina dan Sinta.

1. Mardi

Mardi ini anak baru. Anak baru? Iya, pokoknya anak baru. Nggak perlu dijelaskan, aku ingat kok kenapa disebut anak baru. Mardi ini berteman dengan Rani, meskipun beda fakultas. Meski gue dan Rani juga satu almamater, tapi gue nggak kenal Mardi sebelumnya. Rani mengenal orang Bogor ini karena sama-sama aktif di LPM. Stereotip gue mengenai anak-anak LPM langsung melintas lambat ketika melihat Mardi. Bhahaha. Maapin yak. Tumbuh dan kembang gue selama kuliah banyak dipengaruhi oleh yang onoh. Iye, yang onoh dah. Tapi sekarang aku open minded kok. Open minded dari segi maneeehhh. Yusuf dan Tino, entah kenapa senang sekali ngeledekin (bahasa bakunya ngeledekin teh apa yak?) Mardi, terutama dalam hal “ciye-ciye” in sama Sinta. Tapi da dianya mah malah senang diledekin sama Sinta. Ahaha.

2. Muhammad Yusuf

Biasa dipanggil Usup atau Ucup. Pertama kali lihat dia..hiii mukanya bocah abis. Ternyata benar. Masih bocah. Sama kayak Tino. Masih bocah karena dia dan Tino tiga atau empat tahun lebih muda dari gue. Aku kok udah tua yaaa. Meski hobinya ngatain orang (bahasa bakunya ngatain teh apa yak?) tanpa disaring terlebih dahulu, pada dasarnya dia adalah teman yang baik. Setidaknya untuk Tino. Kalau nggak ada Usup, siapa yang mau mengingatkan Tino untuk shalat? Ya kami lah yang tua-tua di kantor. Bhaha. Usup ini gemesin kalau lagi ngambek. Asa pengin nyubit pakai tang. Mau dimaklum karena dia masih bocah juga gimana, kan dia cowok. Makanya, kami suka geregetan. Mengaku puitis, caption foto-foto di akun Instagram-nya memang agak-agak. Agak-agak maksa. Tapi gue menghargai setiap orang yang berusaha untuk belajar menulis. Apalagi membaca. Karena aku pun sama demikian.

3. Rani

Ah, Rani mah nggak perlu diulas. Gue inget. Bhahaha. Kowe kenapa sih dimana-mana di-bully terus? Ku kan jadi prihatin…..

4. Shabrina

Di awal-awal, gue nggak terbiasa mendengar Shabrina yang nggak bisa berhenti berbicara. Pusing dah. Ahahaha. Maapin yak. Lama-kelamaan, gue jadi terbiasa, bahkan heran kalau dia jarang mengeluarkan suara. Ia sering mengaku bahwa dirinya jahat. Ya mbuh jahat yang seperti apa. Tapi gue mengidolakan ketegasan dan kegalakannya. Dia nggak mudah terpengaruh oleh orang lain dan berani membuat keputusan sendiri. Nggak lemah dah kayak gue. Hoahahaha. Ajarin gue galak, Shaaaaaab..

4. Sinta

Ah, Sinta mah nggak perlu diulas. Gue inget. Bhahaha. Sinta orangnya jujur dan apa adanya. Rajin menabung dan rajin membantu kedua orang tua. Ahahaha.

img_20161021_180908_1

 

Ini sebenarnya udah nggak fokus karena sedari tadi bolak-balik lihat postingan tentang Aksi 212. Speechless lah kuuuu T_T

Masih ada yang kurang. Nanti gue tambah lagi ya.. Mau baper duluu *run* *run*

Monolo(gue) adalah seri tulisan tidak berfaedah yang terdiri dari 99,9% makna kosong dan 0,1% hikmah, namun diam-diam memiliki unsur terselubung.