0

Kutipan Buku #2: Ikhlas Adalah

“Kalau hari ini, kamu kencing dan berak berapa kali, Mat?”

“Sehari ini saya belum berak, Cak. Kencing mungkin tiga atau empat kali.”

“Kemarin?”

“Berak sekali. Kencing? Ya, kira-kira sama lah, Cak, dengan hari ini, tiga atau empat kali?”

“Sebulan  yang lalu? Setahun yang lalu? Sejak mulai kamu lahir kamu ingat, berapa kali kamu berak dan kencing?”

“Seperti itulah ikhlas.”

“Maksudnya?”

“Amal perbuatanmu yang tidak pernah diingat-ingat.”

– Rusdi Mathari dalam buku Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya

Kutipan Buku adalah seri tulisan untuk mengantisipasi penyakit serangan lupa bahwa ada banyak cahaya dalam tiap lembar buku yang pernah saya (atau kita) baca.

Iklan
0

Blabbering: Menulis yang Tidak Penting

Hi, guys! Balik lagi nih ke channel aquuhh.. Kali ini aku akan ngebahas skin care yang cocok buat #sobatmiskin..

Eh bentar..

Bentaaaaar!

Kamu kan bukan beauty vlogger.

Oke. Bhaaaiiiq..

Ya bulan Mei ini aku sepi jadwal manggung. Jadi lah banyak waktu luang yang mengakibatkan pikiran ini mengembara ke mana-mana. Sudah aku siasati dengan menghapus aplikasi Instagram, tapi da tetap aja aku buka medsos lain. Pagi-pagi, ngecek linimasa, isinya berita bom, teroris, dan populasi manusia yang hobi memprovokasi di tengah bencana. Pusing aku, beb. Dunia sebentar aja kok susah banget damainya. Ketemu teman, eh topiknya ndak jauh-jauh dari karir-jodoh-karir-jodoh. Gitu aja terus sampai nanti salah satu di antara kami ada yang menikah dengan duda Malaysia beranak satu. Hhhhh. Aku dan enam teman lain dalam grup jerapah hingga kini masih menerka-nerka siapa yang lebih dulu jadi hot mommy. Aku sudah bertekad. jika aku yang terakhir, aku akan pulang kampung ke Ciamis. Menjadi gadis kota yang membiasakan diri mendengar bunyi tonggeret sakalian ngabantu Mang Ujang marab hayam, bantu Emak Amis goreng saroja, ngala tutut ke sawah, dan ngiring Bapak Amis ngobak empang.

Bahas apa sih kamu, Caaawww?

Bhaaaiiiq. Karena memang judulnya adalah blabbering, maka isi nya pun sudah pasti nirfaedah. Aku yang sedari masih berupa fetus sudah pasif dan setelah melewati masa remaja pernah mengutuk diri mengapa harus introversi yang dominan, memang merasa lebih mudah untuk tjurhat melalu tulisan. Penting atau tidak penting, menulis bagiku adalah salah satu cara untuk membekukan ingatan. Ya aku pelupa banget memang. Kebiasanku menulis curhatan ada manfaatnya ternyata, gaes. Aku jadi tau gaya tulisan sewaktu SMA, jadi ingat dulu ngerjain apa aja di rohis dan masjid nurul iman, ingat pernah sering buat cerpen tapi arsipnya hilang bersama laptop, ingat dulu pernah merasa being ignored, ingat pernah merasa haru waktu pelantikan ukmi, ingat pernah mendebat dalam diam perihal why everyone is lebay in applying theology, lalu ingat juga ternyata teman-teman KKN-ku lawak abis. Ya masa kalau malas rapat terus mau menenggelamkan diri dalam bak mandi atau membusakan mulut dengan shampoo. Liar banget idenya Muti mah. 😂

Daaaan masih banyak hal lagi yang kuingat akibat membaca ulang tulisan-tulisan yang sesungguhnya nirfaedah sekali. Sebagian tulisan itu pernah aku unggah di Tumblr, tapi lama kelamaan kumerasa itu tidak baik, lalu akhirnya hapus akun. Tapi ya tulisan itu tetap aku arsip. Da aku mah jago kalau soal mengarsip. Membual lah yang aku tidak jago ayam. Hhhhh.

Semasa menjadi pengangguran lulusan pres greduet salah satu kampus Jenderal yang almamaternya berwarna kuning butek, mulai lah blog ini aku aktifkan kembali. Blog ini sebenarnya bekas KKN dulu . ((bekas)). Haha. Lalu, saat itu mulai timbul keinginan untuk menulis yang ada manfaatnya sedikit lah. Belajar menulis artikel, belajar menulis fiksi, dan belajar menulis pendapat melalui seri Monolo(gue). Komentar dari orang-orang, baik atau buruk, pasti aku ingat sampai sekarang. Serius akutuuu.

“Caw, monologue nya lucu.”

“Aku baca tulisanmu di blog. Seru aja.”

“Not important and not interesting at all.”

“Tulisan mu sekarang mendingan.”

“Ditunggu tulisan tentang Purwokerto nya lagi.”

“Mbak Icaw curhatnya di blog ya? Mbak Icaw anak mojok ya?” – Yang bilang ini namanya Ucup. Kemungkinan suatu hari ia akan baca ini. Hahaha.

Mungkin juga suatu hari nanti kalau membaca ulang tulisan ini aku akan ingat bahwa bad mood lah yang membuatku nulis ngalor ngidul. 🌈🌌🌌

0

Kutipan Buku #1: Berdakwah

Jika memang tujuan berdakwah adalah mengajak umat manusia berbondong-bondong masuk surga, tentu saja caranya bukan dengan mendorong-dorong masuk neraka.

Jika memang tujuan berdakwah adalah mengajak umat manusia beriman dan bertakwa, tentu saja caranya bukan dengan mengafirkan orang lain.

Jika memang tujuan berdakwah adalah mengajak umat manusia masuk Islam, tentu saja caranya bukan dengan menjelek-jelekkan agama lain dan keyakinan berbeda.

– Chandra Malik dalam buku Republik Ken Arok

Kutipan Buku adalah seri tulisan untuk mengantisipasi penyakit serangan lupa bahwa ada banyak cahaya dalam tiap lembar buku yang pernah saya (atau kita) baca.

0

Yang Mudah Berbalik adalah Hati, Bukan Telapak Tangan!

Sabtu siang, di sebuah restoran Korea, saya berbincang dengan salah satu kawan yang sudah begitu lama tidak saya temui. Sebut saja namanya Malih. Meski ia perempuan, nama Malih nampaknya bagus menjadi nama samaran untuknya. Pertemuan kami siang itu bukanlah untuk membicarakan siapa saja yang menjadi kandidat presiden Indonesia nanti. Bukan pula membicarakan Lucinta Luna yang belakangan ini sering muncul di akun gosip Lambe Turah. Bukan. Malih bahkan tidak tahu siapa artis yang sedang menyelenggarakan jumpa penggemar di Watson. Kami membicarakan hal-hal tidak penting, termasuk tentang kekagumanku pada seorang makhluk dari negeri tidak berawan namun berwawasan juga dianggapnya tidak penting. Hooooooolycrap!

Bhaiiiik.

Sambil menunggu makanan yang sebetulnya mirip dengan cilok itu datang ke meja kami, saya mengajukan pertanyaan pada Malih. Sebuah pertanyaan yang prolognya sudah saya sampaikan melalui WhatsApp.

“Jadi menurutmu aku ikut itu atau nggak?”

“Terserah”, jawabnya

Jawaban Malih solutif sekali, ya. Hampir saja saya jejali mulutnya dengan cilok Korea. Kebetulan makanan itu sudah mendarat di meja bundar kami saat saya bertanya mengenai hal tersebut.

“Kalau dijawab terserah, ngapain gue nanya, Maleeeehhh??”

“Ya kalau kamu nggak niat mending nggak usah. Itu kan untuk jangka panjang juga.”

Akhirnya jawabannya mulai masuk akal. Sesungguhnya terserah adalah jawaban perempuan ketika malas ditanya, tapi ya tetap saja tidak terima jika tidak sesuai dengan keinginan yang sebenarnya.

Lalu, apa yang sesungguhnya saya tanyakan?

Bhaiiik. Saya ceritakan. Sekitar tahun 2013-2014, sewaktu masih menjadi mahasiswa di lingkungan yang begitu religius, saya mengagumi sesosok ustadz yang lebih sering berdakwah melalui media sosial. Bukan mengagumi, sih, tapi merasa bahwa semua yang dikatakan beliau adalah benar. Pada waktu itu, Instagram belum banyak dipakai orang seperti sekarang, maka beliau lebih banyak berdakwah melalui Twitter. Yaaaa…ketahuan deh beliau siapa~

Ketika itu saya amat rajin membagikan ulang isi Tweet-nya (Masih pakai akun @chawxyz yang sekarang sudah dihapus. Hihihiihi), bersemangat ketika beliau mampir dan mengisi kajian di dekat kampus, dan membaca buku-buku beliau. Saya kagum dengan bagaimana beliau hijrah, juga mengiyakan dengan ekspresi “Yha juga” pada setiap cara pandang yang ia gemakan. Maklum, lingkungan saya dulu adalah lingkungan yang lurus-lurus saja.

Tahun 2015, semakin hari saya merasa bahwa ideologi yang beliau gencarkan nampak halu. Terlebih saya tidak melihat adanya pergerakan nyata dari ormas yang kini sudah dibubarkan tersebut (Tapi bahaya juga sih kalau ada pergerakan nyata dari mereka. Pffftt). Maka dari itu, saya menganggap bahwa apa yang mereka yakini mustahil untuk diwujudkan dan ‘maksa banget’. Maafkan saya, Tadz.

Lalu, apa hubungannya dengan pertanyaan di awal? Pertanyaan tersebut sesungguhnya adalah pertanyaan untuk mengikuti diskusi intensif dari komunitas yang beliau support saat ini. Salah saya yang kurang mencari tahu sebelumnya karena ini hati terlalu kering semenjak tinggal di Jakarta lagi. Huhu. Saya butuh penyejuk yang lebih sejuk dari Adem Sari. Sebenarnya saya hanya takut ketika di tengah-tengah diskusi, lalu terselip materi tentang itu, saya malah malas dengarnya, lalu walk out.

Lucu juga kalau dipikir-pikir. Betapa hati mudah sekali berbolak-balik. Yang tadinya selalu dicari-cari, sekarang malah dihindari. Dari banyaknya informasi dan pemahaman yang masuk ke kepala, pada akhirnya hanya beberapa yang tetap tinggal. Sisanya ya berubah seiring waktu, tergantung dari apa yang dibaca dan dipelajari. Seringkali saya bertanya pada debu-debu di baling-baling kipas angin, “Mengapa harus terbagi menjadi banyak golongan?” Eh, debunya diam saja. Mungkin para debu juga pusing melihat manusia yang katanya saudara tapi saling sindir-menyindir.

Hati manusia itu lemah. Mudah berbolak-balik. Maka, semestinya peribahasa ‘Seperti membalikkan telapak tangan’ itu diganti dengan ‘Seperti hati yang berbalik’.

Yang tadinya suka menjadi benci.

Yang tadinya benci menjadi suka.

Yang tadinya rukun menjadi kacau.

Yang tadinya mendukung menjadi menikam.

Yang tadinya memilih Anies-Sandi tetapi sewaktu mereka melakukan sedikit kesalahan, eh ikut menghujat dengan lantang.

Ini hati atau apa. Atau memang iman saya saja yang lemah. Mbuh.

0

Terbuka

IMG_20161226_175920_223

 

Hari ini, meski rindu masih seringkali menyusup dalam lamunan, ia lebih banyak melebarkan bibir tipisnya. Tak ada gurat masam, pun amarah yang terpendam. Sudah lama sekali ia menutup diri, mengunci rapat seluruh memori.

Mulai hari ini, di antara kepulan asap hitam cerobong pabrik, ada hati yang mulai terbuka. Rupanya ia telah menyadari bahwa semakin ia menyembunyikan isi kepalanya, semakin sering pula mereka mengisinya dengan persepsi yang belum benar nyatanya. Semua yang mereka isi hanyalah dugaan, bukan fakta. Ia kini sadar dan tak rela.

Lalu, di antara truk-truk pengangkut barang, ia bertekad untuk menjadi ia yang apa adanya. Ia relakan isi kepalanya, compang-camping di hatinya, kepolosan tutur katanya, dan kejelekan tingkah lakunya dikenali oleh orang-orang di sekitarnya.

0

Digusur

Nek Minah sudah setengah jam duduk di teras rumah. Ditatapnya langit mendung di atas sana. Hujan barangkali akan turun sebentar lagi. Membanjiri sawah-sawah di sebelah rumah, mengairi parit yang juga tak jauh dari sana. Usia senja tak semestinya membuat Nek Minah banyak berpikir, tapi kenyataan bahwa sebentar lagi sawah-sawah beserta rumahnya akan segera digusur, membuat otaknya justru semakin sibuk.

Tanah itu memang milik Nek Minah, namun mereka rampas paksa untuk dijadikan bangunan yang hanya menguntungkan bagi orang-orang kota. Nek Minah tidak sendiri. Ada puluhan kepala lain yang diperkosa hak-haknya oleh penguasa daerah. Mereka kalah. Usaha mereka untuk memperjuangkannya berakhir sudah. Sejak berita keputusan itu tiba di telinga Nek Minah dua jam lalu, wajahnya memucat dan tatapannya begitu kosong. Barangkali ia terkejut. Barangkali ia sedih.

Ditatapnya langit mendung di atas sana. Hujan belum juga turun dari langit, tapi hujan di hati Nek Minah sudah turun sangat deras sedari tadi. Lelah menatap langit, ia kemudian berbaring di teras yang sejak 30 menit lalu ia duduki. Hembus napasnya kini lebih teratur. Pelan. Pelan. Pelan. Sampai akhirnya tak ada lagi napas yang ia hembuskan.

0

Tua-Tua

Ponsel di saku berdering ketika aku sedang menyapu halaman rumah kakek. Daun-daun kering pohon nangka berserakan bersama beberapa sisa bungkus makanan ringan yang dibuang tidak pada rumahnya. Tidak sedang ingin berbicara, kumatikan telepon dari seseorang di seberang sana. Ada dua alasan mengapa aku sedang tidak ingin berbicara. Pertama, aku memikirkan sikap kakek. Kedua, sikap kakek memaksaku untuk terus memikirkannya. Aku heran, mengapa semakin tua, manusia justru semakin terlihat seperti anak kecil? Kakek semakin bawel dan egois.

Kemarin aku bertengkar kecil dengannya perihal siapa yang akan memberi makan Luki, anjing kami. Luki harus diberi makan pukul 09.00 pagi setiap hari menurut kakek. Kau tentu tahu, aku sedang belajar di sekolah pada jam tersebut, tetapi ia menyuruhku pulang hanya untuk memberi seekor anjing kampung beberapa sosis untuk sarapan. Gila! Kakek masih sehat, umurnya belum genap 70, tapi mengapa harus aku yang melakukannya?

Di lain hari, ia bertingkah layaknya anak muda. Tante Ridah, tetangga kami yang baru saja menyandang gelar janda ditinggal mati, diajaknya bercinta di kebun pisang. Kalau saja warga tak mengingat bahwa kakek adalah mantan kepala desa, mungkin kini namanya hanya berupa batu nisan. Kesal aku. Umur tua itu memang pasti, tapi dewasa adalah pilihan. Tua itu dekat dengan mati, mbok ya dekatkan diri dengan Yang Maha Pemberi. Bukannya malah menjadi-jadi… Dasar tua-tua keladi!